header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions

Semangat Bandung, Third-Worldism, dan Emansipasi Dunia Ketiga

KONFERENSI Asia-Afrika (KAA) tahun ini sudah berumur 60 tahun sejak diselenggarakan kali pertama di Bandung pada 19-24 April 1955. Dalam kurun  tersebut, KAA telah banyak menghasilkan capaian dalam mendorong proses perdamaian serta dekolonialisasi di negara-negara Dunia Ketiga. Namun demikian, tantangan zaman yang sudah sedemikian mengglobal dewasa ini perlu merumuskan ulang tujuan KAA agar tetap adaptif dan inovatif dalam memperjuangkan kesetaraan dan perdamaian di Dunia Ketiga. Dasasila Bandung, yang  dalam kajian akademik lebih dikenal sebagai “Bandung Spirit”, menjadi salah satu tonggak dan pendorong utama dalam proses dekolonialisasi negara-negara Dunia Ketiga pasca-KAA 1955.

Usai penyelenggaraan KAA 1955, tercatat lebih dari 71 negara di Asia dan Afrika berhasil mengecap kemerdekaan dari belenggu kolonialisme dan imperialisme. Capaian penting diraih lantaran adanya solidaritas dan soliditas yang dibangun oleh para pemimpin Dunia Ketiga kala itu untuk menjadi satu poros kekuatan alternatif di tengah-tengah kepungan Blok Kapitalis Amerika Serikat dan Blok Komunis Uni Sovyet. Bandung Spirit itulah yang mengantarkan tatanan dunia internasional untuk tidak lagi berebut pengaruh dan hegemoni, namun lebih mengedepankan kemandirian dan semangat kooperasi.

Sumbangsih terpenting yang dihasilkan pasca-KAA 1955 adalah ideologi Third-Worldism.[i] Ini adalah ideologi yang mendorong adanya emansipasi, independensi, serta kemandirian negara-negara Dunia Ketiga untuk membangun tatanan dunia yang lebih baik. Ideologi tersebut banyak mengambil nilai-nilai  Bandung Spirit yang intinya adalah membangun Dunia Ketiga lebih maju dan tidak inferior dengan negara-negara Dunia Pertama. Soekarno sendiri pernah menegaskan third worldism tersebut ketika berpidato di depan Majelis Umum  PBB tahun 1964 dengan tajuk To Build the World a New, yang intinya adalah membangun tatanan dunia yang lebih kooperatif dan seimbang antara negara-negara Dunia Pertama, Dunia Kedua, dan Dunia Ketiga. 

Namun demikian, pasca 1970-an, semangat Third-Worldism mulai terkikis karena negara-negara Dunia Ketiga tidak mampu mempertahankan soliditas dan solidaritasnya sebagai blok baru dalam konstelasi internasional. Bahkan, negara Dunia Ketiga menjadi arena blok kapitalis dan blok komunis saling berebut  hegemoni.  Tampaknya ada semacam kekosongan gagasan intelektual programatik, baik dalam Bandung Spirit maupun Third-Worldism, dalam menyusun agenda ekonomi-politik yang membuat negara-negara Dunia Ketiga justru terperangkap pada gagasan “pembangunanisme”, Konsensus Washington, serta neoliberalisme.[ii]

Kiranya tepat apa yang dikatakan Soekarno dan Kwame Nkrumah bahwa kolonialisme dan imperialisme berganti rupa menjadi neoimperialisme di bidang ekonomi bila negara-negara Dunia Ketiga tidak mampu mengembangkan ekonominya secara berdikari. Apa yang terjadi dengan masih banyaknya ketimpangan, kemiskinan, serta bencana kelaparan di banyak negara Asia dan Afrika sekarang ini adalah karena diskontinuitas dan “melalaikan” poin penting Bandung Spirit, yakni emansipasi dan independensi. Reformulasi programatik di bidang ekonomi dalam Bandung Spirit juga belum “disesuaikan” dengan kondisi kekinian. Implikasinya, penyelenggaraan KAA pasca 1955-1964 lebih bersifat seremonial dan minim rencana aksi yang mau dibangun untuk memajukan negara-negara Asia-Afrika.

