header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
EDITORIAL4

Begal yang Masuk Strong Area

Jika aneka berita dalam media massa diibaratkan sebagai pemain teater, maka laporan tentang perampokan sepeda motor berikut kekerasannya adalah aktor yang oleh skenario kini hendak ditempatkan di dalam strong area, bagian panggung pertunjukan yang paling kuat merebut perhatian penonton.

Berbarengan dengan berkecamuknya laporan mengenai pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan berita tentang ketegangan antara Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama dengan DPRD, berita perampokan sepeda motor muncul begitu sering dalam beberapa pekan belakangan ini. Ia tampil sensasional, membawa publik ke dalam mimpi buruk yang menakutkan. Walau tak ada modus baru yang dipakai para penjahat, sebagai berita kriminal ia kini mendapat nama spesial: begal (perampok yang mengadang korbannya di tempat sepi) dan pembegalan. Ia menjadi begitu populer berkat usaha para jurnalis yang “berkantor” di markas polisi.

Media massa mungkin merasa tengah menabuh peringatan bahaya bagi publik dengan menulis berbagai judul yang menggetarkan: Aksi Begal Menebar Teror; Begal Dibakar Hidup-hidup; Depok Darurat Begal, Dalam Satu Hari Dua Kejadian, Satu Korban Dibacok Satu Tewas; Indonesia Darurat Begal!; Membela Diri dari Tukang Begal Hingga Syahid ... dan entah apa lagi. Apakah kini kenyataan di lapangan begitu menakutkan seperti yang dilukiskan judul laporan itu?

Menurut kriminolog dari Universitas Indonesia, Iqrak Sulhin, data tentang jenis kejahatan itu belum dapat dianggap mengkhawatirkan. Walau dia mengingatkan agar khalayak tidak meremehkan kejahatan itu, aksi begal dia nilai tidak perlu ditanggapi berlebihan.

Keberlebih-lebihan memang terasa jika membaca dan mendengar berita media massa. Dibandingkan dengan pembajakan bus dan perampokan harta penumpang, perampokan taksi yang diikuti pembunuhan pengemudinya, serta perampokan bank dan nasabahnya beberapa waktu lalu, aksi begal tersaji lebih menakutkan akibat kata-kata “bacok”, “dibakar hidup-hidup”,  atau “dikalungi clurit” yang mewarnai laporan itu.

Kejahatan seperti itu adalah jenis kriminalitas yang tidak asing bagi kota besar yang padat penduduk. Bahwa kecemasan tak usah dibangkit-bangkitkan sebetulnya dibenarkan oleh data di Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya). Catatan polisi sendiri menunjukkan, kasus pencurian dengan kekerasan—pembegalan sepeda motor termasuk jenis ini—pada 2013 turun 10 persen dibandingkan dengan tahun 2012. Dari 2013 ke 2014 terjadi lagi penurunan dengan persentase hampir sama (9,9 persen). Namun, pada awal 2015 Polda Metro Jaya menyatakan 13 wilayah di Ibu Kota rawan aksi perampokan sepeda motor, diikuti keterangan bahwa dalam sepekan pada akhir Januari lalu ada empat kasus serupa yang terjadi di wilayahnya.

Untuk wilayah Polda Metro Jaya—mencakup Jakarta Raya seluas 662 Km2, sebagian wilayah Banten dan sebagian wilayah Jawa Barat, dengan penduduk di atas 20 juta jiwa—empat kasus pencurian dengan kekerasan dalam seminggu adalah angka yang normal. Hanya saja selama bulan Februari berita begal menjadi marak.Polisi kian rajin memberikan keterangan tentang hal itu. Media massa pun amat kreatif “mengembangbiakkan” laporannya. Satu kasus pembegalan dikisahkan menjadi empat atau lima berita oleh satu media. Maka timbullah kesan ada upaya blow-up untuk berita itu, dan blow-up ini tergolong berlebihan.

Memang tak ada salahnya media massa mengingatkan publik akan bahaya yang sewaktu-waktu bisa mengancam. Namun, akan lebih baik jika media massa memeriksa diri kembali apakah pelaporan melebihi kenyataan. Kalaulah benar, untuk apa itu dilakukan? Apakah penciuman berita para jurnalis tidak lagi dituntun oleh kenyataan yang berlangsung di lapangan, atau untuk membuat perhatian penonton teralihkan adakah yang mendorong-dorong fenomena begal merebut strong area di panggung berita?***

Write a comment...
awesome comments!
Masmimar Mangiang

Masmimar Mangiang (lahir tahun 1949) adalah wartawan senior, ahli ilmu komunikasi dan kini mengajar pada Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Indonesia dan Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) sejak tahun 1989. Sebagai wartawan, dia pernah menjadi pemimpin redaksi harian ekonomi Neraca, dan sebelumnya, pernah menjadi wartawan untuk beberapa media, di antaranya Majalah Tempo, Harian Kami, Harian Pedoman, dan Majalah Fokus, serta menjadi redaktur pelaksana Jurnal Prisma pada akhir 1980an. Dia juga telah menulis dan menyunting banyak buku sejak 1972.

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Galeri Editorial