header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions

Sang Moderat(or) | Mengenang Ivan Hadar

SEORANG sahabat, Ivan A Hadar, telah menghadap ke hadirat Tuhan Yang Mahakuasa pada Sabtu malam, 13 Juni 2015, sekitar pukul 00.00 waktu Berlin, Jerman, akibat serangan jantung. Berlin adalah kota yang sangat dia kenal dalam hampir separuh perjalanan hidupnya. Ivan meraih gelar doktor bidang antropologi dari Technische Universitaet Berlin pada 1992 dengan predikat summa cum laude dan dengan disertasi “Reception of Occidental Values through Traditional Education in Indonesia” mengenai dunia dan kehidupan pesantren di Indonesia. Pada awalnya, spesialisasi Ivan di bidang arsitektur dan perkotaan, namun penjelajahan kecendekiawanannya melampaui disiplin tersebut.

Oleh kawan-kawannya, sosok calm dan tajam berpikir yang lahir di Ternate, 27 Agustus 1951, itu lebih dikenal sebagai seorang aktivis, scholar, dan kolumnis. Banyak tulisannya tersua di berbagai surat kabar, seperti Kompas, Suara Pembaruan, Media Indonesia, Sindo, Jakarta Post, dengan nama “Ivan Hadar.” Pandangannya sendiri banyak mengangkat dan menyinggung pelbagai masalah ekonomi-politik-sosial, seperti soal kemiskinan, ketimpangan sosial, utang negara Dunia Ketiga, dan lain-lain. Demikian pula dengan sejumlah kajian komparasinya merujuk pada kawasan Asia Timur, Afrika, Amerika Latin, hingga Eropa, khususnya Jerman tempat dia menimba ilmu dan membangun keluarga selama lebih dari dua dawawarsa.

Sekitar tahun 1980-an, saat masih mahasiswa, saya mulai menikmati dan mengenal tulisan-tulisan Ivan di berbagai surat kabar. Dia memaparkan “keberhasilan” Orde Baru dalam menegakkan stabilitas politik dan menjalankan pembangunan ekonomi. Namun, dengan bahasa yang santun, padat, dan menohok, Ivan menunjukkan bahwa keberhasilan itu minus demokrasi. Demikian awal perkenalan saya dengan Ivan, melalui berbagai tulisannya di surat kabar.

Saya sendiri yang mencoba-coba menulis artikel di beberapa koran, antara lain Media Indonesia (MI), mengenal penulis opini bernama Ivan Hadar lewat profil sketsa wajahnya yang senantiasa ditampilkan MI. Wajahnya terkesan “sangar” dengan rambut gondrong sebahu tanpa senyum. Melalui beberapa kawan yang melanjutkan studi atau menetap di Negeri Belanda dan Jerman khususnya, saya mulai mengenal lebih dekat sosok Ivan yang berkuliah di Jerman bidang arsitektur dan kemudian antropologi.

Sebagai seorang aktivis mahasiswa yang menentang rezim Suharto pada akhir tahun 1970-an dan sepanjang tahun 1980-an, Ivan masuk dalam radar intelijen, meski pandangannya tergolong sangat moderat bila dibandingkan dengan pemikiran banyak aktivis radikal masa itu. Para perantau yang bersekolah dan bermukim di Eropa, termasuk Jerman dan Negeri Belanda, memang kerap dianggap sebagai barisan penentang dan mengancam stabilitas politik Orde Baru.

Saya sendiri lupa bagaimana persisnya menjalin kontak pertama dengannya. Seingat saya, melalui Iken Nasution, saya memperoleh nomor telepon Ivan saat berada di Jakarta. Saya memberanikan diri mengontak dan menyatakan keinginan untuk bertemu. Dia menyambut saya dengan ramah di rumah orangtuanya. Kebetulan, tempat tinggal orangtua kami berdekatan, daerah Cipinang Cempedak, Jakarta Timur.

Sejak saat itu kami berteman. Banyak persamaan dalam setiap obrolan ringan di antara kami. Saya yang sok tahu dan sedang getol belajar teori-teori pembangunan “non-mainstream” merasakan sesuatu banget karena selalu didengar dan diapresiasi olehnya dengan ramah dan banyak tersenyum. Ivan senantiasa menjawab persoalan dalam setiap diskusi dengan saya secara sistematis dan padat. Seluruh gambaran awal saya tentang sosok dirinya yang kaku dan “sangar” pun pupus.

