header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions

Menggugat Keseimbangan antara Kerja dan Keluarga

Konstruksi Kerja Perempuan dalam Kapitalisme

Perempuan dan terutama para ibu rumah tangga telah dikonstruksikan secara patriarkal sebagai housewives dengan “kodrat” hidup di seputar reproductive work seperti mencuci pakaian dan mengurus anak. Konstruksi itu dimanfaatkan kapitalisme sebagai peluang untuk memajukan strategi akumulasi kapital dengan memanfaatkan rumah sebagai ruang kontestasi pembagian kerja secara gender yang paling kuat dan women’s work sebagai invisible work. Diskursus “work and family balance” pun mengemuka dan keberadaannya ternyata kian menyulitkan posisi perempuan dalam kapitalisme yang tak dapat dielakkan bersifat sangat patriarkal. 

“...women’s work dan women’s labor are buried deep in the heart of the capitalist social and economic structure” ...(David E Staples, No Place Like Home, hal. 4).

Pendahuluan

Akhir-akhir ini kita dapat menjumpai dengan mudah laman-laman iklan di dunia maya yang mempromosikan “online bussiness” atau bisnis daring berbasis rumah tangga yang dikerjakan oleh kaum perempuan, khususnya para ibu rumah tangga. Dengan tagline dan jargon seputar “work and family balance” atau keseimbangan antara keluarga/rumah tangga dan pekerjaan, banyak perempuan dan terutama para ibu rumah tangga yang kemudian tergoda untuk ikut terlibat di dalamnya. Tulisan ini sama sekali tidak ditujukan untuk mengusik sumber penghidupan orang lain, melainkan akan membahas wacana seputar “keseimbangan antara kerja dan keluarga”yang kecenderungannya seolah menjadi penebus utama nan menyejukkan bagi perempuan di tengah rumitnya kehidupan di alam patriarki dewasa ini.

Sekilas, wacana mengenai keseimbangan antara kerja dan keluarga yang kerap menjadi senjata utama dalam mempromosikan bisnis daring—atau lebih luas dalam kehidupan kerja perempuan— seolah tidak mengandung masalah. Namun, jika dilihat lebih cermat, wacana tersebut sebenarnya mengandung banyak masalah. Setidaknya ada tiga masalah utama dalam wacana itu. Pertama, wacana keseimbangan antara kerja dan keluarga melanggengkan konstruksi bahwa perempuan harus dapat tetap melakukan kerja rumah tangga (housework) seperti mencuci, memasak, mengurus anak dan suami, jika bekerja di luar rumah. Sementara itu, lelaki tidak perlu demikian. Kedua, kerja rumah tangga semakin tidak dianggap sebagai sebuah kerja (work). Konsekuensinya, melakukan kerja rumah tangga tetap dianggap sebagai sesuatu hal bersifat “kodrati” dan karenanya wajib dilakukan oleh perempuan. Jika kerja rumah tanggatidak dilakukan dengan baik, maka perempuan pun dianggap gagal menjalankan perannya sebagai perempuan—dalam hal ini sebagai istri.

Ketiga, tidak dianggapnya kerja-kerja perempuan di rumah sebagai sebuah kerja yang berdampak pada konstruksi lainnya mengenai penghasilan yang diperoleh perempuan. Karena “tugas utama” perempuan di dalam rumah, berbagai kerja di luar rumah dianggap sebagai kerja untuk memperoleh penghasilan tambahan. Walaupun dalam kenyataannya perempuan seringberperan sebagai pencari nafkah utama (breadwinner),  wacana keseimbangan antara kerja dan keluarga yang dilekatkan pada perempuan membuat kaum perempuan tetap dianggap sebagai pencari nafkah tambahan. Lebih jauh, konstruksi mengenai kerja rumah tangga sebagai kewajiban perempuan, serta perempuan bukan pencari nafkah utama,telah mengisolasi perempuan dan kemudian melanggengkan konstruksi-konstruksi patriarkal lainnya, termasuk kapasitas kepemimpinan perempuan yang dianggap tidak lebih tinggi dibanding laki-laki; tugas utama perempuan adalah mengerjakan pekerjaan di rumah, bukan menjadi pemimpin dalam rumah tangga.[1]