Reformulasi Bandung Spirit dan Third-Worldism

Momentum peringatan 60 tahun KAA seharusnya dimaknai sebagai tahun “emas” untuk melihat apa saja yang berhasil diraih KAA hingga detik ini. Namun, bila masih dimaknai dalam balutan seremonial, premisif, apalagi normatif, maka sangatlah mubazir penyelenggaraan KAA tahun ini di Jakarta dan Bandung. Di luar lingkup  negara-negara Dunia Ketiga,  falsafah Bandung Spirit yang juga termaktub dalam Third-Worldism banyak mengilhami organisasi masyarakat sipil di negara-negara Dunia Ketiga untuk bergerak memperjuangkan hak-hak masyarakat sipil yang selama ini kurang didengar oleh negara. Pada akhirnya, kondisi subalternitas, voice of voiceless, serta marjinalisasi yang dialami masyarakat Dunia Ketiga mulai terangkat menjadi isu global. Ide besar “New World” yang dicetuskan Soekarno kemudian berkembang menjadi “Alternative World” pada tahun 1990-an yang pada dekade 2000-an mencetuskan gagasan “Another World is Possible” oleh Forum Sosial Dunia di Porto Alegre, Brasil.  Bahkan, gerakan #occupy  sejak 2010 hingga kini yang digerakkan oleh para aktivis di negara maju dan negara berkembang dalam mengkritik sistem kapitalisme dunia yang kolaps juga terinspirasi dari gagasan tersebut.

Masih hidup dan berkembangnya Third-Worldism “buah” dari KAA Bandung mengindikasikan bahwa membangun tatanan dunia yang lebih baik dan inklusif bagi negara dan masyarakat masih tetap disuarakan. Karena itu, perhelatan 60 tahun KAA setidaknya mengakomodasi dan mengafirmasi kembali gagasan-gagasan tersebut untuk berkembang menjadi poros baru dalam konstelasi global masa kini. Jangan sampai hingga akhir penyelenggaraan KAA 60 tahun  tidak ada follow up yang dilakukan oleh 79 pemimpin Asia-Afrika dalam mengembalikan Bandung Spirit sebagai identitas politik kolektif. Dengan kata lain, sangatlah mubazir dan memalukan bila perayaan peringatan 60 tahun KAA hanya berlangsung sesuai daftar acara yang telah ditetapkan,  namun miskin rencana aksi ke depan untuk memajukan negara-negara Asia-Afrika.***



[i] Lihat Samir Amin, Global History: View from South, (London: Pambazuka Press, 2010).

[ii]Robert Young,  Postcolonialism: An Historical Introduction, (London: Wiley, 2010). 

Write a comment...
awesome comments!
Wasisto Raharjo Jati

Wasisto Raharjo Jati adalah Peneliti di Pusat Penelitian Politik, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI); dilahirkan di Yogyakarta, 15 Maret 1990. Pendidikan dasar dan menengah diselesaikannya di kota tersebut. Pada tahun 2012, menamatkaan kuliah (S-1) di Jurusan Politik dan Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Aktif menulis di berbagai jurnal ilmiah nasional terakreditasi yang dipublikasikan seperti Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurnal Borneo Administrator, Jurnal Ulul Albab, Jurnal el-Harakah, dan jurnal ilmiah lainnya. Aktif menulis kolom opini juga di berbagai macam media massa, baik lokal maupun nasional, serta menulis dalam salah satu bab buku berjudul Penelitian Kualitatif: Pengalaman dari UGM (2011) terbitan Center of Politic and Governance Studies, Jurusan Politik dan Pemerintahan, Fisipol UGM. Pernah bekerja sebagai peneliti di Center of Politic and Media Research Yogyakarta. Bidang kajian yang kini tengah digeluti adalah globalisasi, politik lokal, ekonomi-politik internasional serta politik budaya