header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
EDITORIAL4

Setelah JS Badudu Wafat

  • Written by AK
  • Published in Editorial

TOKOH besar perawat Bahasa Indonesia itu telah berpulang ke Rahmatullah di Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 12 Maret 2016. Dialah Profesor Jusuf Sjarif Badudu, atau tersohor dengan nama JS Badudu. Lahir di Gorontalo, 19 Maret 1926, JS Badudu telah menulis 40 buku tentang Bahasa Indonesia, serta 70 jilid buku bidang pembelajaran Bahasa Indonesia. Tak pelak, beliau adalah pakar Bahasa Indonesia yang tekun tiada tara, dan jejak pengabdiannya abadi dalam pelukan waktu kini dan mendatang. Namun demikian, wafatnya JS Badudu juga memunculkan tanda tanya besar berkenaan dengan nasib dan masa depan Bahasa Indonesia: dapatkah bertahan dalam jangka panjang atau malah tergerus oleh banalitas manusia? 

Jika sejarah keberadaan Bahasa Indonesia–sebagai bahasa nasional–kembali disingkap, maka kita sesungguhnya tengah berhadapan dengan fakta konkret bahwa pada dekade 1970-an JS Badudu melakoni peran substansial di bidang linguistik yang sekaligus bermakna signifikan dalam konteks kebangsaan. Selama jangka waktu 1974-1979, JS Badudu dikenal luas sebagai pembawa acara Pembinaan Bahasa Indonesia di TVRI. Sosoknya pun lekat dengan solusi atas problematika linguistik masyarakat dan bangsa Indonesia, dengan Bahasa Indonesia sebagai kerangka dasarnya. Dalam perspektif JS Badudu, Bahasa Indonesia merupakan faktor penting eksistensi Indonesia sebagai sebuah bangsa, dan karena itu pula ada keniscayaan untuk senantiasa konsisten merawat keberadaan Bahasa Indonesia. Pendek kata, ketokohan JS Badudu identik dengan pedagogi tentang berbahasa Indonesia secara baik dan benar dalam dinamika hayat publik yang justru kian kompleks.

Setelah JS Badudu wafat, ada beberapa catatan reflektif yang penting dikemukakan.

Pertama, konsistensi sikap JS Badudu mengondisikan penggunaan Bahasa Indonesia secara baik dan benar dalam realitas hidup sehari-hari masyarakat Indonesia sesungguhnya sejalan dengan prinsip pokok kemanusiaan tentang hidup yang mutlak bermakna. Dalam realitas hidup bumi, manusia bukan hanya mengada (being) sebagai esensi, tetapi sekaligus eksistensi. Sebagai esensi, manusia adalah makhluk yang terdiri atas kulit, daging, darah, kuku, rambut dan tulang-belulang. Sebagai eksistensi, manusia adalah roh, kesadaran dan cita-cita. Bahasa dalam konteks itu adalah kekuatan substantif yang mampu mengharmonisasi keberadaan esensi dan eksistensi dalam keutuhan hayat umat manusia.

Kedua, berbahasa secara baik dan benar–sebagaimana tanpa jeda disuarakan JS Badudu–merupakan keniscayaan agar menyatunya esensi dan eksistensi dalam hayat manusia melahirkan makna. Tatkala berbahasa secara baik dan benar kukuh menjadi prinsip dasar kehidupan sehari-hari, maka manusia terus-menerus terkondisikan menemukan keseimbangan hakikat dalam dirinya antara dimensi esensial dan dimensi eksistensial. Kata-kata bermakna yang lahir dari tindakan berbahasa merupakan tanda keutuhan hidup serta bukti keluhuran manusia akibat terjadinya persenyawaan secara rapi antara esensi dan eksistensi. Dari sini jelas bahwa besarnya kebutuhan terhadap hadirnya konsepsi-konsepsi baru untuk menjawab berbagai macam tantangan hidup lebih mudah dipenuhi oleh sang manusia. Persis seperti pernah diucapkan penyair WS Rendra, “tindakan adalah pelaksanaan kata-kata”–yakni, kata-kata yang bermakna.

Ketiga, berbahasa secara baik dan benar merupakan manifestasi kejujuran sikap dan tindakan menghadapi tantangan hidup. Seirama dengan kian tajamnya kontestasi perebutan sumber-sumber daya, kejujuran adalah “permata” yang kian langka. Sejurus dengan tak adanya kelaziman berbahasa secara baik dan benar, maka relasi sosial dan politik terdistorsi tipu muslihat berlandaskan logika instrumental siapa mendapat apa dan bagaimana (who gets what and how). Melalui manipulasi linguistik, tindakan berbicara justru merupakan pengingkaran terhadap kejujuran. Tidaklah penting berbahasa berdasarkan kaidah baik dan benar, sebab yang dipandang penting adalah berbahasa untuk tujuan memenangkan pertarungan dan perebutan sumber-sumber daya.

Hal mendasar yang patut digarisbawahi dari catatan reflektif-kontemplatif itu adalah interelasi opinion leaders di ruang publik era demokrasi liberal dengan tindakan berbahasa sebagai penentunya. Bertolak dari fakta bahwa sejauh ini demokrasi liberal gagal mewujudkan kesejahteraan rakyat, maka kamuflase retorika untuk pertarungan di ruang publik pun bakal terus berlangsung. Apa boleh buat, tindakan berbahasa diperlakukan sebagai kelanjutan logis tipu muslihat, bukan manifestasi dari benar dan baik dalam maknanya yang hakiki. Persis sebagaimana dipertontonkan oleh serangkaian konflik antar-menteri dalam kabinet pemerintahan, pertarungan kepentingan selalu terselubung oleh tindakan berbahasa.

Dalam perspektif JS Badudu, berbahasa Indonesia secara baik dan benar tak lain dan tak bukan adalah bertutur kata dengan dasar hati nurani kemanusiaan. [AK]***

Write a comment...
awesome comments!

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Galeri Editorial