header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions

Betapa Kartini Telah Terjinakkan

MENERJEMAHKAN sebuah karya tulis adalah mencari padanan kata, kalimat atau ungkapan bahasa yang digunakan untuk menuangkan karya itu ke dalam bahasa lain. Padanan di sini mensyaratkan persamaan yang setaraf, yang berimbang atau berbobot sama. Lebih dari itu, penerjemahan juga mensyaratkan pemahaman nuansa sebuah tulisan; terjemahan yang berhasil akan berhasil pula menerjemahkan nuansa sebuah karya, apalagi kalau karya itu berbobot sastra.

Surat2KartiniNuansa itulah yang sulit ditemukan pada terjemahan Sulastin Sutrisno atas surat-surat Kartini. Kartini menulis surat-suratnya dalam bahasa Belanda, dan Sulastin Sutrisno, guru besar filologi Universitas Gadjah Mada, menerjemahkan surat-surat itu pada dua buku, masing-masing Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan untuk Bangsanya, terbit 1979 dan Surat-surat kepada Nyonya R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, terbitan 1989. Buku terakhir lebih lengkap dari buku sebelumnya. Terjemahan Sulastin bisa saja benar kata per kata, tetapi sayangnya sang guru besar tidak begitu mementingkan bobot kata-kata pilihan Kartini. Tanpa nuansa, terjemahan surat-surat Katini menjadi berbelit-belit dan sulit dipahami, apalagi oleh pembaca zaman sekarang.

Bahasa Belanda Kartini bukan hanya sempurna dan tanpa satu pun kesalahan, lebih dari itu dia juga menulis dalam gaya sastrawi. Banyak orang Belanda terheran-heran membacanya: bagaimana mungkin seorang gadis Jawa yang hanya berpendidikan sekolah dasar Belanda, ditambah les privat bahasa Belanda, bisa menulis begitu sempurna, bergaya literer pula?

Sampai medio 1980-an, almarhum profesor Andries Teeuw, guru besar sastra Indonesia pada Universitas Leiden, berpendapat bahwa “tidak dapat tidak bahasa Belandanya disunting, disempurnakan dan disesuaikan dengan gaya khas literer oleh Tuan Abendanon yang bertanggung jawab atas publikasi surat-surat itu” (Teeuw, 1994: 103). Baru pada 1986 Profesor Teeuw “terpaksa meninggalkan praduganya” ketika membaca surat-surat asli tulisan tangan Kartini. Di situ didapatinya bahwa “tak sepatah atau setitik pun diubah oleh Abendanon.” Teeuw mengakui bahwa Kartini memang dengan sempurna menguasai dan memanfaatkan bahasa Belanda gaya khas itu—sesuatu yang sangat dikaguminya.

Esai ini akan berupaya menunjukkan kehebatan Kartini menulis dalam bahasa Belanda sastrawi. Selain itu, juga ingin ditilik seberapa jauh dalam menerjemahkan surat-surat Kartini, Sulastin Sutrisno juga memahami betapa luar biasa bahasa Belanda-nya. Satu hal yang segera tampak begitu orang membaca kata pengantar Sulastin adalah bahwa gaya bahasanya sangat berbeda dengan gaya bahasa Kartini.

Kartini adalah penulis bumiputra Hindia pertama yang berkarya dalam bahasa Belanda sastra. Tak ada penulis bumiputra lain yang mendahuluinya. Justru tak sedikit penulis yang mengikuti jejaknya, antara lain, dua saudara sepupu Pakualaman, yakni Noto Soeroto dan Soewardi Suryaningrat, yang terakhir ini kemudian dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara. Dalam pamflet berjudul Als ik eens Nederlander was (seandainya dalam sekejap saja aku ini orang Belanda, terbit 1913), Soewardi melanjutkan sinisme yang sudah dimulai Kartini ketika pada 1899 dari Jepara dia menulis “noem mij maar Kartini”, panggil saja aku Kartini.

Bagaimana harus menerjemahkan bahasa sastra Kartini? Itu bukan perkara gampang. Sebagai contoh, berikut kalimat kedua pada alinea pertama surat pembuka (tertanggal 25 Mei 1899) yang dikirim Kartini (1923: 1) kepada Stella Zeehandelaar: “Ik gloei van geestdrift voor de nieuwe tijd en ja, ik kan wel zeggen, dat wat denken en voelen betreft, ik den Indische tijd niet meeleef, doch geheel die mijner vooruitstrevende blanke zusters in het verre Westen.”

