header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
EDITORIAL4

Tantangan Pendidikan Kemaritiman

  • Written by AK
  • Published in Editorial

HAMPIR tak ada silang pendapat yang menonjol berkenaan dengan format pendidikan kemaritiman. Sampai kapan pun, edukasi kemaritiman bersifat vokasional (kejuruan).  Pemahaman terhadap segala aspek kemaritiman menjadi relevan manakala diupayakan melalui pendidikan kejuruan dengan penekanan sangat kuat terhadap penguasaan aspek-aspek praktis kemaritiman. Arti penting teori, pendekatan, dan aksioma, berada dalam kerangka pendukung demi memperkuat penguasaan aspek aspek-aspek praktis kemaritiman. Dalam konteks tata kelola berbagai sumber daya kelautan, proses penyiapan sumber daya manusia bermutu tinggi akan sangat efektif melalui pendididikan vokasional. 

Namun demikian, kesepahaman tentang edukasi yang niscaya bercorak vokasional itu, bukan berarti telah mengondisikan pendidikan kemaritiman di Indonesia sepenuhnya bebas dari belitan masalah. Meski sasarannya juga jelas, yaitu mencetak tenaga-tenaga profesional untuk mengelola bidang kemaritiman, namun pertanyaan mendasar yang kemudian mencuat adalah: pendidikan kejuruan dengan format bagaimana, sehingga edukasi kemaritiman tepat dan sekaligus berdaya guna mengelola sumber daya laut secara bermartabat dalam jangka panjang?

Secara kategoris, edukasi kemaritiman di Indonesia mencakup jenjang pendidikan sekolah usaha perikanan menengah, politeknik, dan sekolah tinggi perikanan. Yang pertama setara dengan sekolah menengah kejuruan, sedangkan yang kedua dan ketiga setara dengan perguruan tinggi. Bila hendak mengetahui apa dan bagaimana edukasi kemaritiman bercorak vokasional dalam konteks Indonesia saat ini, tengoklah jenjang-jenjang pendidikan tersebut. Di situ dapat ditemukan dinamika edukasi kemaritiman yang diasumsikan sesuai dengan realitas Indonesia. Masalahnya hingga kini, edukasi kemaritiman tak pernah sepi menuai kritik yang mempersoalkan perihal rendahnya kompetensi lulusan yang dihasilkan.

Situasi dan perkembangan zaman kini melahirkan tuntutan baru bahwa kemaritiman memiliki cakupan luas berkenaan dengan tata kelola kelautan sekaligus perikanan. Sebagai sistem tata kelola sumber daya yang terberi (given) oleh anugerah alam—yang dalam konteks Indonesia melimpah ruah—kemaritiman tak hanya bersangkut paut dengan perikanan atau tata kelola sumber daya perikanan. Sumber daya lain non-perikanan yang tersedia secara luas di lautan masuk ke dalam cakupan kemaritiman. Jika semua itu diproyeksikan dalam proses pembelajaran, maka pendidikan kemaritiman bertautan erat dengan segala dimensi sumber daya kelautan, baik hayati maupun non-hayati. Dengan demikian, pendidikan kemaritiman berada dalam satu titik yang sangat kompleks.

Hal mendasar yang kemudian layak dicatat adalah cara pandang pemerintah terhadap arti penting pendidikan kemaritiman. Rendahnya kompetensi lulusan pendidikan kemaritiman dipahami secara sempit sebagai persoalan kurikulum an sich. Karena itu, amat sangat wajar bila rancangan peningkatan mutu pendidikan kemaritiman terus-menerus berpijak pada logika link and match (“keterkaitan dan kesepadanan”) antara dunia pendidikan dan industri. Rendahnya kompetensi lulusan edukasi kemaritiman ditakar secara sempit sebagai kesesuaian dengan perubahan kebutuhan ketenagakerjaan dalam dunia industri. Serangkaian perubahan kurikulum lantas melulu terfokus pada upaya pemenuhan logika link and match.

Revitalisasi edukasi kemaritiman mustahil dikerucutkan pada persoalan kurikulum semata. Kurikulum hanyalah salah satu pilar dalam keseluruhan rancang bangun edukasi kemaritiman yang bermutu. Dua pilar yang lain justru kini mendesak untuk segera direvitalisasi.

Pertama, tata kelola kemaritiman bangsa Indonesia sesungguhnya telah terakumulasi selama ratusan tahun—atau bahkan ribuan tahun—membentuk khazanah kearifan hidup manusia yang bersenyawa dengan lautan. Faktor objektif berupa bentangan geografis Nusantara yang memang kepulauan membuat Indonesia menjadi bangsa bahari tiada tara di Planet Bumi. Diakui atau tidak, eksistensi Indonesia sebagai bangsa tercipta bersama jajaran pulau-pulau di lautan. Kini, khazanah kearifan hidup bangsa bahari itu mendesak diberi makna kembali secara cerdas dan bijaksana berbasis kemajuan teknologi mutakhir. Melalui proses edukasi kemaritiman, khazanah kearifan hidup nenek moyang kita yang pelaut dielaborasi ulang untuk menemukan makna lautan bagi daya saing Indonesia sebagai bangsa berdaulat.

Kedua, lautan telah sedemikian rupa membentuk skema-skema kultural dalam struktur kesadaran manusia Nusantara secara lintas generasi. Penghayatan terhadap makna lautan sebagai sumber kehidupan terabadikan dalam senarai penceritaan tentang keberanian mengarungi samudera, teknik pembuatan kapal, penguasaan terhadap ilmu perbintangan, hingga lahirnya karya-karya seni dan sastra yang merapartoarkan lautan sebagai inspirasi estetik. Kesadaran kultural itu merupakan pijakan dasar bagi pendidikan kemaritiman untuk mempedagogikan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat berbasis pengelolaan secara benar, lautan.[AK]***

Write a comment...
awesome comments!

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Galeri Editorial