header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
EDITORIAL4
Anom Astika

Anom Astika

I Gusti Agung Anom Astika sempat mengikuti kuliah di Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (1988-1996).

Kuliahnya terhenti setelah rezim Orde Baru menjebloskannya ke dalam tahanan selama tiga tahun, karena aktivitas politiknya bersama Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Putra Bali yang lahir pada 7 Juni 1971 itu kembali melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, sejak 2005.
Sekarang, dia bekerja sebagai peneliti di Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI), serta menulis dan menerjemahkan beberapa buku untuk sejumlah penerbit.

Website URL:

Bursa Saham Tragedi Kemanusiaan

LEWAT tanggal 30 September, tepatnya 1 Oktober, publik negeri ini seolah sudah tidak lagi membicarakan segala hal terkait isu seputar tragedi kemanusiaan 1965. Sebelumnya, sejak awal Agustus 2015, wacana “1965” kembali mengudara terkait beredarnya isu bahwa Presiden Jokowi akan minta maaf, baik kepada keluarga korban pelanggaran HAM 1965 maupun beberapa kasus pelanggaran HAM berat lain yang terjadi semasa rezim Soeharto berkuasa.

Darurat Krisis Gaduh

CERITA tentang krisis kembali terulang dan penggunaan kata ataupun istilah “krisis” meluas, baik di media massa maupun media sosial. Asal-muasal kata itu memang berasal dari ranah ekonomi terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang berlangsung beberapa bulan terakhir. Lebih jauh lagi, cerita tentang “krisis” mulai serupa pengetahuan yang benar seiring bermacam pemberitaan tentang meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) yang mencapai 30.000 pekerja dalam dua tiga bulan terakhir; membubungnya harga bahan pangan; gulung tikarnya sejumlah usaha kecil, menengah, dan koperasi; serta meningkatnya angka kemiskinan di sejumlah daerah.

  • Published in Ulasan
  • 0

Mengawal Damai

HARI Minggu, 20 September, rakyat Indonesia turut merayakan Hari Perdamaian Internasional. Ada banyak kota tempat berlangsungnya peringatan itu. Ada banyak tema yang diusung di dalamnya.

Di Jakarta, peringatan tersebut diselenggarakan di dua tempat: Kompleks MPR/DPR/DPDdan Balai Kota Jakarta. Di lokasi pertama, tema yang diusung adalah Indonesia Bergerak Menyelamatkan Bumi atau Siaga Bumi.

Anamnesis Kuburan

ADA satu tradisi kenegaraan di Indonesia yang barangkali tidak banyak diketahui oleh masyarakat awam. Kalaupun tahu, tradisi tersebut tidak cukup kuat menancap di kesadaran mereka. Tradisi itu mungkin sudah diperkenalkan sejak masa remaja mereka, namun tidak  dengan sendirinya menjadi bagian dari jadwal aktivitas kultural masyarakat Indonesia. Itulah tradisi “renungan suci” malam tanggal 16 hingga dini hari 17 Agustus; serupa upacara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tujuan dari penyelenggaraan acara itu, terutama adalah untuk memperingati hari ulang tahun Republik Indonesia dan mengenang jasa para pahlawan kemerdekaan.

Subscribe to this RSS feed

Galeri Editorial