header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
EDITORIAL4

Antara Israel dan Jokowi

  • Written by AK
  • Published in Editorial

SAAT menerima kehadiran delegasi wartawan senior Indonesia di Jerusalem (Senin, 28 Maret 2016), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyinggung—sekaligus menyerukan—pembukaan hubungan diplomatik Israel-Indonesia. Peristiwa itu memunculkan dua bentuk respons di dalam negeri. Pertama, di media sosial muncul serangkaian komentar kritis terhadap kehadiran delegasi wartawan Indonesia di kantor Benjamin Netanyahu. Kedua, sebagian politikus di Senayan menggarisbawahi seruan pembukaan hubungan diplomatik itu sebagai strategi Israel menghadapi sikap Presiden Joko Widodo dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa ke-5 Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), di Jakarta, 6-7  Maret 2016, yang menyerukan boikot produk-produk Israel. 

Baik pelaksanaan KTT OKI di Jakarta maupun kedatangan delegasi wartawan Indonesia di Jerusalem sesungguhnya berada dalam rentang waktu relatif pendek. Tidak sampai sebulan, kedua peristiwa itu berlangsung dan sekaligus mewarnai wacana publik di Tanah Air berkenaan dengan dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina. Tampak jelas sikap Presiden Joko Widodo, KTT OKI Jakarta diperlakukan sebagai sebuah ruang waktu yang bermatra strategis dengan gaung internasional untuk menekan Israel demi terwujudnya kemerdekaan bangsa Palestina. Walaupun belum terlalu jelas substansi boikot yang dimaksud Presiden Jokowi, Israel menanggapi seruan itu sebagai masalah yang tidak sederhana. Itulah sebabnya, melalui delegasi wartawan Indonesia yang datang ke Jerusalem, Netanyahu menitipkan tawaran yang diproyeksikan elegan: pembukaan hubungan diplomatik Indonesia-Israel.

Terlepas dari lontaran kritik, bahkan caci-maki, di media-media sosial terhadap pertemuan antara Netanyahu dan delagasi wartawan Indonesia, “perjumpaan di Jerusalem” itu menarik dibaca secara semiotik. Sebagaimana diketahui, Israel sejak lama mempersetankan segala seruan ke arah perwujudan kemerdekaan bangsa Palestina. Berlarut-larutnya kemelut penguasaan wilayah Palestina oleh tentara pendudukan Israel berdampak nyata pada munculnya serangkaian ancaman beberapa negara Arab atau negara-negara lain di dunia pendukung kemerdekaan Palestina. Namun, seolah membenarkan adagium “anjing menggonggong kafilah berlalu”, perang kata-kata para pemimpin politik dunia sama sekali tak digubris Israel. Tidak demikian halnya dengan seruan boikot yang dilontarkan Presiden Jokowi dalam KTT OKI di Jakarta. Israel tampaknya menyimak secara saksama.

Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq, misalnya, menggarisbawahi bahwa Pemerintah Israel kini sesungguhnya risau menghadapi sikap Presiden Jokowi tentang Palestina. Seruan boikot terhadap produk-produk Israel agaknya menyentak kesadaran Netanyahu untuk tidak memandang remeh ucapan Jokowi. Karena itu, sangat bisa dipahami jika kemudian di hadapan delegasi wartawan senior Indonesia tersuguh jelas “pesan Jerusalem” tentang urgensi hubungan diplomatik Indonesia-Israel. Melalui gelar pertemuan tersebut, Israel jelas tengah melakukan lobi untuk membuka hubungan diplomatik dengan Indonesia. Pada titik itu pula Mahfudz Siddiq menyarankan agar Presiden Jokowi konsisten berpegang teguh pada UUD 1945 yang menolak penjajahan Israel atas Palestina.

Namun, di atas segalanya, menarik untuk mencerna pernyataan langsung Perdana Menteri Netanyahu, persis sebagaimana dilansir israelforeignaffairs.com. Dalam laman resmi Israel itu, Netanyahu mengatakan, Israel has excellent relations with several countries in Asia, particularly China, Japan, India and Vietnam. In addition, Israel is also deepening its relations with Africa, Latin America and Russia. Relations with the Arab world are also changing.

Apa yang tersurat dan tersirat dalam pernyataan Netanyahu itu adalah outstanding Israel dalam hubungan antar-bangsa di dunia abad ke-21 kini. Di satu sisi, perluasan hubungan Israel dengan banyak negara di dunia dimengerti sebagai keniscayaan tak terelakkan dan tak terbantahkan berdasarkan semangat simbiosis mutualistis. Tak pelak, Israel terdesak oleh realitas baru hubungan antar-bangsa melalui kelihaian membangun konsensus dengan hubungan diplomatik sebagai manifestasinya. Di sisi lain, tanda-tanda tidak menyurutnya hegemoni Israel atas wilayah pendudukan di Palestina justru kontras dengan outstanding bersahabat baik dengan banyak bangsa di dunia. Itulah sesungguhnya ambivalensi sikap antara menghadapi tantangan eksternal hubungan antar-bangsa di dunia dan sikap keras terhadap bangsa Palestina.

Pembacaan terhadap pernyataan Netanyahu itu justru menunjukkan keberadaan Israel sekarang ini yang sadar diri untuk sepenuhnya berkhidmat pada strategi ganda merawat kepentingan nasional (the national interest) Israel. Terhadap dunia internasional, Israel berusaha tersenyum ramah. Akan tetapi, khusus terhadap Palestina, Israel tetap menghardik dan tampil berwajah garang. Presiden Jokowi dituntut piawai menghadapi kenyataan itu, dan semakin relevan bila kemerdekaan Palestina dijadikan prasyarat pembukaan hubungan diplomatik Israel–Indonesia.[AK]***

Write a comment...
awesome comments!

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Galeri Editorial