header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions

Gerakan Buruh dan Posisi Negara dalam Politik Perburuhan Tahun 1950-an

“Gerakan buruh di Eropa telah mengajarkan kepada kita bahwa inisiatif untuk menggulirkan langkah-langkah perbaikan kondisi sosial kelas pekerja tidak terletak pada negara atau pihak majikan, tetapi oleh kelas pekerja itu sendiri. Hal yang sama juga berlaku di negeri ini” (Laporan tandingan Kusumo Utoyo, Thamrin, dan Suroso; diambil dari buku John Ingleson, Buruh, Serikat, dan Politik Indonesia pada 1920an-1930an, diterjemahkan oleh Andi Achdian [Tangerang Selatan: Marjin Kiri, 2015]

Menggugat Keseimbangan antara Kerja dan Keluarga

Konstruksi Kerja Perempuan dalam Kapitalisme

Perempuan dan terutama para ibu rumah tangga telah dikonstruksikan secara patriarkal sebagai housewives dengan “kodrat” hidup di seputar reproductive work seperti mencuci pakaian dan mengurus anak. Konstruksi itu dimanfaatkan kapitalisme sebagai peluang untuk memajukan strategi akumulasi kapital dengan memanfaatkan rumah sebagai ruang kontestasi pembagian kerja secara gender yang paling kuat dan women’s work sebagai invisible work. Diskursus “work and family balance” pun mengemuka dan keberadaannya ternyata kian menyulitkan posisi perempuan dalam kapitalisme yang tak dapat dielakkan bersifat sangat patriarkal. 

Gerakan Buruh di Asia dalam Perubahan Rantai Nilai Global

Prolog

Dalam buku berjudul The Problem with Work: Feminism, Marxism, Antiwork Politics, and Postwork Imaginaries, Kathi Weeks—seorang feminis sosialis—mengemukakan bahwa kerja bersifat publik dan politis. Kerja bukan sekadar aktivitas/praktik ekonomi, melainkan aktivitas yang juga terintegrasi dalam lingkup sosial, politik, dan bahkan keluarga.[1]