header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
EDITORIAL4

Reshuffle, Reshuffle, dan Reshuffle

BULAN Ramadhan dan Lebaran telah usai dan seluruh kegiatan masyarakat diprediksi akan kembali normal seperti sediakala. Masyarakat pun tentu berharap proses kembali ke sediakala tersebut dapat berlangsung dengan lancar. Di tengah proses tersebut, membuncah harapan agar ekonomi menjadi lebih baik atau, setidaknya, bukan bertambah buruk. Menanggapi hal itu, pemerintah sepertinya berencana melakukan perombakan kabinet (reshuffle).

Bagi menteri yang “terkena” reshuffle tentu tak terlalu menyenangkan, namun hal itu wajar dalam dunia politik dan profesional. Begitu pula bagi beberapa partai politik. Pada awalnya tidak bisa menerima, tetapi akhirnya tetap harus menerima dengan lapang dada. Sebaliknya bagi anggota parlemen dari partai pendukung pemerintah maupun partai “oposisi”, hal tersebut tentu akan “menyenangkan” karena setidaknya ada dinamika ruang politik tempat mereka mengambil peran untuk kembali bertarik-ulur negosiasi.

Lantas bagaimana dengan pasar? Tarik ulur berkepanjangan tentu kurang baik. Mereka yang pro pasti akan menanggapi “rencana” reshuffle dengan positif dalam rangka menahan laju depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, penyerapan anggaran dan penurunan inflasi, serta realisasi target-target APBN-P 2015 lainnya. Sebaliknya bagi yang kontra, arah dan kerja ekonomi sudah berada di jalur yang benar dan tinggal masalah interval waktu saja.

Investor mungkin saja tidak peduli apakah ada atau tidak reshuffle. Yang jauh lebih penting bagi mereka adalah sejauh mana multiplier effect dari fiskal, moneter, dan ekonomi makro memberikan dampak terhadap tingkat pengembalian investasi. Pembangunan dan pengembangan berbagai sektor unggulan, seperti kedaulatan pangan, kedaulatan energi dan kelistrikan, kemaritiman dan kelautan, serta pariwisata dan industri, lebih bersifat jangka menengah dan panjang, bukan jangka pendek. Sementara proyek pembangunan pelbagai infrastruktur, misalnya, waduk, bendungan, dan jalan, membutuhkan waktu lama bagi tingkat pengembalian modal. Karena itu, tidak semua investor mendukung pemerintahan yang baru, seperti dalam kampanye sebelumnya, akan segera berinvestasi. Bahkan, sebagian besar investor cenderung menahan atau menyimpan uang miliknya.

Di sisi lain, pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kelihatan tidak terlalu berhasil memberi isyarat kepada investor dan bank-bank besar untuk segera menyalurkan dan mengucurkan dana, sebagaimana ditunjukkan oleh tingkat pertumbuhan kredit yang cenderung turun sejak Januari 2015 silam. Dengan demikian, ada kemungkinan sektor finansial dan sektor lahan yasan (real estate) tetap menjadi sektor unggulan dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut tentu bukan kabar baik bagi struktur ekonomi nasional dan sektor riil.

Mirip dengan investor, tenaga kerja dan usaha kecil berharap perombakan kabinet memberikan dampak lebih besar terhadap “keteraturan” pasar tenaga kerja sehingga terbentuk bukan hanya kepastian kerja, tetapi juga pengaturan persaingan dan indeks pengupahan yang lebih baik, terutama di sektor informal. Tenaga kerja dan sektor usaha kecil tentunya juga tidak berharap reshuffle menjadi instrumen konvensional untuk mengalihkan sesaat penurunan nilai tukar, sedangkan jangka menengah dan panjangnya tetap tidak memberikan dampak signifikan terhadap penurunan daya beli.

Tingkat pertumbuhan mungkin bisa diharapkan dari belanja pemerintah via penyerapan APBN yang lebih besar. Sejauh ini yang sudah terserap tidak lebih dari 50 persen. Namun, selain beralasan bahwa nomenklatur menjadi penyebab utama, pemerintah juga berupaya menempuh berbagai cara agar terjadi peningkatan penyerapan anggaran dengan, misalnya, menerapkan sanksi kepada daerah yang gagal menyerap anggaran.

Di samping itu ada beberapa faktor lain, seperti kekuranglenturan berbagai kebijakan dan regulasi, yang menyebabkan penyerapan anggaran begitu rendah, belum lagi ditambah dengan adanya tendensi mencari-cari celah kesalahan yang membuat pelaksana/pengguna semakin khawatir untuk menggunakan dana APBN dan APBD.

Terakhir, penyerapan anggaran mungkin akan lebih efektif bila dana APBN dan APBD sejak awal lebih diarahkan ke UMKM ketimbang BUMN dan proyek-proyek besar lainnya. Dengan kata lain, penyerapan anggaran rendah karena sasarannya memang tidak tepat. Apakah reshuffle akan efektif? Jawabannya kembali kepada sidang pembaca.***

 

Write a comment...
awesome comments!
Fachru N Bakarudin

Menyelesaikan pendidikan S1 di Departemen Filsafat Universitas Indonesia dan Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, S2 di Université Paris 10 Nanterre dan Ph.D di Maison des Sciences Economiques, Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne dengan judul disertasi “Proses Pembangunan dan Industrialisasi di Indonesia dan Perbandingannya dengan Cina dan India Periode 1945-2013”. Meraih penghargaan sebagai best dissertation dari AFIDES (Association Franco-Indonésien pour les Dévéloppement des Sciences) tahun 2013.

Pernah bekerja sebagai ekonom untuk kawasan Asia di OECD Development Centre, Paris, Prancis. Makalah diterima dan Narasumber dalam berbagai konferensi dan seminar internasional seperti African Program for Rethinking Development Economics, 55Bandung55 Conference, International Initiatives for Promoting Political Economy, International Input-Output Associations Conference, Energy Economics International Conference dan Indonesian Conference on Economic Development.

Buku yang sudah dipublikasikan: Pendekatan Ekonomi Heterodox. Publikasi internasional yang sudah diterbitkan: “Changement Politique Economique Institutionnel en Indonésie Période 1945-2013” (Marché et Organisation). Beberapa karya ilmiah yang akan dipublikasikan: “Profit Rate Analysis in Indonesia, China and India,” “Growth Regime Analysis in Indonesia, China and India,” “Liberalization and Its Impact on Structural Changes in Indonesia, China and India,” “Connectivity Analysis in Indonesia, China and India,” “Industrialization and Energy Savings Behaviour,” dan “Industrialization and Emissions Increase in Indonesia, China and India.”

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Galeri Editorial