header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
EDITORIAL4
Daniel Dhakidae

Daniel Dhakidae

Daniel Dhakidae meraih gelar PhD (1991) di bidang pemerintahan dari Department of Government, Cornell University, Ithaca, New York, Amerika Serikat, dengan disertasi bertajuk “The State, the Rise of Capital, and the Fall of Political Journalism, Political Economy of Indonesian News Industry.”
Disertasi tersebut mendapat penghargaan the Lauriston Sharp Prize dari Southeast Asian Program Cornell University, karena telah “memberikan sumbangan luar biasa bagi perkembangan ilmu.” Meraih gelar Sarjana Ilmu Administrasi Negara dari Fakultas Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada (1975) dan Master of Arts bidang Ilmu Politik dari Cornell University (1987).
Selain menjadi Kepala Penelitian Pengembangan (Litbang) Kompas sejak 1994 sampai 2006, juga berkiprah sebagai redaktur majalah Prisma (1976); Ketua Dewan Redaksi Prisma (1979-1984); dan Wakil Direktur Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan, Ekonomi dan Sosial (LP3ES, 1982-1984). Pria kelahiran Toto-Wolowae, Ngada, Flores, 22 Agustus 1945, yang tercatat sebagai salah seorang pendiri Yayasan Tifa dan pernah duduk di Dewan Pengarah yayasan ini kemudian “menghidupkan” kembali jurnal pemikiran sosial ekonomi Prisma dan duduk sebagai Pemimpin Redaksi (sejak 2009) merangkap Pemimpin Umum (sejak 2011).
Banyak buku pernah ditulisnya antara lain Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru (2003) dan bersama Vedi Renandi Hadiz menyunting buku bertajuk Social Science and Power in Indonesia (2005).

Website URL:

Krisis Pengungsi: Lebih dari Sekadar Keramahan Jerman

EROPA mengalami krisis besar kependudukan, politik kependudukan, dan politik rasial. Krisis kependudukan ditandai oleh perpindahan penduduk besar-besaran dari suatu wilayah ke wilayah lain,  dalam hal ini dari Timur Tengah dan Afrika ke Eropa. Dalam satu tahun ke depan, Jerman akan dibanjiri oleh setidaknya 800.000 orang, Perancis 25 ribu, dan Inggris 20 ribu. Politik kependudukan ditandai oleh apa yang harus diperlakukan kepada sejumlah besar orang baru yang masuk ke wilayah sama sekali berbeda dari segi budaya—bahasa, agama, ideologi, dan lain-lain.

Di mana Bung Karno Lahir? Nusantara!

HANYA ibu kandung yang tahu persis di mana seseorang dilahirkan. Dalam spekulasi paling liar pun, bapak kandung bisa dikatakan tidak tahu persis di mana dan kapan anaknya lahir. Demikianlah dalam seluruh kontroversi tempat kelahiran Bung Karno; hanya ibunya yang tahu dan bisa memberikan kesaksian.

FIFA: Organisasi Permainan Paling Serius di Dunia

KETIKA pemilihan presiden FIFA diumumkan Jumat, 29 Mei 2015, malam waktu Zurich, Swiss, dan perbedaan suara 133:73 untuk Sepp Blatter, Pangeran Ali bin al-Hussein dari Yordania naik mimbar dan mengumumkan pengunduran dirinya dari pencalonan presiden FIFA serta tidak bersedia mengikuti pemungutan suara putaran kedua di mana pemenang harus memperoleh dua pertiga (140) suara dari 209 negara peserta kongres,. Hasil itu menutup semua kesempatan Pangeran Ali, seperti sudah diperkirakan. Blatter menjadi satu-satunya kandidat dan otomatis menjadi presiden FIFA terpilih. Itu tercatat sebagai pemilihan presiden paling singkat dalam sejarah FIFA. Joseph (Sepp) Blatter naik mimbar untuk kelima kalinya untuk memberikan inaugural speech dengan berkata: “Aku suka Anda. Anda semua telah mengembalikan aku ke FIFA. Aku tidak sempurna. Memang siapa yang sempurna?” Untuk sementara seluruh kontroversi tentang kepemimpinan FIFA bungkam.

Negeri Pertanian yang Meremehkan Pertanian

PADA hari Senin, 18 Mei 2015, untuk merayakan ulang tahunnya ke-70, HS Dillon, PhD, seorang ahli ekonomi pertanian tamatan Cornell University, Amerika Serikat, yang menghabiskan sebagian besar hidupnya membela kaum tani, membawakan sebuah orasi kebudayaan bertajuk “Kemiskinan-Kesenjangan: Perbuatan atau Pembiaran?” di Taman Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM) yang dihadiri ratusan orang dari segala lapis kaum terpelajar.

Subscribe to this RSS feed

Galeri Editorial