Perempuan, Reproductive Work, dan Housewives

Wacana keseimbangan antara kerja dan keluarga yang tampak tidak bermasalah justru melanggengkan konstruksi patriarkal yang selama ini melekat pada diri perempuan. Sayangnya, konstruksi patriarkal mengenai perempuan dan kerja itu turut diperkuat oleh para motivator sekaligus rohaniwan misoginis yang menggugat perempuan yang bekerja di luar rumah seperti Felix Siauw. Selain itu, dampak lain yang lebih besar dari wacana keseimbangan antara kerja dan keluarga adalah pelanggengan, meminjam istilah Maria Mies,pengiburumahtanggaan (housewifization) oleh kapitalisme. Pengiburumahtanggaan merupakan usaha kapital untuk mengeksploitasi tenaga kerja perempuan dengan memanfaatkan konstruksi patriarkal terhadap perempuan, sehingga membuat perempuan tunduk dan mengikuti alur kerja dalam skema akumulasi kapital.[2]

Lebih lanjut, kapitalisme pun memanfaatkan konstruksi patriarkal tersebut untuk mengeksploitasi perempuan dalam kerja borongan dankerja alih daya(outsourcing)dari pabrik yang dikerjakan di rumah atau berbasis rumah tangga (home-based labor). Dengan bayangan akan memperoleh “penghasilan tambahan” di tengah kesulitan ekonomi yang dihadapi, namun tetap dapat mengurus anak-anak di rumah, perempuan terutama ibu rumah tangga pun rela mengerjakan pekerjaaan borongan dari pabrik dengan jam kerja tak terbatas dan upah tidak seberapa.

Masalah mengenai perempuan dan kerja tersebut tersua dalam kegundahan para teoretikusfeminis, seperti Leopoldina Fortunati, dalam buku The Arcane of Reproduction:  Housework, Prostitution, Labor and Capital.”Dia menekankan soal perempuan dan kerja pada hubungan kerja produksi dan reproduksi, serta beranjak dari tradisi Marxisme yang membedah hubungan kerja melalui analisis ekonomi-politik. Fortunati menganalisis tenaga kerja dalam kapitalisme merupakan satu-satunya komoditas yang dapat dijual oleh para pekerja kepada kapitalis. Dalam hal ini, pekerja menjual tenaga kerja sebagai satu-satunya komoditas yang dimilikinya. Dalam kapitalisme, produksi komoditas merupakan hal yang fundamental, termasuk produksi tenaga kerja. Namun, proses produksi tenaga kerja yang lebih dikenal sebagai proses reproduksi itu dianggap sebagai sebuah proses produksi bersifat “alamiah” atau kodrati. Konsekuensinya, proses reproduksi dalam menciptakan tenaga kerja yang bertempat di wilayah personal (rumah) tidak diakui sebagai kerja yang diupah dan hanya menjadi latar dari produksi itu sendiri. Padahal, reproduksi merupakan corak produksi itu sendiri. Produksi tenaga kerja yang dianggap “alamiah” dalam proses reproduksi tersebut ditujukan agar kapitalis tidak mengeluarkan biaya apapun.  Pada akhirnya, reproduksi muncul sebagai sebuah proses yang dianggap kodrati dan tidak menghasilkan sesuatu yang “bernilai guna.” Padahal, reproduksi justru menghasilkan tenaga kerja yang posisinya sangat krusial dalam kapitalisme.

Terkait hal tersebut, terdapat dualitas tenaga kerja yang penting untuk dipahami. Pertama, keberadaan tenaga kerja seseorang (entah perempuan ataupun laki-laki) ada di dalam kapasitas mereka untuk memproduksi komoditas. Kedua, keberadaan tenaga kerja seseorang  di dalam kapasitasnya untuk mereproduksi individu sebagai tenaga kerja. Artinya, tenaga kerja menciptakan nilai (value)selama proses produksi dan mereproduksi diri sendiri (tenaga kerja baru) melalui proses reproduksi.[3] Dalam dualitas itu, meski pekerja laki-laki dan perempuan memiliki kapasitas tenaga kerja yang setara, perempuan-lah yang dibebankan sebagai penanggung jawab proses reproduksi yang dianggap “alamiah” tadi.

Dikonstruksikannya proses reproduksi sebagai proses produksi yang dianggap “alamiah” atau kodrati tersebut tidak terlepas dari kapitalisme yang memanfaatkan ideologi patriarki dan menguntungkan kapitalis. Karena itu, kerja reproduksi yang dibebankan kepada perempuan pun tidak dianggap sebagai kerja yang menghasilkan nilai sebagaimana dalam kerja produksi. 