Terjemahan Sulastin (1985: 1): Hati saya menyala-nyala karena semangat yang menggelora akan zaman baru. Ya, bolehkan saya katakan, bahwa dalam hal pikiran dan perasaan, saya tidak turut menghayati zaman Hindia ini, tetapi saya sama sekali hidup sezaman dengan saudara-saudara saya perempuan berkulit putih di Barat yang jauh.

Terjemahan saya: “Aku membara terbakar hasrat zaman baru, dan ya, dapat kukatakan, tentang berpikir dan berasa, aku tak lagi hidup di Hindia, tetapi sepenuhnya bersama saudari-saudariku kulit putih yang berpandangan maju di Barat nun jauh di sana”.

Membaca terjemahan Sulastin kita layak bertanya, dari mana kata hati pada hati saya menyala-nyala? Kartini hanya menulis “ik gloei” yang saya terjemahkan menjadi “aku membara”; jelas tidak ada kata hati (bahasa Belanda hart) di situ. Maka terlihat bahwa dalam terjemahan Sulastin hanya “hati” Kartini yang menginginkan zaman baru, bukan lagi “pribadi” Kartini secara keseluruhan. Padahal, bukan itu yang tertera dalam surat kepada mejuffouw (nona) Zeehandelaar. Tak pelak lagi sudah pada kalimat kedua itu Kartini berubah menjadi tidak langsung, dia, dengan kata lain, telah disamarkan. Kemudian layak juga untuk bertanya mengapa gloei diterjemahkan sebagai “menyala-nyala” layaknya lampu saja?

Yang agak parah, ternyata Sulastin tidak menerjemahkan satu kata kunci: “vooruitstrevende” alias berpandangan maju. Kalau Kartini menulis mijner vooruitstrevende blanke zusters in het verre Westen (saudari-saudariku kulit putih yang berpandangan maju di Barat), maka menurut terjemahan Sulastin itu menjadi “saudara-saudara saya perempuan berkulit putih di Barat”. Dengan kata lain, dalam terjemahan Sulastin, Kartini berubah jadi menunjuk pada semua orang perempuan kulit putih di Barat, bukan hanya mereka yang berpandangan maju saja. Bagaimana ini mungkin? Terjemahan seperti itu telah menyebabkan tulisan Kartini kehilangan nalar, sehingga tidak masuk akal lagi.

Sebagai contoh lain bisa dikemukakan dua paragraf tentang agama, seperti tertera dalam surat kepada Stella Zeehandelaar tanggal 6 November 1899 (Kartini, 1923: 21):

Godsdienst is bedoeld als een zegen voor de mensheid, om een band te vormen tussen alle schepselen Gods. Allen zijn we broers en zusters, niet omdat wij dezelfde menselijke ouders hebben, maar omdat wij allen kinderen zijn van één Vader, van Hem, die daarboven in de hemelen troont. Broers en zusters moeten elkaar liefhebben, helpen, sterken, steunen. O, God, soms zou ik wensen, dat er nooit een godsdienst had bestaan. Want deze, die juist alle mensen tot één verenigen moest, is door alle eeuwen heen oorzaak geweest van strijd en verdeeldheid, van de bloedigste en gruwelijkste moordtonelen. Mensen van dezelfde ouders staan dreigend tegenover elkaar, omdat de wijze, waarop zij één en dezelfde God dienen, van elkaar verschilt. Mensen, wier harten door de tederste liefde met elkaar verbonden zijn, keren zich diep ongelukkig van elkaar af. Verschil van kerk, waarin toch dezelfde God wordt aangeroepen, richt een scheidsmuur voor beider voor elkaar luid kloppende harten.”

Is godsdienst wel een zegen voor de mensheid? vraag ik me zelf dikwijls twijfelend af. Godsdienst, die ons voor zonden bewaren moet, hoeveel zonden juist worden niet onder Uw naam bedreven!

