header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
EDITORIAL4
Djoko Susilo

Djoko Susilo

Mulai menulis di blog, untuk menuangkan pemikiran-pemikiran pribadi saya sekedar melawan lupa dan berbagi cerita sekaligus mencatat jejak langkah kaki saya di ranah dunia maya. Blog ini juga saya maksudkan sebagai wahana untuk mendokumentasikan tulisan-tulisan saya sebelumnya yang tersebar di berbagai media.

Untuk berdiskusi atau sekedar meninggalkan jejak, silahkan tinggalkan komentar, pertanyaan dan saran di tulisan-tulisan saya tersebut. Komentar juga merupakan tempat untuk menyatakan ketidaksetujuan terhadap tulisan saya, sekaligus tempat hak jawab terhadap ketidaksetujuan tersebut.

Website URL:

Dubes Menjadi Salesman

DEBAT capres Jokowi melawan Prabowo Subianto Minggu malam (22/6) tentang masalah pertahanan nasional dan politik luar negeri cukup menarik. Pada sesi ini, capres Jokowi dipersepsikan kalah berpengalaman dari Prabowo. Namun, sebenarnya dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Jokowi sempat mengajukan ide yang menarik dalam kebijaksanaan luar negerinya. Yakni, menjadikan duta besar RI sebagai salesman, dengan porsi 90 persen kegiatan ekonomi dan hanya 10 persen urusan politik.

Mengubah Wajah KBRI

KETIKA saya tinggal di Washington DC sebagai koresponden Jawa Pos pada tahun 1988 sampai 1992, salah satu rasan-rasan paling populer yang beredar  dari mulut ke mulut di antara expatriat Indonesia di Amerika Serikat ialah: jangan berurusan dengan KBRI  kalau tidak sangat terpaksa. Pesan itu ternyata bukan hanya populer di Amerika, sebab ketika saya tinggal di Inggris antara tahun 1994 sampai 1998 pun keadaannya sama saja. Pendeknya, KBRI adalah  lembaga yang tidak populer, sama tidak populernya orde baru saat itu.

Rekonstruksi Kementerian Luar Negeri

TIDAK bisa dimungkiri, dalam lima tahun terakhir kebijakan Kementerian Luar Negeri RI dengan prinsip “one thousand friends and zero enemy”, telah banyak menimbulkan kebingungan, baik di kalangan internal korps diplomatik Indonesia maupun negara sahabat. Mungkin akibat prinsip zero enemy, berbagai pelanggaran serius sejumlah negara tidak ditanggapi dengan tepat, meski sudah menyinggung martabat dan harga diri bangsa Indonesia.

Subscribe to this RSS feed

Galeri Editorial