Saya tidak bisa melupakan pertemuan awal dengannya yang cukup singkat itu. Penampilannya bersahaja, bahkan sangat sederhana. Saya sempat berbincang dengan ibundanya yang bercerita bahwa Ivan termasuk anak yang berkeras hati atau nekat merantau dan studi ke Jerman, bahkan kemudian menetap di negeri itu untuk waktu yang cukup lama. Ivan sempat berkuliah di ITB, Bandung, sekitar awal tahun 1970-an. Di kota itu, dia berkenalan dengan beberapa mahasiswa Indonesia yang pulang kampung setelah menamatkan studi di Jerman. Cerita mereka tak pelak membangkitkan keinginannya untuk berkuliah di Jerman. Ivan memohon izin dan hanya minta dibiayai selama 6 bulan saja untuk studi di negeri itu, yang akhirnya diizinkan sang bunda setelah menjual sebagian koleksi harta perhiasan untuk membiayai hidup dan kuliahnya ke Jerman. Pandai dan pekerja keras, Ivan bisa bertahan di Jerman, bahkan meraih gelar doktor.

Saya baru tahu belakangan, ketika Ivan pulang ke Indonesia pada pertengahan tahun 1980-an, paspor miliknya dan beberapa kawan ditahan oleh aparat Kopkamtib atau Laksus saat itu; secuil potret represi di masa rezim Orde Baru. Walaupun tidak bisa kembali ke Berlin untuk melanjutkan studi dan bercengkerama dengan keluarga, Ivan tidak tampak cemas, gusar, apalagi marah. Setelah melalui lobi politik berliku-liku dan kontak sana-sini sekitar 2 tahun lebih, Ivan baru bisa berangkat ke Berlin untuk melanjutkan kuliah. Dalam sebuah kesempatan, setelah era Reformasi, dia bercerita pernah bertemu dengan intel yang dulu mengambil paspor dan menginterograsinya di Berlin. Ivan mengajak makan malam mantan intel tersebut tanpa rasa dendam atau amarah.

Pada awal tahun 2000-an, saya dan Ivan bekerja bersama dalam dua organisasi berbeda. Yang pertama, bersama Suchjar Effendi, Warsito Ellwein, Zumrotin K Susilo, dan Harry Wibowo secara bergilir menjadi anggota Dewan Pengurus Institute for Global Justice (namanya kemudian diubah menjadi Indonesia for Global Justice, IGJ), sebuah organisasi non-pemerintah berbentuk perkumpulan yang melakukan riset dan advokasi menentang rezim perdagangan bebas dan neo-liberalisme. Suchjar Effendi dan Warsito Ellwein adalah sahabat-sahabat diaspora-nya yang juga alumnus perguruan tinggi Jerman. Bahkan, ketika IGJ mengalami krisis internal, Ivan Hadar bersama Suchyar Efendi dan Zumrotin K Susilo tak segan turun tangan memangku jabatan sementara sebagai Pelaksana Harian IGJ (2011). Kepemimpinan yang moderat, pendirian yang bisa diterima banyak pihak, serta kemampuan lobinya memang amat dibutuhkan untuk mengatasi krisis organisasi. Ivan menjabat Ketua Dewan Pengurus IGJ hingga akhir hayatnya. Kini, atas dukungan penuh anggota baru serta Direktur Eksekutif Riza Damanik dan para staf, IGJ berhasil melampaui krisis.

Sementara itu, atas dukungan ornop Friedrich Ebert Stiftung (FES) asal Jerman, saya dan Ivan bersama Faisal Basri, Budiman Soejatmiko, Amir Effendi Siregar, Martin Manurung, Puji Riyanto, Mian Manurung, dan beberapa kawan, mengelola sebuah jurnal populer yang menggali berbagai problem di Indonesia menurut kacamata sosial-demokrat, Jurnal Sosial Demokrasi. Setiap kali mengangkat tema yang akan diterbitkan, kami selalu menggelar diskusi dengan mengundang beragam kalangan dan pandangan, mulai dari yang agak konservatif hingga kiri. Seperti biasa, Ivan bertindak sebagai moderator yang piawai membingkai diskusi, bahkan kadang kala “memprovokasi” peserta untuk menghangatkan suasana. Acaranya selalu ramai dan padat, meski ruang diskusi di kantor FES itu tidak terlalu besar. Itulah saat-saat paling menggairahkan bagi saya, berada di antara kawan-kawan dengan Ivan bertindak sebagai moderator. Diskusi tersebut, setelah dirangkum dan ditulis ulang, kami terbitkan dalam Jurnal Sosial Demokrasi.