Sulastin (1985: 18-19) menerjemahkan dua alinea di atas sebagai berikut:

Agama dimaksudkan sebagai berkah untuk kemanusiaan; untuk menciptakan pertalian antara semua makhluk Tuhan. Kita sekalian bersaudara bukan karena kita seibu-sebapa kelahiran manusia, melainkan oleh karena kita anak seorang Bapak, anak Dia, yang bertakhta di atas langit. Ya Tuhan, kadang-kadang saya berharap, alangkah baiknya, jika tidak pernah ada agama. Sebab agama yang seharusnya justru mempersatukan semua manusia, sejak berabad-abad menjadi pangkal perselisihan dan perpecahan, pangkal pertumpahan darah yang sangat ngeri. Orang-orang seibu-sebapa ancam-mengancam berhadap-hadapan, karena berlainan cara mengabdi kepada Tuhan Yang Esa dan Yang Sarna. Orang-orang yang berkasih-kasihan dengan cinta yang amat mesra, dengan sedihnya bercerai-berai. Perbedaan gereja, tempat menyeru Tuhan Yang Sarna, juga membuat dinding pembatas bagi dua hati yang berkasih-kasihan.

Betulkah agama itu berkah bagi umat manusia?, tanya saya kerap kali dengan bimbang kepada diri saya sendiri. Agama yang harus menjauhkan kita dari berbuat dosa, justru berapa banyaknya dosa yang diperbuat atas nama agama itu!

Terjemahan saya:

“Agama bertujuan memberi berkah bagi umat manusia, untuk membentuk ikatan di antara semua makhluk ciptaan Tuhan. Kita semua bersaudara, bukan karena kita berasal dari orang tua manusia yang sama, melainkan karena kita semua adalah anak bagi satu Ayah yang sama, Dia yang bertahta di sorgaloka. Kakak beradik harus saling menyayangi, saling menolong, saling memperkuat, saling membantu. Oh Tuhan, kadang-kadang aku ingin supaya agama itu tidak usah ada saja. Karena agama yang seharusnya menyatukan semua manusia, selama berabad-abad ternyata malah merupakan sebab bagi pertikaian dan perpecahan yang menyebabkan pembantaian paling berdarah-darah dan keji. Mereka yang memiliki orang tua yang sama saling mengancam satu sama lain, karena cara mereka berbeda dalam menyembah satu dan Tuhan yang sama itu. Hati mereka yang terkait kasih yang begitu lembut, berbalik dalam nestapa melawan satu sama lain. Perbedaan rumah ibadah, yang seharusnya menyembah Tuhan yang sama, telah menyebabkan tembok pemisah bagi kedua pihak, bagi kedua jantung yang sama-sama berdetaknya.”

“Adakah agama berkah bagi umat manusia? Begitu aku sering bertanya pada diri sendiri dengan penuh keraguan. Agama yang seharusnya menyelamatkan kita dari dosa—akhirnya harus berapa banyak dosa lagi yang dibuat atas namaMu?”

Setelah dua kalimat awal yang cukup bisa dimengerti (walaupun tidak tertutup kemungkinan ada yang mempertanyakan potongan “seibu-sebapa kelahiran manusia”), segera terlihat terjemahan Sulastin mengabaikan satu kalimat. Dia telah mengabaikan “Broers en zusters moeten elkaar liefhebben, helpen, sterken, steunen” yang saya terjemahkan menjadi, “Kakak beradik harus saling menyayangi, saling menolong, saling memperkuat, saling membantu.” Tentu kita bisa mencatat bahwa kalau dalam contoh pertama hanya satu kata yang tidak diterjemahkan, pada contoh kedua satu kata itu telah berkembang menjadi satu kalimat yang tidak diterjermahkan. Bagaimana ini mungkin? Mengapa pula itu terjadi?

Kalimat berikut juga tidak luput dari masalah karena Sulastin memasukkan dua kata, yaitu “alangkah baiknya” yang tidak ada pada kalimat asli Kartini. Di surat Kartini tertera O, God, soms zou ik wensen, dat er nooit een godsdienst had bestaan. Intinya, Kartini kadang-kadang berharap agama itu tidak ada saja, dan ini saya terjemahkan menjadi “Oh Tuhan kadang-kadang aku ingin supaya agama itu tidak usah ada saja.” Karena disisipkan “alangkah baiknya” yang tidak ada pada surat Kartini, maka harapan agama tidak ada ini seperti diutarakan secara tidak langsung, seolah-olah Kartini sendiri ragu-ragu, karena dia tidak langsung saja menuliskan keinginannya agama itu tidak ada saja. Kalimat berikut juga tetap bermasalah karena Sulastin tidak menerjemahkan “moordtonelen” yang saya terjemahkan sebagai “pembantaian”. Bahkan kata “pembunuhan” pun tidak digunakannya.

