header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
EDITORIAL4

Fase Kedua Iran

  • Written by AK
  • Published in Editorial

SETELAH sanksi dan embargo internasional dicabut, Iran mencuri perhatian dunia dengan diplomasi ekonomi. Sekitar sepekan setelah pencabutan sanksi dan embargo, Presiden Iran Hassan Rouhani bertandang ke Eropa. Di Italia, 25 Januari 2016, dia merajut ulang hubungan konstruktif dengan negara-negara Barat berdasarkan prinsip persahabatan saling menghormati. Sebelum Hassan Rouhani melawat ke Eropa, Wakil Menteri Perhubungan Iran Asghar Fakhrieh Kashan berbicara tentang rencana Iran membeli 100 unit pesawat buatan Boeing dan 137 pesawat keluaran Airbus. Kantor berita Reuters menggambar suasana lawatan Presiden Hassan Rouhani ke Eropa dengan narasi: Deals and warms words flow as Iranian president visits Europe

Bertahun-tahun terkena sanksi dan embargo internasional berdasarkan “komando” Amerika Serikat (AS), perekonomian Iran terpelanting menjauh dari proses dinamis hubungan antarbangsa. Sejak 1979, perekonomian nasional Iran teralienasi dari dinamika perekonomian global. Hubungan internasional Iran dalam konteks ekonomi hanya bertautan secara terbatas dengan produk-produk buatan China dan India. Itulah mengapa, selama berlangsungnya sanksi dan embargo internasional, Iran hanya sebatas mampu melakukan kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan China dan India. Padahal, dinamika perekonomian nasional Iran membutuhkan hadirnya investasi asing di bidang transportasi, energi, dan durable consumer goods, seperti kendaraan bermotor.

Apa yang penting dicatat sebagai dasar untuk memahami persoalan itu adalah historisitas Iran sebagai sebuah bangsa besar sejak pengujung dekade 1970-an. Revolusi 1979 berdampak buruk berupa putusnya hubungan diplomatik Iran dan AS, sehingga hubungan ekonomi Iran di dunia internasional berada di dalam celah sempit-terbatas. Sebelum Revolusi 1979, Iran adalah sekutu dekat AS. Situasi dan perkembangan pasça-Revolusi 1979 justru mengondisikan AS mengambil “opsi logis” memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Dipicu oleh penyanderaan para diplomat AS di Teheran selama 444 hari (4 November 1979–20 Januari 1981), maka sejak dakade 1980-an Washington dan Teheran bermusuhan, kawan berubah menjadi lawan.

Kini, dicabutnya sanksi dan embargo terhadap Iran menandai pulihnya hubungan bersahabat Iran-AS serta Iran dan negara-negara Barat. Dengan delegasi sebanyak 120 orang dari kalangan menteri dan pebisnis, Presiden Hassan Rouhani hadir di Italia dengan citra berbeda dari gambaran umum pemimpin politik kawasan Timur Tengah yang terus bergolak. Di Italia, tergambar jelas apa yang disebut Tehran's diplomatic credentials. Kesepakatan kerja sama ekonomi Iran-Italia mencapai sekitar € 17 miliar, setara 18,4 miliar dolar AS, dengan cakupan kerja sama di bidang energi, pembangunan proyek infrastruktur, industri baja, dan perkapalan. Perdana Menteri Italia Matteo Renzi lantas berkata: “Ini awal dari sebuah perjalanan. Banyak sektor yang dapat dikerjasamakan.”

Selain ke Italia, Presiden Hassan Rouhani melawat ke Perancis dan Vatikan. Di Paris, kerja sama ekonomi Iran-Perancis ditorehkan melalui tercapainya kesepakatan joint venture industri otomotif, antara Khodro dan Peugeot, senilai € 300 juta. Dari situ terkuak fakta bahwa kurun waktu pasça-Revolusi 1979, Iran bergerak aktif melakukan pembangunan. Tatkala kemudian Iran bebas dari sanksi dan embargo serta harus terus melanjutkan pembangunan nasional, maka rehabilitasi hubungan ekonomi dan perdagangan dengan negara-negara Barat merupakan keniscayaan. Tentang hal itu, situs The Wall Street Journal menulis: In opening its doors for business, however, Tehran is demanding European firms locate technological know-how and factories inside Iran to revive the country’s hobbled job market.

Sesungguhnya, Iran kini memasuki fase kedua dalam perjalanan historisnya menjadi negara demokratis di dunia Islam. Fase pertama terjadi pada 1979, tatkala revolusi berhasil menumbangkan sistem kekuasaan monarki absolut untuk kemudian digantikan oleh sistem kekuasaan demokratis. Referendum yang dilaksanakan tak lama setelah tercetusnya revolusi, justru mengondisikan rakyat Iran memilih bentuk republik bagi tata susunan baru kenegaraan. Perkembangan dan kemajuan sosio-kultural Iran pun tak dapat dilepaskan dari seluruh perubahan itu. Sejak 1979, Iran direpotkan oleh sanksi dan embargo yang diterapkan dunia internasional, tetapi bisa menemukan jati diri sebagai bangsa demokratis di dunia Islam.

Namun, pada fase kedua kini, Iran dihadapkan dengan tantangan jauh lebih kompleks. Rekonfigurasi hubungan dengan dunia Barat hanyalah prolog bagi perkembangan Iran lebih lanjut. Terbukanya hubungan dengan dunia Barat merupakan momentum mewujudkan pembangunan nasional secara lebih bermakna. Dengan mewarisi ribuan tahun tradisi filosofis bangsa Persia, Iran kini semestinya mampu memasuki fase kedua perjalanan historisnya setelah Revolusi 1979. [AK] ***

Write a comment...
awesome comments!

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Galeri Editorial