header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
EDITORIAL4

Anamnesis Kuburan

ADA satu tradisi kenegaraan di Indonesia yang barangkali tidak banyak diketahui oleh masyarakat awam. Kalaupun tahu, tradisi tersebut tidak cukup kuat menancap di kesadaran mereka. Tradisi itu mungkin sudah diperkenalkan sejak masa remaja mereka, namun tidak  dengan sendirinya menjadi bagian dari jadwal aktivitas kultural masyarakat Indonesia. Itulah tradisi “renungan suci” malam tanggal 16 hingga dini hari 17 Agustus; serupa upacara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tujuan dari penyelenggaraan acara itu, terutama adalah untuk memperingati hari ulang tahun Republik Indonesia dan mengenang jasa para pahlawan kemerdekaan.

Sebenarnya, tradisi itu ditanam dan dipupuk pada periode kekuasaan rezim Orde Baru. Sama tuanya dengan tradisi upacara setiap Senin pagi di sekolah-sekolah dasar negeri atau upacara setiap bulan per tanggal 17 bagi siswa sekolah menengah atas dan pegawai negeri. Dalam aktivitas upacara tersebut biasanya ada semacam “sekuel” baris-berbaris, pengerekan dan penghormatan bendera, menyanyikan lagu Indonesia Raya, mengheningkan cipta, dan mendengarkan amanat inspektur upacara. Sementara pada aktivitas “renungan suci” yang diselenggarakan di setiap Taman Makam Pahlawan masing-masing kota/ kabupaten, urutan acara seperti itu biasanya ditambah dengan prosesi penyalaan obor. 

Pada periode rezim Soeharto, aktivitas “upacara-upacara”-an tersebut wajib diselenggarakan pemerintah daerah dan diikuti oleh siswa sekolah dasar-menengah serta pegawai negeri dari berbagai instansi. Ancaman jatuhnya sanksi serta pengawasan kualitas kerja pegawai negeri juga kerap diasalmuarakan dari kehadiran dan sikap mereka pada saat upacara. Karena itu, kesadaran “terbirit-birit” pegawai negeri dan siswa sekolah lahir dari disiplin upacara tersebut.

Di pusat pemerintahan, Jakarta, penyelenggaraan acara renungan suci itu berada di lokasi Taman Makam Pahlawan Kalibata. Terkait dengan itu, sudah sejak lama pihak pelaksana upacara “renungan suci” mewajibkan pemadaman listrik di radius 1 kilometer dari tempat upacara. Tak pelak, setiap kali perayaan renungan suci, penduduk yang bermukim di wilayah sekitar TMP Kalibata harus menikmati “mati lampu” selama 3-4 jam; semasa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, pemadaman listrik tersebut berlangsung sejak pukul 23.00 hingga pukul 03.00 pagi. Pada 2015, keadaan mati lampu hanya berlangsung kurang dari satu jam.

Bila diperiksa lebih dalam, tradisi “renungan suci” itu secara teoretis sungguhnya berusia sangat tua. Tradisi filsafat Yunani Platonik, misalnya, menyebut perihal tersebut sebagai bagian dari cara memperoleh pengetahuan dengan mengumpulkan ingatan demi ingatan manusia akan aneka macam situasi aktual. Anamnesis istilahnya, yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh tradisi filsafat abad Pertengahan, terutama tradisi Kristiani, sebagai bagian dari upaya manusia menemukan jatidiri dengan mengakui keterbatasannya di hadapan sang Pencipta. Tradisi filsafat Timur juga memiliki metode serupa melalui istilah “bertapa” dengan tujuan menjadi bagian dari kesemestaan alam.

Persoalannya, apakah “renungan suci” 17 Agustus itu adalah juga cara untuk memperoleh pengetahuan tentang kepahlawanan? Apakah sekuel mengheningkan cipta dalam setiap upacara juga dapat melahirkan gambaran tentang sosok pahlawan yang gagah berani menantang setiap desing peluru musuh yang berterbangan? Apakah SBY atau Presiden Jokowi yang masing-masing selama tiga jam dan 45 menit membayangkan diri berbincang-bincang bersama para arwah pejuang kemerdekaan yang dimakamkan di TMP Kalibata setiap acara renungan suci itu? Tidak ada kejelasan cukup benderang yang bisa menerangkan bagaimana acara renung-merenung itu menjadi penting untuk selalu diselenggarakan setiap tahun. Namun, maknanya amat sangat jelas bagi penduduk yang tinggal di wilayah sekitar TMP Kalibata: pemadaman listrik. Mereka harus menyalakan lilin redup-redup untuk menerangi rumah atau “mengungsi” selama beberapa jam keluar rumah mencari lokasi yang lebih terang.

Ironi semacam itu tentunya bukan sesuatu yang baru. Ia sama tuanya dengan pepatah “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya.” Namun, persoalannya bukan apakah kita menghargai atau tidak menghargai atau hormat-menghormati mereka yang telah berjuang demi nusa dan bangsa, tetapi lebih pada bagaimana konsep kepahlawanan itu dirumuskan serta bagaimana kisah-kisah kepahlawanan dibangun dan disebarluaskan kepada generasi muda.

Pahlawan bukan hanya yang membawa bambu runcing, tombak, senapan, pistol, pedang, dan laki-laki, melainkan juga mereka yang berpikir dan bertindak demi kepentingan orang banyak di berbagai bidang kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Ada banyak tokoh sejarah revolusi Agustus 1945 yang bisa dikisahkan dan ada begitu banyak tokoh perempuan pejuang yang bergerak membangun bangsa. Mengingat, mengenang, dan merenungkan kemerdekaan Indonesia tidak cukup hanya dengan ziarah ke taman makam pahlawan. Perbedaannya memang bisa menjadi sangat tipisantara datang ke “kuburan” mencari wangsit atau untuk menghormati pahlawan. Sebuah anamnesis tidak mungkin terjadi dengan sendirinya, karena sesuatu perlu dikenali terlebih dahulu untuk kemudian diingat-ingat.

Sebaiknya, perayaan 70 tahun kemerdekaan adalah upaya mengingat-ingat aneka macam aktivitas sosial-politik para pahlawan pejuang kemerdekaan yang nyata di tengah massa rakyat dan sepanjang sejarah rakyat Indonesia  memiliki kemampuan untuk selalu bergerak maju. Namun, seandainya kuburan jauh lebih penting sebagai cara untuk mengingat kemerdekaan, barangkali Indonesia merdeka karena wangsit para dukun togel yang kerap datang ke pelbagai pemakaman.***

Write a comment...
awesome comments!
Anom Astika

I Gusti Agung Anom Astika sempat mengikuti kuliah di Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (1988-1996).

Kuliahnya terhenti setelah rezim Orde Baru menjebloskannya ke dalam tahanan selama tiga tahun, karena aktivitas politiknya bersama Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Putra Bali yang lahir pada 7 Juni 1971 itu kembali melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, sejak 2005.
Sekarang, dia bekerja sebagai peneliti di Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI), serta menulis dan menerjemahkan beberapa buku untuk sejumlah penerbit.

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Galeri Editorial