Lagi-lagi kalimat sesudah itu tidak juga bebas dari masalah, terutama pada penggalan “waarop zij één en dezelfde God dienen”. Taat pada penggalan itu, saya menerjemahkannya menjadi “menyembah satu dan Tuhan yang sama itu.” Sedangkan Sulastin dengan bombastisnya menulis, “mengabdi kepada Tuhan Yang Esa dan Yang Sarna.” Saya sebut bombastis karena bukan saja Sulastin menggunakan huruf besar untuk tiga kata lain selain Tuhan (dan itu tidak ada dalam tulisan asli Kartini), tapi terutama karena dia juga mengaitkan terjemahannya dengan corak politik yang bangkit di Indonesia jauh setelah Kartini menulis surat-suratnya.

Tak pelak lagi terjemahan Sulastin sangat mirip dengan rumusan Pancasila yang baru dikemukakan Bung Karno pada pidato tanggal 1 Juni 1945. Kartini menulis kalimatnya itu pada tanggal 6 November 1899, sangat jauh sebelum BK berpidato. Pantaskah terjemahan surat Kartini disamakan perumusannya dengan pidato BK? Menerjemahkan jelas bukan menulis pidato politik, menerjemahkan pertama-tama adalah mengalihbahasakan sebuah tulisan ke dalam bahasa lain dengan tepat dan teliti, jelas itu bukan berpolitik langsung.

Melihat terjemahan Sulastin yang pertama kali terbit pada 1979, layak pula disimpulkan bahwa proses penerjemahan itu berlangsung pada tahun 1970-an takala Orde Baru masih tegak berkuasa. Tidak terelakkan lagi Sulastin pasti juga dipengaruhi oleh ideologi rezim kanan bertangan besi yang sangat anti-komunis. Karena doktrin terpenting Orde Baru mengidentikkan komunisme dengan tidak bertuhan dan beragama alias kafir, maka penerjemahan Sulastin yang merujuk Pancasila itu menggiring seseorang pada pertanyaan berikut: Mungkinkah perumusan “Tuhan Yang Esa dan Yang Sama” itu bertujuan untuk menetralisasi keraguan Kartini terhadap agama? Kartini sepertinya sudah dikompromikan bukan saja dengan perumusan Pancasila Bung Karno,tetapi juga dengan ideologi anti-komunisme Orde Baru, padahal waktu Kartini menulis keduanya belum ada! Tidak lain perbuatan itu pantas disebut sebagai anakronisme.

Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa Kartini menulis suratnya pada akhir abad ke-19, persisnya pada 1899. Jangankan negara komunis, partai komunis saja pada waktu itu belum lahir di mana pun juga di dunia ini. Salah satu partai komunis paling tua lahir di Rusia pada tahun 1903 sebagai akibat perpecahan dalam tubuh partai sosial-demokrat dan partai komunis tertua itu memilih nama Bolsyewiki. Dengan demikian, mengait-ngaitkan harapan Kartini supaya agama tidak ada dengan komunisme jelas terlalu dicari-cari dan tidak pada tempatnya.

Salah satu kemungkinan yang lebih masuk akal adalah bahwa ketika menulis lagu Imagine, biduan John Lennon, yang waktu itu (1971) memulai karier solonya (menandai berakhirnya grup band the Beatles), sempat membaca surat ini. Bukankah himpunan surat-surat ini sudah terbit dalam bahasa Inggris (oleh penerbit Duckworth, London) pada 1921 dengan judul Letters of a Javanese Princess? Salah satu larik lagu Imagine berbunyi: “No religion too”, John Lennon, seperti Kartini sebelumnya, mengajak pendengarnya membayangkan agama itu tidak ada.

Patut dicatat keraguan terhadap agama, bahkan terhadap Tuhan merupakan sesuatu yang alami, terjadi pada banyak kalangan muda, apalagi seseorang yang berjiwa dan berpikiran bebas seperti Kartini. Bukankah sebelum itu dia sempat dipingit dan karenanya begitu mendambakan kebebasan?

Setelah sedikit keluar jalur dengan meninjau hal-hal yang mungkin dan jang tidak mungkin, baiklah kita kembali ke dua alinea surat Kartini yang sangat meragukan agama.

