header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
EDITORIAL4
Tarli Nugroho

Tarli Nugroho

TARLI NUGROHO lahir di Ciparage, Karawang, 3 Mei 1981. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Teknologi Industri Pertanian (TIP), Fakultas Teknologi Pertanian UGM, melanjutkan studi di Program Pascasarjana Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian UGM. Mengampu mata kuliah Perekonomian Indonesia dan Ekonomi Pembangunan di Fakultas Ekonomi UP45 Yogyakarta.

Pernah menjadi peneliti sosial di Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM, kini peneliti di Mubyarto Institute (Mubins) Yogyakarta, anggota Dewan Redaksi Jurnal Ulumul Qur’an (Jakarta), dan Kepala P2M (Perhimpunan Pendidikan Masyarakat) Yogyakarta.

Menulis beberapa buku, antara lain, Potret Ekonom sebagai Si Malinkundang: Soal Etik dan Ekonomi-Politik Indonesia (2003), Ekonomi & Pembangunan dalam Nalar Kritis (2005), Indonesia Bergerak: Agenda Menuju Kebangkitan (2007), Melampaui Mitos & Logos: Pemikiran ke Arah Ekonomi-Baru (2007), Pembangunan Desa: Dari Modernisasi ke Liberalisasi (2008), Pusat Perbelanjaan sebagai Parasit Ekonomi (2008), Ensiklopedi Ilmu Pengetahuan Sosial Jilid 1-4 (2009), Pemikiran Agraria Bulaksumur: Sebuah Tinjauan Awal atas Pemikiran Sartono Kartodirdjo, Masri Singarimbun, dan Mubyarto (2010), dan Ekonomi Pancasila: Warisan Pemikiran Mubyarto
(2014).

Saat ini sedang menyunting dan menulis telaah panjang untuk beberapa buku
.

Website URL:

Ilusi Subsidi BBM?

RENCANA kenaikan harga BBM bersubsidi selalu diiringi propaganda klise mengenai subsidi salah sasaran. Persoalannya, apa dan bagaimana penetapan subsidi itu sendiri dari sisi biaya produksi tak pernah jelas perhitungannya. Misalnya, pemerintah telah menetapkan kuota subsidi BBM dalam APBN 2014 sebesar Rp 246,49 triliun untuk 46 juta kilo liter, terdiri dari bensin (Premium), solar (minyak diesel), serta minyak tanah (kerosene), dengan komposisi kuota (2013): 64 persen Premium, 34 persen solar, dan 2 persen minyak tanah.

Subscribe to this RSS feed

Galeri Editorial