Bersamaan dengan anggapan peran perempuan sebagai pencari nafkah tambahan, reproduksi yang disematkan kepada perempuan sebagai hal kodrati, termasuk dalam menghasilkan tenaga-tenaga baru untuk produksi pun akhirnya tetap bergantung pada laki-laki. Affective labor, yakni menggunakan faktor afeksi dalam kerja reproduksi sosial, dipakai untuk “mengelabui” kaum perempuan.[4] Dalam corak produksi kapitalisme, tenaga kerja perempuan (menurut kapasitas reproduksi) menjadi variabel yang terhubung dengan tenaga kerja laki-laki dan bukan dengan dirinya sendiri.[5] Namun demikian, kerja reproduktif (reproductive work) yang disematkan kepada perempuan sebagai suatu hal bersifat “kodrati” bukanlah takdir yang harus diterima begitu saja. Salah satu sektor kerja reproduktif yang dibebankan kepada perempuan ada di dalam kerangka kerja rumah tangga. Menurut Fortunati, kerja rumah tangga tetap merupakan  kerja produktif karena berjalan dengan logika yang sama dengan kerja-kerja lainnya.

Di sisi lain, dalam buku No Place Like Home: Organizing Home-Based Labor in the Era of Structural Adjustment, David E Staples membedakan antara housework dengan homework. Staples mendefinisikan housework sebagai pekerjaan yang dilakukan di rumah dan merupakan pekerjaan “rumahan”, seperti mencuci pakaian, mengurus anak, dan sebagainya. Sementara homework adalah pekerjaan yang dilakukan di rumah, namun belum tentu merupakan pekerjaan “rumahan”.[6] Staples memaparkan bahwa logika kapitalis neoliberal mengenai perempuan yang tidak bekerjaadalah pengangguran digunakan untuk menarik perempuan ke dalam sebuah corak produksi yang baru. Konseptualisasi pathriarchal capital mengenai women’s work  dan home pun kemudian mendefinisikan apa yang dihitung dan apa yang tidak dihitung sebagai kerja.

Pembagian kerja di rumah yang tak kunjung mengalami perubahan juga membuat kapital memanfaatkan konstruksi patriarkal yang memosisikan perempuan sebagai penanggung jawab reproductive work yang berada  di rumah (at home). Kapital juga memanfaatkan konstruksi patriarkal mengenai mother’s work dan penghasilan tambahan ke dalam proses produksi. Pengejawantahan dari pemanfaatan ideologi patriarki ke dalam proses produksi itu antara lain dapat dilihat pada fenomena kian maraknya perempuan pekerja rumahan. Dalam home-based work, para perempuan—sebagian besar ibu rumah tangga—mengerjakan pekerjaan borongan dari pabrik dengan upah rendah dan jam kerja tinggi. Menurut Staples, perempuan pekerja rumahan itu telah masuk ke dalam skema produksi di pabrik-pabrik.

Dalam pemaparannya, Staples menekankan bahwa studi politik mengenai pekerja rumahan merupakan kunci untuk menjawab persoalan invisibilitas (ketersembunyian) kerja perempuan. Dengan memanfaatkan konstruksi patriarkal mengenai apa yang didefinisikan sebagai “kerja perempuan”, home-based work kemudian menawarkan konsep “bekerja di rumah” sebagai jawaban bagi ibu rumah tanggamengenai “keseimbangan antara kerja dan keluarga.” Dalam konsep “bekerja di rumah” terdapat dimensi fleksibilitas kerja yang tinggi sekaligus pemanfaatan ruang patriarkal yang akut demi akumulasi kapital. Keadaan demikian bergerak kian masif seiring dengan finansialisasi global; berbagai transaksi keuangan transnasional berjalan semakin cepat yang pada akhirnya memengaruhi pergerakan modal.

Dalam konteks negeri-negeri berkembang, situasi akumulasi global tersebut tidak dapat diproses tanpa adanya tekanan ekonomi-politik berupa kebijakan-kebijakan penyesuaian struktural.[7] Washington Consensus telah memaksa negara-negara berkembang merestrukturisasi pasar dan ekonomi dalam negeri sebagai syarat untuk melanjutkan pinjaman internasional mereka dari lembaga-lembaga keuangan internasional.  Pasar bebas sebagai konsekuensi dari penataan pasar dan ekonomi dalam negeri pun tak dapat dihindari dan kebanyakan dimasuki oleh perempuan melalui kerja di pabrik-pabrik sweatshops dan/atau “inside home”.[8] Para pekerja perempuan berbasis rumahan pun melakukan pekerjaan borongan dari pabrik di dalam rumah dan tetap mengidentifikasi diri sebagai ibu rumah tangga. Sekali lagi hal itu berkaitan dengan kerja rumah tangga sebagai invisible work.Karena patriarki mengonstruksi kerja tersebut sebagai tugas utama para ibu rumah tangga,maka ia tidak dianggap sebagai kerja.

