header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
EDITORIAL4

Nyepi dan Evaluasi Peradaban

  • Written by AK
  • Published in Editorial

DALAM ajaran Hinduisme Bali, Nyepi adalah momen menyambut Tahun Baru Saka—dimulai sejak tahun 78 Masehi. Beda dengan kelaziman menyambut tahun baru Masehi dengan keriuhan pesta-pora, Nyepi di Bali justru sepenuhnya disambut dalam kesenyapan dengan kesunyian. Saat menyambut tahun baru 1 Januari, manusia dari beragam latar belakang sosio-kultural lebur dalam keriuhan pesta, tawa, dan gembira ria. Sementara dalam konteks Nyepi di Bali, Tahun Baru Saka justru disambut dengan keheningan, dicerap dalam kesadaran bersama. Diam. Itulah mengapa, Nyepi termanifestasikan menjadi Catur Brata berupa amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak melakukan perjalanan), dan amati lelanguan (tidak menikmati hiburan). 

Secara substansial, Nyepi sesungguhnya relevan dikaitkan dengan upaya penemuan solusi terhadap problematika kemanusiaan abad ke-21. Sebagaimana dapat dicatat, dalam dinamika peradaban mutakhir tersuguh fakta terang benderang tentang bumi yang kian luluh lantak oleh opsi bebas manusia, bermuara pada pengagungan terhadap keserakahan. Atas nama modernisme dan pembangunanisme, manusia menggebrak kehidupan di atas pelataran bumi dengan “transformasi sosial-ekonomi.” Pada level praksis tata kelola seluruh aspek kehidupan, modernisme dan pembangunanisme dengan warna-warni transformasi sosial-ekonomi itu justru bergeser menjadi skema hegemoni tanpa batas terhadap segala macam sumber daya bumi. Jika kemudian kerusakan ekosistem membuncah sebagai penanda dari sangat parahnya nestapa bumi, maka itulah implikasi buruk dari modernisme dan pembangunanisme.

Pada titik persoalan ini, Nyepi mengarahkan seluruh ruang waktu sunyi dan keheningan manusia berperan sebagai kekuatan koreksi terhadap peradaban yang tengah berjalan. Setelah modernisme dan pembangunanisme dikonsensuskan di tingkat politik sebagai kata kunci dalam memandu dinamika kemanusiaan, maka evaluasi terhadap peradaban mutakhir merupakan keniscayaan. Nyepi adalah negativitas terhadap “keriuhan pesta” dalam konteks modernisme dan pembangunanisme. Nyepi hadir sebagai faktor penguat jiwa agar kesadaran individu dan masyarakat terlatih mengaudit aspek penentu dinamika peradaban. Destruksi ekosistem bumi di bawah panji-panji modernisme dan pembangunanisme sudah tidak mungkin lagi dibiarkan melaju tanpa kendali, dan karena itu pula Nyepi senantiasa relevan hadir sebagai sebuah peristiwa yang mempersuasi manusia masuk ke dalam keheningan justru agar berpikir arif dan bertindak lebih bijaksana memperlakukan bumi.

Secara substansial,  Nyepi sebagai kekuatan evaluatif terhadap peradaban mutakhir tercermin pada rangkaian ritual pendahuluannya. Menjelang Nyepi tiba, umat Hindu di Bali melakukan melasti, yaitu ritual pensucian di laut atau danau seluruh sarana peribadatan. Baik laut maupun danau, dalam filosofi Nyepi, diaksiomakan sebagai sumber tirta amerta, air suci, untuk pembersihan segala leteh, kekotoran, yang bersemayam dalam eksistensi manusia. Bahkan, satu hari menjelang Nyepi–yang disebut tilem sasih kesanga atau bulan mati yang ke-9—berlangsung ritualButa Yadnyadi segala tingkatan masyarakat. Itulah ritual pengorbanan bersukmakan keiklasan sebagai manifestasi dari kebersandaran manusia secara total kepada Tuhan.

Melalui ritual Nyepi, Yadnya terpahami secara utuh sebagai kejujuran manusia terhadap bumi, yakni memberi balasan kebajikan untuk kemaslahatan bumi. Nyepi benar-benar berfungsi sebagai evaluasi kritis terhadap peradaban, sebab manusia diingatkan kembali pada visi kemuliaan: menikmati kesejahteraan hidup di bumi tanpa pernah memberikan balasan adalah pencurian.  Manusia tak mungkin hanya piawai mengambil dari kehidupan, tetapi gagap memberi pada kehidupan. Jika itu yang terjadi, bumi kian luluh lantak tercabik reperkusi pengagungan terhadap keserakahan manusia.

Sebagai kelanjutan dari Buta Yadnya, Nyepi merupakan permulaan tahun baru yang tercerap ke dalam kesadaran manusia berdasarkan kesucian jiwa. Itulah mengapa, urgensi evaluasi peradaban melalui Nyepi: hidup adalah memberi, bukan mengambil. [AK]***

Write a comment...
awesome comments!

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Galeri Editorial