header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
EDITORIAL4

Masa Depan Industri Kreatif

  • Written by AK
  • Published in Editorial

SELAMA kurang lebih satu tahun terakhir, kontribusi industri kreatif di Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional mencapai Rp 642 triliun. Itu berarti, peran industri kreatif terhadap total PDB mencapai 7,05 persen. Kontribusi terbesar berasal dari usaha kuliner (32,4%), mode (27,9%), dan kerajinan (14,88%). Selain berkontribusi terhadap PDB, industri kreatif nasional menempati posisi sektor terbesar keempat dalam hal penyerapan tenaga kerja, dengan kontribusi secara nasional sebesar 11,8 juta orang (10,7%). Rata-rata kontribusi terbesar penyerapan tenaga kerja berasal dari bisnis mode (32,3%), kuliner (31,5%), dan kerajinan (25,8%). 

Fakta tersebut dibeberkan oleh Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Abdur Rohim Boy Berawi dalam Rakor Rencana Program Pengembangan Ekonomi Kreatif yang digelar di Ambon, Maluku, awal Maret 2016. Pertanyaannya, bagaimana masa depan industri kreatif di negeri ini?

Merujuk pada informasi yang disampaikan Abdur Rohim Boy Berawi, masa depan industri kreatif nasional tampak dinamis. Selama jangka waktu 2015-2019 saja, 16 subsektor bakal mewarnai perkembangan industri kreatif, yaitu seni pertunjukan, seni rupa, televisi dan radio, aplikasi games, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, periklanan, musik, penerbitan, fotografi, desain produk, fashion, film animasi dan video, kriya, serta kuliner. Untuk outstanding dewasa ini saja, tiga subsektor mengalami pertumbuhan signifikan, yaitu teknologi informasi (8,81%), periklanan (8,05%), dan arsitektur (7,53%). Dengan meniadakan berbagai macam hambatan, sangat mungkin kontribusi industri kreatif terhadap PDB mencapai dua digit.

Masalahnya, faktor penghambat kemajuan lebih lanjut industri kreatif nasional hanya dimengerti sebatas kelemahan sistem informasi dan tidak memadainya pangkalan data (database). Berbagai kerja sama yang dilakukan Bekraf untuk menyelesaikan masalah hanya mencakup dua kendala tersebut. Padahal, dua kendala itu bukan persoalan yang dihadapi langsung oleh pelaku industri kreatif; itu merupakan persoalan kembar yang dihadapi pemerintah sesuai dengan peran dan fungsinya sebagai regulator dan pendorong kemajuan industri kreatif. Pada tingkat praksis di kalangan pelaku usaha, kendala terbesar adalah otentisitas dan mutu produk.

Secara skematik, industri kreatif sesungguhnya menghadapi dua tantangan mendasar. Pertama, kapasitas para pelaku industri kreatif menjadikan kekayaan budaya bangsa sebagai dasar untuk menciptakan produk-produk autentik dalam konteks mutu dan estetika. Kekayaan budaya bangsa di satu sisi dan industri kreatif di sisi lain merupakan dua domain berbeda, namun potensial dipadukan berdasarkan kejelasan gagasan dan perspektif. Bahkan, budaya bangsa merupakan sukma bagi perkembangan jangka panjang industri kreatif nasional, sehingga mustahil diabaikan. Hal yang kemudian urgen dilakukan adalah interpretasi dan atau interpretasi ulang secara cerdas kekayaan budaya bangsa untuk kemudian diperlakukan sebagai dasar bagi lahirnya produk kreatif baru.

Kedua, tugas pemerintah sebagai pelindung dan pengatur keberadaan industri kreatif nasional bertaut erat dengan aspek statistik, regulasi ketenagakerjaan, riset dan pengembangan serta penetapan strategi komunikasi yang relevan dengan keniscayaan menembus pasar mancanegara. Pada titik itu, efektivitas pangkalan data dan sistem informasi memang jelas urgensinya. Namun demikian, seluruh cakupan tugas pemerintah mustahil dilepaskan dari upaya saksama peningkatan kapasitas pelaku industri kreatif  dalam “menggauli” kebudayaan bangsa. Pemerintah sebagai regulator justru seharusnya berperan konstruktif bagi proses peningkatan kapasitas pelaku industri kreatif dalam hal memberi makna secara menyeluruh terhadap kekayaan budaya bangsa. Sebagai lembaga pemerintah non-kementerian yang bertanggung jawab langsung kepada presiden, keberadaan Bekraf akan lebih bermartabat bila mampu “menyuntikkan” kecerdasan kultural di kalangan pelaku usaha industri kreatif.

Industri kreatif sebagai salah satu lokomotif kemajuan ekonomi sebenarnya telah disadari oleh banyak negara di dunia. Perlahan namun pasti, industri kreatif kian mewarnai perkembangan ekonomi banyak negara. Pertaruhannya lalu terletak pada mutu dan autentisitas produk. Sejauhmana perekonomian Indonesia berpacu dengan perekonomian negara-negara lain dengan mengoptimalkan industri kreatif, itulah persoalannya.

Indonesia diuntungkan justru karena memiliki kekayaan budaya. Sayangnya, kekayaan budaya bangsa terbengkalai karena semata diberi makna sebagai faktor given di atas bentangan alam Nusantara, sehingga tak diolah lebih lanjut. Usaha di bidang fashion, misalnya, belum optimal mengelaborasi kekayaan budaya bangsa untuk menghasilkan sebuah haute couture yang digdaya mendikte arah dan perkembangan industri fashion dunia.

Karena itu, ada baiknya bila industri kreatif berbasis kebudayaan diperlakukan sebagai kata kunci memasuki pelataran masa depan. Itu sekaligus preskripsi agar keberadaan industri kreatif tak sekadar catatan kaki dalam kompleksitas perekonomian nasional. [AK]***

Write a comment...
awesome comments!

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Galeri Editorial