header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
EDITORIAL4

Batas Beku Amerika Serikat–Kuba

  • Written by AK
  • Published in Editorial

SEJAK pengujung dasawarsa 1950-an, hubungan diplomatik Amerika Serikat (AS) dan Republik Kuba membeku. Namun, kini, hubungan dua negara bertetangga itu mulai mencair, meski tak sepenuhnya pulih. Minggu hingga Selasa, 20–22 Maret 2016, Presiden Barack Obama berkunjung ke Havana, Ibu Kota Kuba. Presiden Obama melakukan sejumlah pembicaraan dengan para pemimpin politik Kuba dengan sambutan resmi dari Presiden Kuba Raul Castro, bertemu dengan eksponen penentang Fidel Castro dan Raul Castro, berpidato politik di televisi, melakukan sejumlah aktivitas kemasyarakatan, tur keliling Kota Tua Havana, serta menonton pertandingan baseball–yang menghadirkan klub terkenal AS Tampa Bay Rays melawan tim baseball nasional Kuba. Selama 88 tahun terakhir, Obama adalah presiden pertama AS yang menginjakkan kaki di Kuba. 

Sebagaimana diketahui, konflik politik AS-Kuba mencapai titik puncak pada 1959-1962. Semula kawan kemudian berubah menjadi lawan. Itu merupakan konsekuensi logis dari Revolusi Kuba 1959 di bawah pimpinan Fidel Castro yang menumbangkan rezim diktator Fulgencio Batista y Zaldívar dukungan Washington. Bertumpang tindih dengan ancaman penggunaan bom nuklir dalam Perang Dingin blok Barat (pimpinan AS) versus blok Timur (pimpinan Uni Soviet) selama 1947-1991,  sangat terasa aura perseteruan AS-Kuba. Selama kurang lebih setengah abad, AS-Kuba benar-benar menapaki labirin waktu penuh ketegangan.

Aksi dramatis anti-Kuba yang digelorakan AS mencapai klimaksnya pada 17-19 April 1961. Orang-orang Kuba penentang Fidel Castro di pengasingan berhimpun membentuk pasukan militer dan kemudian menginvasi ke Teluk Babi, selatan Kuba. Invasi itu dibiayai AS dan sekaligus merupakan bentuk penolakan paling telanjang. Berdasarkan alasan geopolitik dan geostrategis, AS mendukung penolakan terhadap kekuasaan Fidel Castro. Di bawah kekuasaan Fulgencio Batista y Zaldívar selama 1952-1959, politik luar negeri Kuba pro-AS, namun kemudian bergeser menjadi pro-Uni Soviet setelah Kuba berada di bawah kekuasaan Fidel Castro.

Secara substansial, gebrakan Obama mengakhiri apa yang selama ini disebut heralded decades of hostility antara AS dan Kuba. Obama seolah hendak mengatakan kepada bangsa dan negaranya bahwa selalu ada batas akhir beku dalam rentang hubungan AS-Kuba. Batas beku itu adalah sekarang, sehingga mutlak terjadinya pencairan hubungan diplomatik antar-dua negara. Apalagi, faktor global Perang Dingin telah lama tamat. Sementara Uni Soviet sebagai paramount di jajaran blok Timur juga sudah bubar dan terbenam dalam pusara sejarah. Kaerena itu, bagi Obama, tak ada kesahihan rasionalitas mempertahankan kebekuan hubungan diplomatik antara AS dan Kuba.

Sejak 2015, Obama berupaya merealisasi sungguh-sungguh pencairan hubungan AS-Kuba. Tidak tanggung-tanggung, AS pun membuka kantor kedutaan besar di Havana. Tatkala akhirnya orang-orang berjajar di jalanan Havana dengan mengibarkan bendera-bendera kecil Kuba dan AS untuk menyambut kedatangan Obama, maka itulah penanda terjadinya–menurut laman BBC–a huge turn around in US—Cuban relations. Sejarah hubungan diplomatik kedua negara telah sedemikian rupa berbalik arah: lawan kembali menjadi kawan. Bahkan, Obama menggambarkan kehadirannya ke Kuba itu sebagai a vision for future that is brighter than our past.

Hal yang menarik disimak dari upaya Obama mencairkan kembali hubungan AS-Kuba adalah pembelajaran dalam konteks artikulasi kepentingan nasional AS di dunia. Dari jejak-jejak sejarah, dia membaca fakta bahwa orientasi politik AS dan Kuba memang berbeda. Mustahil meniadakan perbedaan itu. Sejak Revolusi 1959, Kuba memilih menjadi negara berideologi komunis. Dalam konteks waktu akhir dasawarsa 1950-an, ideologi kenegaraan Kuba besimpang jalan dengan ideologi kapitalis-liberal AS. Kegusaran dan kegeraman AS terhadap Kuba pun bertaut momentum dengan kecamuk Perang Dingin (Cold War).

Situasi dunia dan konstelasi hubungan antar-bangsa telah berubah sejak berakhirnya Perang Dingin. Perbedaan ideologi kenegaraan antara AS dan Kuba lantas mutlak dikembalikan pada eksistensi masing-masing negara sejalan dengan asas kebebasan memilih Weltanschauung. Tak ada relevansi lagi bagi sebuah negara berideologi kapitalis-liberal mengusik keberadaan negara berideologi komunis. Jika AS bisa dan mampu berkompromi dengan Republik Rakyat Tiongkok—juga berideologis komunis—mengapa pula tidak bersikap sama terhadap Kuba?

Dalam konteks Obama, kepemimpinan nasional AS lebih memilih eksistensi ketimbang esensi. Walaupun harus berhadapan dengan suara penentangan keras di parlemen dari kalangan Partai Republik, Obama menunjukkan kepada dunia bahwa sesungguhnya kebekuan hubungan antar-bangsa selalu ada batas-batasnya. (AK)***

Write a comment...
awesome comments!

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Galeri Editorial