header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
Aboepriyadi Santoso

Aboepriyadi Santoso

Aboepriyadi Santoso, bermukim di Amsterdam, Negeri Belanda, adalah wartawan senior dan penulis. Pernah bekerja sebagai reporter, redaksi dan produsen berita pada Radio Netherlands Worldwide (1982-2007), dan menjadi koresponden lepas di Jakarta pada berbagai media (2007-2010). Tulisan dan laporannya sering dimuat The Jakarta Post, Tempo, Inside Indonesia, dan berbagai blog.

Website URL:

Aceh Pasca-Tsunami - Sebuah “Kapal Oleng”

PIDIE 2006. Di lahan perkebunannya yang luas di Gampong Lampoh Awe, tokoh itu berdiri memandang ke arah Selat Malaka. Saya ingat betul kata-katanya: “Ada ombak dari depan, ada angin dari samping, ada ribut di belakang. Kapten yang benar nggak perlu tahu omongan protes dan sebagainya. Nggak ada demokrasi di laut. Kapten punya hak, dua kali lagi ribut, tolak dia ke laut. Itu hukum dari Nabi Nuh. Kita jalan terus, kalau dia masih selamat kita ambil. GAM seperti kapal yang harus tetap menuju tujuan.” 

Kasus Charlie Hebdo: Ulah Migran di Negeri Voltaire

SI penjaga pompa bensin asal Aljazair di desa Villers-Cotteretsdekat bandara Charles de Gaulle itu ogah banget diwawancarai koran Le Parisien. “Aku tak tahu, aku tak peduli ulah mereka,” tukasnya tentang teroris-teroris yang membantai sepuluh redaktur dan dua agen polisi pada mingguan satire Charlie Hebdo. Lalu, dengan nada keras, dia mengumpat: “Dua belas mati?! Anda tahu berapa ribu orang mati setiap hari di Lybia, berapa ratus ribu di Suriah dan entah berapa lagi di tempat lain.”

Subscribe to this RSS feed