Untunglah, kalimat berikut pada terjemahan Sulastin tidak bermasalah. Akan tetapi, masalah kembali terlihat pada kalimat sesudah itu, ketika mendadak sontak Sulastin menggunakan kata “gereja.” Jelas terlihat dia telah secara harafiah menerjemahkan kata kerk yang memang berarti gereja. Tetapi dalam penggalan kalimat “Verschil van kerk”, Kartini jelas tidak bermaksud menunjuk pada gereja secara khusus. Di sini Kartini juga tidak berbicara tentang agama nasrani atau rumah ibadahnya. Dalam menulis kerk dia jelas ingin menunjuk pada rumah ibadah secara umum. Itu juga merupakan cara orang dan bahasa Belanda pada abad ke-19 untuk menunjuk rumah ibadah. Dengan kata lain, terjemahan Sulastin yang menyebut “kerk” sebagai “gereja” jelas keliru. Dia melakukannya terlalu harafiah, tanpa memperhatikan konteks zaman dan nuansa surat itu. Lebih tepat menerjemahkan potongan kalimat itu sebagai “perbedaan rumah ibadah” tanpa perlu menunjuk rumah ibadah agama tertentu.

Sepintas, penerjemahan alinea kedua soal agama tidak bermasalah separah alinea pertama. Akan tetapi, selain tidak ada kata atau kalimat yang dilewati dan tidak ada pula kata atau kalimat yang ditambahkan (padahal kata tersebut tidak ada pada versi asli Kartini), bukanlah berarti di sini tidak ada masalah. Kalau ditinjau lebih lanjut, segera terlihat bahwa Sulastin tidak sepenuhnya memahami Kartini. Bahkan, dia telah melewatkan keluarbiasaan Kartini dalam berbahasa Belanda. Begini duduk masalahnya:

Pada kalimat terakhir alinea itu, Kartini bertanya hoeveel zonden juist worden niet onder Uw naam bedreven! Yang penting adalah kata Uw naam yang berarti namaMu, penggunaan huruf kapital ini jelas mengisyaratkan Tuhan. Bahasa Belanda menyebut agama sebagai godsdienst, God (selalu dengan huruf besar) berarti Tuhan dan dienst berarti melayani atau menyembah, dan bisa juga berbakti, maka secara harafiah godsdienst (yang digabung kemudian masih ditambah huruf “s” tapi tidak lagi menggunakan huruf kapital) berarti melayani, menyembah, atau berbakti kepada Tuhan. Di sinilah terlihat kemahiran Kartini dalam berbahasa Belanda. Di satu pihak dia menyebut agama seharusnya membebaskan orang dari dosa (Godsdienst, die ons voor zonden bewaren moet), tetapi kemudian Kartini mengarahkan penggalan kalimat sesudah itu kepada Tuhan dengan menulis hoeveel zonden juist worden niet onder Uw naam bedreven yang artinya, “harus berapa banyak dosa lagi yang dibuat atas namaMu.” Itu berarti bahwa pada penggalan kedua ini Kartini telah memisahkan God (Tuhan) dari dienst (menyembah). Dengan kata lain, tatkala menyembah (atau berbakti kepada) Tuhan (menulis godsdienst) dia kemudian bertanya berapa banyak lagi dosa yang dibuat atas nama Tuhan? Betapa di sini jelas Kartini benar-benar berhasil tampil sebagai seorang penutur asli! Virtuositas bahasa atau kemahiran berbahasa seperti itulah yang dikagumi oleh orang Belanda. Orang Belanda, seperti Profesor Teeuw, begitu terpana membaca kecerdasan dan ketajaman Kartini dalam menggunakan bahasa yang sebenarnya bukan bahasa ibunya ini.

Masalahnya memang dalam bahasa Indonesia agama tidak mengandung kata Tuhan. Akan tetapi, sebagai penerjemah seharusnya Sulastin tetap awas. Jadi, patut disayangkan ketika dia tidak melihat hal yang luar biasa itu. Paling sedikit dia seharusnya bertanya-tanya mengapa pada bagian kedua kalimatnya Kartini tiba-tiba menggunakan Uw dan itupun dalam huruf kapital. Dengan tidak memedulikan hal yang sungguh istimewa itu, Sulastin justru mengabaikan sama sekali kemahiran Kartini. Tidak muncul kata Tuhan dalam terjemahannya, begitu pula Sulastin juga mengabaikan saja makna huruf besar U, pada Uw. Itu jelas berarti bahwa Sulastin tidak paham tulisan Kartini, tidak paham kehebatan bahasa Belanda Kartini.

Sebenarnya, Sulastin bisa terluput dari kesalahan besar itu kalau dia memperhatikan nuansa kalimat Kartini, dan ini berarti dia akan tetap menerjemahkan Uw yang ditulis dalam huruf kapital itu. Mudah-mudahan sampai di sini jelas bahwa Sulastin memang sudah mengabaikan nuansa. Dia bahkan telah melakukan penafsiran terhadap tulisan Kartini dan tidak menerjemahkan seperti apa adanya.

