header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
EDITORIAL4

Kaum Intelektual dan Korupsi

  • Written by AK
  • Published in Editorial

DALAM hayat umat manusia, kebajikan dan kejahatan sama-sama berpeluang membentuk pandangan dunia (Weltanschauung). Hal tersebut terkait dengan pilihan bebas jiwa manusia: kebajikan dan kejahatan merupakan dua kategori biner yang saling bertentangan. Weltanschauung dapat diandaikan sebagai wadah netral yang leluasa menampung kebajikan atau kejahatan. Namun,  hal yang senantiasa patut dicatat, Weltanschauung lahir dari hasil olah intelektual. Karena itulah relevan berbicara tentang hubungan antara kaum intelektual dan korupsi. 

Ketika menyampaikan orasi di hadapan wisudawan Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 (Untag), Surabaya (Sabtu, 20 Februari 2016), Ketua KPK Agus Rahardjo menyinggung ihwal posisi kaum intelektual dalam sengkarut korupsi di Indonesia. Apakah jiwa kaum intelektual menegasi korupsi atau malah mengonfirmasi korupsi, itulah masalahnya. Kaum intelektual mutlak menghindari korupsi saat berada di dunia kerja, terlebih lagi tatkala tengah memegang jabatan publik dalam kenegaraan dan pemerintahan. Agus Rahardjo mengatakan, “Kesempatan berkomitmen untuk kebajikan sesama selalu mengambil titik-tolak dari pembebasan korupsi. Kesejahteraan negara ini akan melesat jauh lebih cepat kalau korupsi tidak terjadi di negeri ini.”

Pembacaan terhadap substansi ucapan Agus Rahardjo itu berada dalam konteks persoalan sebagai berikut. Pertama, tatkala korupsi benar-benar terkukuhkan sebagai godaan yang tak terbendung memorak-porandakan moralitas, harga diri dan kemanusiaan, maka aktornya sangat mungkin mencakup figur-figur kesohor dari berbagai macam kelas sosial. Kaum intelektual pun rentan berstatus sebagai figur antagonis lantaran telah sedemikian rupa terpatenkan sebagai koruptor. Kedua, korupsi dapat dialegorikan sebagai atmosfer yang turut memengaruhi proses pembentukan eksistensi manusia, termasuk di dalamnya kaum intelektual. Toleransi terhadap laku korupsi dimengerti sebagai kelaziman, bahkan oleh kaum intelektual, terutama ketika telah sedemikian jauh membentuk habitus.

Jika sejarah KPK kembali dikupas secara saksama, maka dapat disimpulkan bahwa ada sementara figur koruptor yang sesungguhnya menyandang status intelektual. Jauh-jauh hari sebelum dijatuhi hukuman penjara lantaran terlibat korupsi, sang publik figur bertindak, bersikap dan berwacana laiknya seorang intelektual. Saat benar-benar diputus bersalah oleh pengadilan, terbukti bahwa seorang intelektual pun tak steril dari kasus korupsi. Bahkan, laku korupsi sang intelektual melahirkan beberapa nomenklatur yang merusak tatanan akhlak, seperti “Apel Malang” untuk kode korupsi berbasis mata uang rupiah dan “Apel Washington” untuk kode korupsi berbasis mata uang dolar AS. Itulah sesungguhnya laku korupsi yang terkonstruksi menjadi sebuah Weltanschauung.

Apa yang kemudian mendesak dilakukan demi memenuhi harapan terbebaskannya kaum intelektual dari sengkarut korupsi?

Sebuah pemeo lama menyebutkan: jika hendak mengetahui sukma kemanusiaan sebuah bangsa, maka bertanyalah kepada kaum intelektual bangsa itu. Kaum intelektual, sebagaimana dimaksudkan pemeo itu, bergumul dengan tiga hal penting dan mendasar, yaitu pengetahuan, keteladanan, dan pengorbanan. Pengetahuan harus bertransformasi menjadi keteladanan agar hidup terus berjalan berdasarkan tatanan moral. Keteladanan harus bertransformasi menjadi pengorbanan agar kehidupan terehabilitasi ke arah yang lebih baik menurut takaran etis. Tanpa keteladanan, pengetahuan hanya arkeologi kognitif tanpa aksi. Tanpa pengorbanan, keteladanan mandek sekadar retorika.

Ketersambungan tiga hal penting itu—pengetahuan, keteladanan, dan pengorbanan—sesungguhnya merupakan kata kunci penentu terbebasnya kaum intelektual dari habitus korupsi. Justru bila serius mensenyawakan tiga hal penting itu, hayat seorang intelektual akan bermakna lebih hakiki bagi kemanusiaan, kebudayaan, dan peradaban. Produksi pengetahuan (knowledge production) tidak akan menyeret seorang intelektual ke dalam kubangan kelam korupsi, bila  proses yang ada menjunjung tinggi persenyawaan pengetahuan, keteladanan, dan pengorbanan. Produksi pengetahuan berwatak transenden dan sekaligus imanen hanya manakala pengetahuan, keteladanan, dan pengorbanan hadir serentak untuk kemudian membentuk eksistensi dalam diri seorang intelektual. Pertanyaannya, sudahkah kaum intelektual di negeri ini utuh keberadaannya oleh terjadinya persenyawaan pengetahuan, keteladanan, dan pengorbaban?

Hal yang lantas mendesak dicatat lebih lanjut adalah karya kaum intelektual untuk memartabatkan kehidupan. Dengan berpijak pada keselarasan hubungan pengetahuan, keteladanan, dan pengorbanan, sang intelektual menyadari sepenuhnya bahwa karya-karya yang dilahirkan sangat tinggi nilainya sebab berpijak pada spirit adiluhung. Itulah sesungguhnya visi profetik kaum intelektual yang mensterilkan sang intelektual dari sengkarut korupsi. Bangsa ini membutuhkan sosok intelektual semacam itu.

Tanpa dipandu oleh ketiga persenyawaan itu, kaum intelektual tetap berkarya disertai serangkaian keluh-kesah, pragmatis, serta terbelenggu oleh hasrat materialistik. Tragisnya, sang intelektual berkarya sambil membiarkan diri terseret sengkarut korupsi. [AK]***

Write a comment...
awesome comments!

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Galeri Editorial