Meningkatnya jumlah perempuan yang bekerja di luar rumah nyatanya tetap tidak mengubah konstruksi mengenai “kodrat” perempuan dalam mengerjakan pekerjaan di dalam rumah. Dengan kata lain, meski perempuan bekerja di luar rumah, kewajiban utama perempuan tetap berada di dalam rumah. Dalam hal ini, menurut Staples, rumah dan kerja beroposisi secara ideologis. Meski jumlah pekerja rumahan di seluruh dunia  hampir mencapai 300 juta orang, para perempuan tersebut tidak dilihat sebagai pekerja melainkan tetap sebagai ibu rumah tangga dan berada di luar angkatan kerja (labor force). Staples mengemukakan konsep “house as home, that is space as place[9] untuk mengungkapkan konstruksi patriarkal mengenai “lebih baik ditindas di rumah sendiri daripada di luar rumah dan bukan oleh orang yang dikenal (dalam hal ini, di rumah oleh suami).” Akibatnya, selain pekerjaan yang dilakukan perempuan dianggap invisible, para perempuan pekerja rumahan pun sulit mengorganisasikan diri ke dalam sebuah serikat buruh, karena spasial dari rumah yang membatasi mereka untuk berkumpul dan cenderung teratomisasi.

Penutup

Terjerat dalam kehidupan kapitalisme yang berkait kelindan dengan ideologi patriarki, apa yang dikerjakan perempuan, khususnya ibu rumah tangga, di dalam rumah pun tidak dianggap sebagai kerja. Pengiburumahtanggaandigencarkan kapitalisme demi memperlancar akumulasi kapital dengan memanfaatkan konstruksi patriarkal mengenai kerja perempuan dalam pekerjaan di rumahdan kebutuhan untuk mencari penghasilan tambahan. Diskursus mengenai “keseimbangan antara kerja dan keluarga” pun muncul tanpa dapat mengatasi akar permasalahan penindasan yang dialami perempuan. Diskursus tersebut bukan hanya melemahkan, tetapi juga menghilangkan kekuatan perempuan untuk melawan akar masalah posisi perempuan dan kerja dalam kapitalisme. Jika diskursus keseimbangan antara kerja dan keluarga terus-menerus dipelihara, maka posisi perempuan dalam siklus produksi dan reproduksi tetap tidak akan berubah. Kapitalisme pun dapat dengan sangat mudah memanfaatkannya untuk mengeksploitasi perempuan dengan hanya melakukan “pemindahan lokus kerja” dari rumah ke luar rumah dan sebaliknya. Dengan demikian, sebagaimana dinyatakan Fortunati bahwa perempuan merupakan subjek fundamental dari kerja, pembebasan kaum pekerja—termasuk perempuan pekerja—pun harus didasarkan atas analisis feminisme kritis.***



[1] Mariarosa Dalla Costa dan Selma James, The Power of Women and the Subversion of the Community (Bristol: Falling Walls Press Ltd., 1972), hal. 30.

[2] Maria Mies, Patriarchy & Accumulation on a World Scale: Women in the International Division of Labour (London: Zed Book, Ltd., 1998), hal. 53.

[3] Leopoldina Fortunati, The Arcane of Reproduction:  Housework, Prostitution, Labor and Capital (New York: Autonomedia, 1995), hal. 9.

[4] David E Staples, No Place Like Home: Organizing Home-Based Labor in the Era of Structural Adjustment (London: Routledge, 2006), hal. 19.

[5] Fortunati, op.cit.,  hal. 14.

[6] Staples, op.cit., hal. 48-52.

[7] Ibid., hal. 20.

[8] Ibid., hal. 21.

[9] Ibid., hal. 59.

 

Write a comment...
awesome comments!
Fathimah Fildzah Izzati

Fathimah Fildzah Izzati adalah peneliti di Pusat Penelitian Politik LIPI, anggota redaksi Indoprogress, dan penulis buku Politik Serikat Buruh dan Kaum Precariat: Pengalaman Tangerang dan Karawang.