Ivan Hadar yang saya kenal tidak hanya bergerak dalam wacana “serius”, melainkan juga dalam pelbagai kegiatan penuh canda dan gaul. Pada akhir tahun 1990-an, menjelang era Reformasi, saya yang juga aktif di Yayasan Jurnal Perempuan (YJP) mengajak Ivan untuk terlibat dalam sejumlah kegiatan yang merupakan buah tangan saya setelah mengikuti pelatihan Gender and Gentleman di Cebu, Filipina. Ivan, bersama Wahyu Susilo, Rocky Gerung, Veven SP Wardhana, Kris Budiman, Donny Gahral, Romo Haryatmoko, menulis sebuah buku—dengan kata pengantar Gadis Arivia—dengan judul provokatif, Feminis Laki-laki: Solusi atau Masalah? Dalam lokakarya “Keterlibatan Laki-laki dalam Menghentikan Kekerasan terhadap Perempuan”, bersama Kevin Evans, Ivan menjadi pembicara. Puncaknya, dalam seminar besar dengan tema yang sama, dengan dua pembicara utama (keynote speaker), Prof Fuad Hasan dan Prof Emil Salim, Ivan membacakan Deklarasi Cantik (Cowok-cowok Anti Kekerasan). Acara tersebut terbilang sukses dan diliput oleh pelbagai media sebagai salah satu bentuk kampanye kami.

Terakhir kali saya bertamu ke rumah Ivan di kawasan Kalibata memenuhi undangan makan perpisahan, karena Ivan sekeluarga akan pindah ke Tanjung Barat. Kawasan Kalibata yang hampir setiap hari sulit terbebas dari kemacetan lalu lintas menjadi pertimbangan utama Ivan pindah rumah demi sekolah dan pendidikan dua anaknya yang masih kecil. Kami bergurau, tertawa lepas, dan menikmati hasil masakan Evi Aryani, istrinya. Momen itu menjadi pertemuan terakhir kami. Pada 18 Mei 2015, Mian, Aan, dan Evi, mengirim kabar kepada saya dan beberapa kawan bahwa Ivan sebagai pembicara dalam acara “Smart Cities Alumni TV Berlin” terjatuh karena serangan jantung dan dibawa ke DRK Westend Hospital, Berlin, untuk menjalani perawatan.

Hampir sebulan kemudian, saya dan semua yang mengenal Ivan terkejut mendengar kabar wafatnya. Saya tahu dia dirawat, namun tidak menyangka Ivan akan dipanggil Allah sedemikian cepat. Kebaikan, keramahan, dan komitmennya pada masalah-masalah sosial negeri ini tampak jelas dari tanggapan dan ucapan belasungkawa yang dituangkan sejumlah kalangan di berbagai lini media sosial. Requiescat in Pace. Selamat jalan kawan. Tidak ada lagi canda, tiada lagi diskusi, tidak ada lagi kerja bersama. Semoga tempat terbaik untukmu di sisi-Nya. Untuk Evi, anak-anak, dan keluarga besar: ikhlas, sabar dan tawakal menerimanya.***

Write a comment...
awesome comments!
Nur Iman Sibono

Nur Iman Subono dilahirkan di Bandung, Jawa Barat, 4 Januari 1960. Staf pengajar di Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) dan Pascasarjana Kajian Gender Universitas Indonesia. Mantan staf redaksi jurnal Prisma yang pernah mengenyam pendidikan di Jurusan Politik Universidad de Guadalajara, Meksiko, ini mengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara (STIA-LAN), Jakarta; meraih gelar S-2 (2004) program studi filsafat dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dan menyelesaikan program doktoral (2014) di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UI dengan tema demokrasi dan transformasi gerakan masyarakat adat di Ekuador dan Bolivia. Selain tercatat sebagai anggota Dewan Redaksi Jurnal Perempuan (YJP) dan Jurnal Sosial Demokrasi (FES), dia banyak terlibat dalam dunia organisasi nonpemerintah, seperti Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Yapusham), Demos, Institute for Global Justice (IGJ), dan Perkumpulan Pra-Karsa, serta menyunting, menerjemahkan, dan menulis beberapa buku, antara lain, Catatan Perjalanan Suara Ibu Peduli (1999); Negara dan Kekerasan terhadap Perempuan (2000); Feminis Laki-laki: Solusi atau Persoalan? (2001); Perempuan dan Partisipasi Politik: Panduan untuk Jurnalis (2003); Taktik Negara menguasai Rakyat: Sebuah Studi Bentuk Pemerintahan Korporatisme (2003); bersama Darmawan T, Meretas Arah Kebijakan Sosial Baru di Indonesia (2009); Erich Fromm: Psikologi Sosial Materialis yang Humanis (2010); bersama Otto A Yulianto dan Sofian M Asgart, Demokrasi Tanpa Representasi  (2012); serta bersama Hizkia Yosie P dan Prasojo, Oposisi Demokratik di Era Mediasi-Massal Demokrasi (2012).