header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions

Jejak Edisi Soekarno

MERANCANG nomor Soekarno, puluhan tahun setelah meninggalnya Bung Karno pada 1970, adalah upaya mulia, namun mengandung risiko untuk sebuah penerbitan seperti Prisma. Sejumlah alasan dapat dikemukakan sebagai berikut.Pertama, tentu saja tidak ada tokoh Indonesia yang menarik perhatian dunia akademis dan intelektual, baik nasional maupun internasional, seperti Soekarno. Ini berarti bahwa hampir setiap isu sudah dibahas dan hampir tiada yang tersisa untuk dibahas lagi. Kedua, para peneliti Soekarno, baik nasional maupun internasional, pada dasarnya adalah orang yang hidup sezaman atau sedikit lebih muda dari Soekarno. Ini mengantarkan kita pada alasan ketiga, yaitu jarang bisa ditemukan para peneliti muda yang tertarik dan terobsesi pada Soekarno the man dan Soekarno the statesman.

Prisma-Soekarno1Namun, ada semacam coincidentia oppositorum, hal-hal saling bertentangan satu sama lain yang berjalan bersama dalam hubungan dengan Soekarno the man dan Soekarno the statesman. Soekarno adalah masa lalu dan tiba-tiba Soekarno adalah masa kini. Soekarno tidak relevan dengan dunia modern, dan tiba-tiba Soekarno sangat relevan dengan perkembangan ekonomi-politik modern. Soekarno tidak menjadi referensi dalam dunia dengan perdagangan bebas; namun, di tengah perdagangan bebas Soekarno ditengok kembali bila seseorang berpikir tentang “kepentingan bangsa” dan “harkat kebangsaan”, yang jadi soal besar dalam perdagangan bebas itu.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan secara rutin menggelar bulan Juni setiap tahun menjadi “bulan Soekarno.” Atas inisiatif  Wakil Presiden Boediono akan dikerjakan pemulihan, restorasi situs-situs Bung Karno di Ende Flores. Untuk itu dibentuk Yayasan Ende Flores, dan pemimpin redaksi Prisma diajak untuk menjadi salah satu anggota pengurus yayasan. Hal lain lagi adalah inisiatif Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) memopulerkan konsep “Empat Pilar” sebagai basis ideologis negara yang membangkitkan kontroversi dengan persoalan inti Pancasila dijadikan sama dengan yang lain, yaitu menjadi “pilar.” Berbicara tentang Pancasila adalah berbicara tentang Soekarno.

Semua hal tersebut di atas seolah-olah menyiapkan suasana bahwa Soekarno tidak dilupakan orang, dan Soekarno masih menjadi subjek political discourse Indonesia modern. Pada Agustus 2012, penulis catatan ini diundang Mega Institute sebagai salah satu panelis dalam ceramah tentang relevansi Soekarno untuk Indonesia. Setelah mengemukakan beberapa pendapat dalam acara tanya jawab, penulis dengan gamblang mengemukakan bahwa untuk mengangkat kembali relevansi Soekarno maka “tahun depan perayaan hari lahirnya Pancasila akan kami pindahkan dari Jakarta ke Ende. Ende akan menjadi pusat perhatian ketika satu Juni diletakkan kembali menjadi tanggal lahirnya Pancasila dan bukan “hari kesaktian Pancasila” versi Orde Baru, satu Oktober.

Pada waktu itu,hampir semua hadirin tertawa terbahak-bahak atas ucapan di atas dan menganggap Daniel Dhakidae sedang bermimpi. Memang, pada saat itu sebenarnya sedang bermimpi. Namun, saya sangat mengetahui bahwa itu bukan mimpi. Salah satu alasannya, Yayasan Ende Flores dengan Dewan Pembina yang diketuai Dr Boediono sudah mendapat jaminan dari beberapa bank akan membantu pembiayaannya sebesar 12 miliar rupiah. Dari jumlah itu, 7,5 miliar rupiah akan segera dikucurkan untuk merestorasi rumah pengasingan Bung Karno dan Taman Bung Karno di Ende. Atas dasar itulah penulis berani “berpongah” di depan umum bahwa “kami akan pindahkan pusat perayaan hari lahirnya Pancasila ke Ende.” 

Namun, yang jauh lebih merangsang penulis adalah seminar di Mega Institute. Seminar tersebut memberikan inspirasi, yaitu Prisma pasti mampu mengeluarkan sebuah edisi yang lebih komprehensif tentang Soekarno. Pada suatu sore akhir Agustus 2012, penulis yang tengah menunggu sebuah acara, membunuh waktu dengan mampir di sebuah kedai kopi Starbucks di bilangan Kebayoran Baru dan mulai merancang nomor Prisma

Hampir sebagian besar menerima tawaran menulis, di samping ada beberapa penulis yang menolak karena keterbatasan waktu. Ketegangan sebetulnya mulai memuncak, terutama karena menantikan seperti apa penampilan edisi itu yang memang dirancang untuk ditulis oleh sebagian besar anak muda. Dari semua penulis yang benar-benar menepati tenggat yang ditentukan redaksi ialah Seno Gumira Ajidarma, yang diberi tugas menulis tentang bahasa Soekarno. Ketika membaca tulisan Seno, para redaktur merasa lega karena isi dan riset yang mendukungnya sangat prima. Dengan itu optimisme tentang edisi Soekarno bertumbuh.