Terhadap tidak diterjemahkannya kata “vooruitstrevende” seperti terlihat pada contoh pertama, Profesor Teeuw menyebutnya sebagai “kecerobohan kecil.” Akan tetapi, pada contoh kedua yang dengan jelas menunjukkan bahwa Sulastin tidak menerjemahkan satu kalimat, menjadi sulit untuk tetap mempertahankan istilah almarhun guru besar Leiden yang begitu murah hati itu. Ditambah kesalahan menerjemahkan “kerk” serta pengabaian kemahiran berbahasa Kartini, tepatkah semua itu hanya disebut “kecerobohan kecil” belaka?

Apa pun julukannya, yang jelas hasil terjemahan Sulastin telah membuat Kartini berwajah lain. Kartini kehilangan greget, kehilangan gelora, kehilangan tekat yang begitu membara. Kartini menjadi tidak langsung, bahkan berbelit-belit dan lebih berjarak. Kartini jelas kehilangan jiwa bebasnya dalam terjemahan Sulastin itu, bahkan kehilangan logika. Memang Sulastin menghindari kata-kata modern, seperti korespondensi, pretensi atau bahkan kata “Anda” yang belum lahir ketika Kartini menulis. Mungkin inilah sebabnya terjemahan Sulastin terasa menggunakan bahasa yang sudah ketinggalan zaman. Akan tetapi, dengan terjemahan yang begitu jinak, bahasa Kartini jelas sudah bukan lagi bahasa sastrawi, seperti tulisan asli karyanya.

Kartini sendiri tidak begitu gemar membaca terjemahan. “Walaupun terjemahan itu sudah begitu baik, tidak mungkin dia bisa seindah aslinya,” begitu tulisnya. Ketika nyaris tidak ada lagi publik pembaca Indonesia yang mampu membaca bahasa Belanda, penerjemahan kembali surat-surat Kartini menjadi pilihan yang mendesak, walaupun penulisnya sendiri tidak begitu suka terjemahan. Penerjemahan kembali akan berkesempatan pula untuk menyesuaikan bahasa Kartini dengan bahasa zaman sekarang.

Siapa berani menghadapi tantangan ini? Adakah penerbit yang bernyali untuk menerbitkan kembali surat-surat Kartini dalam wajah aslinya yang jelas berbeda dari wajah yang sejauh ini diketahui umum?

Amsterdam, Kampung de Jordaan, Musim Semi 2017

Rujukan

RA Kartini. 1921. Letters of a Javanese Princess, (translated from the original Dutch by Agnes Louis Symmers), London: Duckworth & Co.

RA Kartini. 1923. Door duisternis tot licht, gedachten over en voor het Javaansche volk. Cetakan keempat. ‘s-Gravenhage: N.V. Eletr, Drukkerij “Luctor et Emergo.

Kartini. 1985. Surat-surat Kartini: Renungan tentang dan untuk Bangsanya, penerjemah Sulastin Sutrisno.Cetakan ketiga. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Kartini. 1987. Brieven aan mevrouw RM Abendanon-Mandri en haar echtgenoot met andere documenten, bezorgd door F.G.P. Jaquet, Dordrecht: Floris Publication. ISBN 90 6765 225 3

Kartini. 1989. Surat-surat kepada RM Abendanon-Mandri dan Suaminya, penerjemah Sulastin Sutrisno. Jakarta: Penerbit Djambatan. ISBN 979 428 127 1

A Teeuw. 1994. “Kartini dalam Bahasa Indonesia”, dalam Indonesia antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Jakarta: Pustaka Jaya, hal. 103-141.

 (Versi awal esai ini terbit di MBM Tempo edisi 24-30 April 2017, hal. 78)

Write a comment...
awesome comments!
Joss Wibisono

Joss Wibisono ialah penulis dan peneliti lepas yang menetap di Amsterdam, Negeri Belanda. Tulisannya terbit pada pelbagai media Tanah Air, seperti Tempo, Koran Tempo, Historia, dan Suara Merdeka (Semarang). Menerbitkan sejumlah buku, antara lain,  Saling-Silang Indonesia Eropa (non-fiksi 2012), Rumah Tusuk Sate di Amterdam Selatan (kumpulan cerpen, 2017) dan Nai Kai: Sketsa Biografis (novel pendek, 2017).