header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
EDITORIAL4
Fachru N Bakarudin

Fachru N Bakarudin

Menyelesaikan pendidikan S1 di Departemen Filsafat Universitas Indonesia dan Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, S2 di Université Paris 10 Nanterre dan Ph.D di Maison des Sciences Economiques, Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne dengan judul disertasi “Proses Pembangunan dan Industrialisasi di Indonesia dan Perbandingannya dengan Cina dan India Periode 1945-2013”. Meraih penghargaan sebagai best dissertation dari AFIDES (Association Franco-Indonésien pour les Dévéloppement des Sciences) tahun 2013.

Pernah bekerja sebagai ekonom untuk kawasan Asia di OECD Development Centre, Paris, Prancis. Makalah diterima dan Narasumber dalam berbagai konferensi dan seminar internasional seperti African Program for Rethinking Development Economics, 55Bandung55 Conference, International Initiatives for Promoting Political Economy, International Input-Output Associations Conference, Energy Economics International Conference dan Indonesian Conference on Economic Development.

Buku yang sudah dipublikasikan: Pendekatan Ekonomi Heterodox. Publikasi internasional yang sudah diterbitkan: “Changement Politique Economique Institutionnel en Indonésie Période 1945-2013” (Marché et Organisation). Beberapa karya ilmiah yang akan dipublikasikan: “Profit Rate Analysis in Indonesia, China and India,” “Growth Regime Analysis in Indonesia, China and India,” “Liberalization and Its Impact on Structural Changes in Indonesia, China and India,” “Connectivity Analysis in Indonesia, China and India,” “Industrialization and Energy Savings Behaviour,” dan “Industrialization and Emissions Increase in Indonesia, China and India.”

Website URL:

Paket Ekonomi: Biasa di Tengah Keadaan Luar Biasa

ARAH Paket Kebijakan Tahap I September 2015 (Pakes) yang dikeluarkan pemerintah terkesan masih berkutat dengan “pasar” dan bukan menciptakan pasar. Berbagai ketidakberaturan ekonomi, seperti penurunan nilai tukar mata uang, harga minyak, dan komoditas internasional serta peperangan yang mendorong arus pengungsian masif semestinya membuat Pemerintah Indonesia mengambil langkah non-mainstream seperti Tiongkok yang mendevaluasi mata uangnya atau Yunani dan bahkan Jerman yang menerima imigran di tengah regulasi Eropa yang super ketat. Paket tersebut juga terkesan generik, meski pesan yang ingin disampaikan amat jelas, yakni deregulasi dan penghapusan hambatan agar dunia usaha dapat bergerak lebih cepat.

Kereta Cepat tanpa Industrialisasi

RENCANA pembangunan dan pengembangan kereta cepat sepertinya akan segera terwujud begitu pemerintah mengumumkan siapa pemenang proyek kereta cepat Jakarta-Bandung tersebut. Pilihannya ada dua: pihak Jepang atau Tiongkok. Begitu juga pembiayaannya ada dua, yaitu APBN atau BUMN. Meski belum secara resmi, pemerintah cenderung memakai  yang kedua dibandingkan yang pertama, sehingga proyek kereta cepat itu dapat terealisasi menggunakan skema business-to-business.

Paradoks Mesonasional

KINERJA ekonomi Indonesia sampai dengan akhir Triwulan II-2015 terlihat tidak terlalu mengesankan, meski pemerintah telah melakukan berbagai upaya mulai dari pembangunan infrastruktur hingga realokasi anggaran. Akibatnya, terjadi defisit neraca anggaran berjalan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, dan penyerapan anggaran yang rendah. Bagi para pelaku politik dan ekonomi, siklus pelambatan ekonomi itu merupakan tantangan utama yang harus dihadapi pemerintah saat ini.

Pajak dan Perubahan Prilaku Konsumsi Di Indonesia

Salah satu upaya meningkatkan pertumbuhan adalah dengan meningkatkan belanja negara yang bersumber kepada penerimaan pajak. Untuk itu, Grafik 1 memperlihatkan penerimaan pajak yang digenjot sejak tahun 2000 sehingga naik secara signifikan realisasi pajak di Indonesia hingga 2010. Grafik ini juga memperlihatkan bahwa kenaikan penerimaan realisasi pajak disertai dengan penurunan tingkat kecenderungan konsumsi di Indonesia sebagaimana didemonstrasikan oleh Grafik Kecenderungan Konsumsi Marjinal pada Grafik 1 di bawah ini.

Grafik 1: Realisasi Pajak dan Kecenderungan Konsumsi Marjinal di Indonesia, 2000-2015

Pajak dan Perubahan Prilaku Konsumsi Di Indonesia
Sumber: BPS

Apakah realisasi penerimaan pajak merubah gaya hidup di Indonesia? Grafik 2 di bawah menunjukkan Distribusi Pengeluaran Per Kapita Di Indonesia periode yang sama. Grafik 2 menjelaskan kenaikan komoditas publik seperti pengeluaran untuk Biaya Pendidikan dan Biaya Kesehatan, sedangkan pengeluaran untuk kebutuhan pokok mengalami penurunan seperti Daging, Sayur-sayuran, Ikan dan Telur Dan Susu. Grafik ini juga memperlihatkan pengeluaran untuk Perumahan, Bahan Bakar, Penerangan dan Air yang semakin besar.

Grafik 2: Distribusi Rata-Rata Pengeluaran Per Kapita Di Indonesia, Tahun 2000 dan 2010

Pajak dan Perubahan Prilaku Konsumsi Di Indonesia
Sumber: BPS

Grafik 3 memperlihatkan tingkat multiplier effect di Indonesia lebih besar dibandingkan di Tiongkok. Situasi ini menjelaskan tingkat konsumsi yang lebih besar pada setiap perubahan pendapatan di Indonesia. Kecenderung Konsumsi Marjinal Indonesia memang menurun, tetapi apabila dibandingkan dengan negara lain seperti Tiongkok, masih tetap lebih besar akibat banyak kebutuhan pokok yang belum terpenuhi, terutama untuk kebutuhan papan yang semakin mahal.

Grafik 3: Perbandingan Multiplier Effect di Indonesia and Tiongkok

Pajak dan Perubahan Prilaku Konsumsi Di Indonesia
Sumber: BPS

Subscribe to this RSS feed

Galeri Editorial