header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
EDITORIAL4

Antropologi Gerhana Matahari Total

  • Written by AK
  • Published in Editorial

RABU, 9 Maret 2016. Gerhana matahari total (GMT) sontak bergeser menjadi fenomena antropologis dalam konteks publik Indonesia. Beberapa daerah di sekujur bentangan Nusantara, sempurna dilewati GMT. Publik mencakup ribuan manusia terkobar antusiasme dirinya untuk terlibat menatap dan sekaligus menyaksikan GMT. Sebagai peristiwa kosmik yang dapat diteropong dari bumi, GMT direspons masyarakat Indonesia dengan penyikapan penuh warna: dari pentas seni budaya dan riset eksperimental hingga ritual agama. 

Tentang respons publik yang sedemikian rupa itu, media massa nasional membubuhkan catatan menarik. Dengan menatap GMT, psikologi publik bercampur aduk antara kagum, heran, takjub dan terharu–bahkan segelintir orang sempat melelehkan air mata. Betapa Sang Maha Kuasa digdaya mempertontokan kilatan oval “cincin berlian” yang niscaya terbentuk sesaat menjelang sempurnanya GMT. Matahari, bulan, dan bumi, tiba-tiba berada dalam posisi trio “aktor” yang berdiri pada konjungsi dan rasi setara dalam pentas dramaturgi alam semesta penuh pesona, terutama ketika matahari benar-benar tersembunyi di balik bulan menyemburatkan merjan atau manik-manik merah delima. Namun, seluruh respons itu masih sebatas bercorak antropologis, belum sosiologis, karena beberapa alasan berikut.

Pertama, besarnya animo publik menyaksikan GMT pada 9 Maret 2016 hanya untuk pemuasan hasrat tertunda akan kuriositas subjektif orang per orang. GMT yang muncul 33 tahun sebelumnya, 11 Juni 1983, ternyata diperlakukan secara banal oleh rezim Orde Baru untuk mengevaluasi derajat ketertundukan publik terhadap sistem politik otoriter yang tengah berjalan. Rezim Orde Baru lantas mempedagogikan logika instrumental tentang bahaya rusaknya kesehatan mata bila publik menatap langsung GMT. Target rezim Orde Baru saat itu adalah menguji tingkat kepatuhan rakyat terhadap ucapan dan tindakan yang sengaja diproduksi oleh kompleksitas sistem kekuasaan otoriter. Karena mayoritas rakyat Indonesia akhirnya memilih tidak keluar rumah selama berlangsungnya GMT 11 Juni 1983–hanya menyaksikan melalui siaran langsung TVRI–maka Orde Baru benar-benar sukses mengevaluasi secara massal derajat kepatuhan rakyat.

Kedua, hasrat publik menyaksikan peristiwa GMT pada 9 Maret 2016 tidak berada dalam kesadaran sosiologis, namun berada dalam kerangka kesadaran antropologis. Dengan berada dalam spektrum kesadaran antropologis, animo publik menyaksikan GMT tak ada kaitan makna dengan prospek perkembangan astronomi, kosmologi, dan metafisika di Indonesia. Sebagai saksi berskala massal terhadap peristiwa langka GMT, mayoritas publik Indonesia belum memandang signifikan astronomi, kosmologi, dan metafisika dalam konteks kemaslahatan bersama menurut perspektif sosiologis. Kekaguman serta keterpesonaan publik terhadap GMT tidak akan serta-merta mentransformasi mitos menjadi logos. GMT benar-benar terespons sebagai terciptanya kemeriahan manusia dengan kecairan fiesta, belum terespons sebagai terciptanya kesadaran manusia dengan kekentalan scientia.

Ketiga, respons secara antropologis, bukan sosiologis, justru melahirkan penyikapan yang dangkal terhadap peristiwa kosmik GMT yang sesungguhnya tiada tara semacam itu. Zona-zona pengamatan GMT di beberapa titik se-Nusantara lantas dikelola dengan selera turisme belaka, jauh dari upaya penyingkapan hikmah filosofis gerhana matahari. Sejumlah hotel di Palembang, Sumatera Selatan, misalnya, sigap menyediakan kacamata GMT, sebab dahsyatnya gerhana matahari hanya dipahami sebagai trigger untuk meningkatkan bisnis pariwisata. Corak respons semacam itu memang penting, tetapi tak memadai (necessary but not sufficient) sebab tidak akan tertangkap hikmah filosofis di balik timbulnya gerhana.

Kita tak sedang berbicara salah-benar tatkala menyinggung corak respons antropologis yang berbeda dengan corak respons sosiologis. Sebab, respons antropologis mutlak berlanjut menjadi respons antropologis, atau respons sosiologis merupakan konsekuensi logis dari respons antropologis. Dengan respons antropologis, manusia hanya berhenti pada titik pemuasan kuriositas dirinya sendiri secara eksklusif atas peristiwa kosmik GMT. Namun, dengan respons sosiologis, terpenuhinya kuriositas dijadikan pijakan dasar untuk membangun sistem sosial inklusif bagi kemajuan sains. Hanya melalui respons bercorak sosiologis itulah seluruh peristiwa gerhana lebih mudah diberi makna sebagai dasar penguatan pengetahuan tentang astronomi, kosmologi, dan metafisika.

Sebagai sebuah frasa, “antropologi gerhana matahari total” mungkin tidak terlalu tepat, bahkan terkesan mengada-ada. Akan tetapi, hal mendasar yang sebenarnya hendak ditunjukkan istilah itu adalah belum matangnya kesadaran publik terhadap muara dari peristiwa gerhana bagi penguatan astronomi, kosmologi, dan metafisika. Respons pada tingkat fiesta, bukan scientia, hanya mengonfirmasi adanya perlakuan terhadap peristiwa gerhana, yang steril dari dimensi edukatif. Karena itu, sudah saatnya respons bercorak sosiologis terhadap peristiwa gerhana serius diterjemahkan dalam dunia pendidikan di berbagai tingkatan. [AK]***

Write a comment...
awesome comments!

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Galeri Editorial