header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions

Inekualitas Abad Ini, Posisi Perempuan dan Tantangan Kita

SEPANJANG sejarah umat manusia, abad ini adalah abad paling inekual (the most unequal century). Inekualitas telah mencapai taraf sangat memprihatinkan dengan para miliarder yang dikenal sebagai “one-percenter” (satu persen) dari populasi dunia menguasai 48 persen kekayaan global di tahun 2014. Sedangkan mayoritas 80 persen dari populasi dunia hanya menguasai 5,5 persen.

Feminisme, Transgenderisme, Indonesia dan Universalitas

SETIAP individu, baik laki-laki, perempuan, maupun transgender, pasti mempunyai impian dan cita-cita. Namun berbagai hal menghalangi para perempuan dan transgender untuk menjadi diri sendiri. (Beruntunglah para laki-laki.) Tuntutan sosial, terutama tekanan keluarga dan peer pressure, seringkali membuat pilihan hidup jadi terbatas. Juga adanya berbagai bentuk diskiriminasi dan persekusi yang dilakukan oleh negara baik yang didukung oleh hukum positif maupun oleh oknum-oknum negara.

Populasi, Iran dan Indonesia

ANTARA tahun 2050 hingga akhir abad ini, bumi akan dihuni oleh 10 miliar jiwa dan 70 persennya akan bermukim di lingkungan urban. Secara alami, banyak hal akan berubah secara drastis ketika populasi sebesar ini yang disebabkan oleh tekanan berlebihan terhadap lingkungan. Berbagai bentuk keadaan “darurat ekologi” akan menjadi semakin umum, termasuk bentuk-bentuk pengungsian yang disebabkan oleh iklim. Vanuatu, misalnya, negara pulau yang kini telah terbenam air laut melahirkan para “climate refugees” alias para pengungsi iklim.

Pergeseran Paradigma Perempuan

GLORIA Steinem pernah berkata bahwa gerakan-gerakan feminisme berfokus pada revolusi eksternal, sedangkan penggerak perubahan sesungguhnya berasal dari dalam diri alias “internal.” Ini menjawab mengapa gerakan-gerakan tersebut terkadang masih tampak “superfisial” alias hanya “di permukaan” saja. Kini kita telah berada di Gelombang Keempat Feminisme, di mana sinergi antar-gender sudah waktunya berjalan dalam lingkup spiritual-filosofis, bukan hanya fisik dan intelektual.

Feminisme, Maskulisme, Maskulinisme, dan Sinergi Gender

FEMINISME Gelombang Keempat mengimbau dan mendukung kerja sama sinergistik antar-gender. Gerakan feminisme membutuhkan laki-laki berperan aktif dalam membangun kultur yang bebas misogini dan seksisme. Sudut pandang ber-bias patriarki dalam hampir setiap aktivitas sebaiknya disadari penuh, sehingga berbagai struktur sosial, kultural, politik, dan hukum bisa direvisi sesuai perkembangan zaman.

Empat Gelombang Feminisme dan Mitos Kecantikan

FEMINISME” sebagai terminologi, konsep, filosofi, dan gaya hidup sering kali disalahartikan. Berbagai miskonsepsi tentang “feminisme” dan “seorang feminis” masih kerap dijumpai dalam masyarakat. 
Perspektif “feminisme” yang dipakai oleh masyarakat umum sering kali telah kedaluwarsa, seakan-akan para feminis adalah “pembenci laki-laki” dan peminta hak kesetaraan secara “kasar.” Padahal, feminisme sebagai “gerakan” telah melampaui beberapa gelombang dan yang diperjuangkan pun telah jauh bergeser. Masih ada satu lagi “mitos” yang menjadi penghalang kesetaraan yang lebih fair dan sinergistik antar-gender, yaitu “mitos kecantikan.”