header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
EDITORIAL4

Negara Paling Bahagia

  • Written by AK
  • Published in Editorial

RILIS terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang World Happiness Report 2016 memosisikan negara-negara Skandinavia—Denmark, Swedia, Norwegia, dan Finlandia—berada di puncak tertinggi negara paling bahagia di Planet Bumi. Dari 157 negara sasaran riset yang tercakup dalam World Happiness Report 2016, Indonesia berada di peringkat 79. Negara-negara dengan perekonomian paling mencolok dewasa ini seperti Tiongkok dan India, masing-masing berada di peringkat 83 dan 118. Negara-negara dengan establishment perekonomian terpenting di Eropa dan Asia, yakni Jerman dan Jepang, masing-masing berada di peringkat 16 dan 53. Dua raksasa perekonomian Benua Amerika, yakni Amerika Serikat dan Brasil, masing-masing menduduki peringkat 13 dan 17. 

Penanda sebuah negara disebut bahagia adalah terbentuknya serta menguatnya good society. Kegagalan pemerintah mewujudkan good society merupakan dasar penilaian rendahnya derajat kebahagiaan suatu negara secara internasional. Pakar ekonomi-politik Amerika Serikat, Jeffry Sachs, yang terlibat penulisan World Happiness Report 2016 menyebutkan bahwa parameter kebahagiaan dalam riset lintas negara mengacu pada konsepsi pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Sebagaimana telah dirancang dan dikembangkan oleh The UN Sustainable Solutions Networks, kini tersedia 17 parameter kebahagiaan yang disebut Sustainable Development Goals Index (SDGI). Mengacu pada SDGI, good society terbentuk oleh adanya tiga bottom line, yaitu kemakmuran ekonomi, inklusi sosial, dan kelestarian lingkungan.

Hal mendasar yang patut digarisbawahi dari rilis World Happiness Report 2016 pada Rabu, 16 Maret 2016 itu, terkait erat dengan beberapa aspek.

Pertama, distribusi kebahagiaan di seluruh dunia memasukkan data tentang kepincangan kebahagiaan lintas perorangan  (inequality of happiness across individuals). Riset untuk menyingkap fakta di seputar kepincangan kebahagiaan itu melibatkan 3.000 responden di masing-masing negara. Ada tidaknya kepincangan kebahagiaan ditentukan oleh per kapita GDP, tingkat harapan hidup, kepercayaan terhadap pemerintah yang bebas korupsi, keyakinan terhadap terjaminnya kebebasan, dan meluasnya perilaku kedermawanan di antara sesama warga. Temuan terpenting riset itu adalah: kebahagiaan meningkat secara signifikan dalam situasi semakin rendahnya inequality of happiness across individuals.

Kedua, proses terciptanya kebahagiaan di setiap negara ditentukan oleh keberadaan sistem nilai yang menjunjung tinggi etika. Bila sistem nilai tersebut dihormati secara luas dan kemudian menginspirasi lahirnya laku kemaslahatan setiap orang dalam kehidupan bermasyarakat, maka terbentuk prakondisi bagi tercetusnya kebahagiaan secara lintas perorangan. Agama, tradisi kultural, pandangan filosofis, dan kearifan lokal merupakan elemen-elemen pokok pembentuk sistem nilai yang menjunjung tinggi etika. Catatan lain terkait dengan toleransi beragama sebagai prasyarat pokok menguatnya sistem nilai yang menjunjung tinggi etika. Tatkala toleransi benar-benar berada dalam derajat yang kian matang, maka keberagamaan membentuk kesadaran transenden yang mendorong terciptanya kebahagiaan.

Ketiga, selaras dengan prinsip humanisme, kebahagiaan masyarakat di suatu negara terakomodasi ke dalam konsepsi pembangunan berkelanjutan. Itu karena filosofi yang mendasari gagasan pembangunan berkelanjutan adalah holistisisme kehidupan umat manusia di bumi. Asumsi fundamentalnya, manusia tidak hanya mengada (being) sebagai makhluk ekonomi di bumi, tetapi sekaligus makhluk sosial dan makhluk ekologis. Itulah mengapa upaya saksama menggapai kebahagiaan melalui metode ekonomi menjadi absurd manakala mengabaikan dimensi sosial dan ekologis. Keberhasilan dan atau kegagalan suatu negara membentuk good society bagi tercetusnya kebahagiaan sepenuhnya ditentukan oleh efektivitas bottom line: ekonomikal–sosial–ekologikal.

Terlepas dari berbagai kekurangan dalam pemeringkatan kebahagiaan penduduk secara lintas negara di seantero Planet Bumi, rilis World Happiness Report 2016 bermakna signifikan dalam hal memberi bobot pada isu indeks kebahagiaan. Beberapa tahun terakhir, indeks kebahagiaan mencuat sebagai isu super seksi di kalangan filsuf dan ilmuwan sosial, namun sekaligus dipersoalkan secara kritis. Substansi atau muatan indeks-indeks tersebut berwatak parsial-partikular dalam hal memaknai hakikat kebahagiaan manusia. Index of Economic Freedom (IEF) yang dirancang bangun oleh lembaga Libertarian-oriented Heritage Foundation, memosisikan perekonomian sebagai faktor tunggal terbentuknya kebahagiaan manusia. Global Competitiveness Index (GCI) versi World Economic Forum hanya memandang signifikan peran ketenagakerjaan dan pendapatan penduduk sebagai penyebab kembar tercetusnya kebahagiaan manusia.

Dalam konteks menjawab tantangan kemanusiaan baru, World Happiness Report 2016 relevan diperlakukan sebagai rujukan dalam mengagendakan riset-riset lanjutan tentang makna hakiki kebahagiaan manusia. Dengan rujukan tersebut, dimensi-dimensi kesadaran manusia, tenggang rasa sosial, etika pembebasan, tata kelola kebajikan, jaminan pemenuhan kebutuhan pokok, dan lapangan kerja sebagai pilar pemartabatan hidup umat manusia sudah saatnya diagendakan masuk ke dalam cakupan parameter kebahagiaan. [AK]***

Write a comment...
awesome comments!

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Galeri Editorial