Namun, kekhawatiran sebetulnya lebih mengenai tulisan saya sendiri tentang Soekarno dan Ende, terutama karena minimnya bahan-bahan. Bisa dihitung dengan jari mereka yang memberi perhatian khusus pada masa empat tahun ketika Soekarno berdiam di Ende dalam political exile dalam bentuk buku ataupun dalam bentuk catatan kecil. Dalam pencarian lebih lanjut ternyata bahan-bahan tidak seminim seperti saya bayangkan.

Dalam perjalanan untuk sosialisasi restorasi situs-situs Bung Karno di Ende bulan April 2012, saya mengambil waktu khusus membaca tulisan-tulisan dalam bentuk grafiti di pagar beton di sekeliling pohon sukun yang terkenal itu. Ada banyak jenis tulisan iseng anak-anak muda tergurat di tembok beton itu. Misalnya, grafiti sepasang remaja yang saling jatuh cinta di bawah pohon sukun itu. Namun, ada satu yang menarik perhatian penulis karena aneh dan hampir seluruhnya tidak masuk akal, yang dikutip persis seperti ditulis di sana: “Sukarno bukan orang Jawa, sukarno orang dari Pulau Kolo, kota Jogo, kota Jogo tenggelam, dia lari ke pulau ende.” Ketika situs Bung Karno dikerjakan pagar beton lama dibongkar, dan semua grafiti itu hilang lenyap. Hanya grafiti di atas yang saya selamatkan. 

Pengalaman lain dalam kunjungan sosialisasi tersebut adalah begitu banyak kelompok yang mengaku anak-anak dari para pemain tonil Soekarno datang memprotes panitia karena mereka tidak diundang dalam acara yang dibuat oleh pemerintah daerah Ende. Salah seorang di antara mereka membawa sebuah  buku catatan kecil yang di Flores biasa disebut cahier (baca kayé, bahasa Perancis). Di sana tersua dan tertulis pengalaman orang bernama Djae Bara, salah seorang anggota tim pemain tonil Bung Karno.

Penulis tertarik pada lagu yang diajarkan Soekarno sebagaimana tertulis dalam cahier tersebut. Di sana dikatakan bahwa Soekarno mengajar lagu dalam bahasa Latin yang berbunyi “Yofeta yofeta nasarara sanita.” Sebagai orang yang paham bahasa Latin, penulis tertawa terpingkal-pingkal, bagaimana mungkin bahasa Latin dalam bentuk seperti itu; lebih mungkin menjadi bahasa Tetum di Pulau Timor. Dalam progres penulisan ditemukan buku ... di sana judul benar bisa dibaca sebagai “Io vivat ... io vivat ... nostrorum sanitas”, sehat dan sejahteralah kawan-kawan kita, lagu mahasiswa Universitas Leiden, Belanda, abad ke-19, yang tidak lain adalah lagu minum-minum bir dan anggur mahasiswa Eropa--tidak jauh berbeda dengan lagu Batak, Lisoi.

Dalam hubungan dengan lagu Latin di atas yang menjadi lagu pengiring tonil/drama Bung Karno, penulis masuk ke dalam sebuah wilayah yang menantang pencarian lebih lanjut. Bagaimana lagu tersebut sampai datang ke Ende? Sangat mungkin lagu tersebut tidak lain adalah salah satu dari lagu-lagu mapram (masa perkenalan mahasiswa baru) atau masa orientasi Soekarno sendiri di Technische Hooge School te Bandung. Mapram, masa prabakti mahasiswa, sudah dilarang di Indonesia sekitar tahun 1970-an, karena ekses kekerasan fisik yang mencabut nyawa beberapa mahasiswa. Penulis sendiri dalam masa mapram di Universitas Gadjah Mada tidak pernah mendengar lagu tersebut, dan hampir tidak mungkin mendapatkan partiturnya. Nah, ada akal ... Google knows all! Ketika dicari di youtube, wow ... lagu itu ada dalam dua versi sekaligus! Tanpa banyak pikir lagu itu dikirim ke Ende, dan penulis menelepon khusus seorang pastor muda, master dalam musikologi, alumnus Institut Seni Indonesia Yogyakarta, untuk membuat aransemen baru dari monofonik menjadi polifonik. Lagu itu berhasil diaransemen ulang dengan sangat bagus.

Begitu juga dengan urusan drama/tonil Bung Karno. Ada belasan judul tonil yang digubah Soekarno di Ende. Dari judul-judul tersebut penulis mencari sesuatu yang khas berhubungan dengan Ende, dan ditemukan judul “Kelimutu”, danau tiga warna di sana. Dalam progres penulisan, penulis mendapat teks drama tersebut. Andi Maharani, Sekretaris Eksekutif Prisma Resource Center, segera mengetik teks tersebut dan kemudian mengirimnya via surat elektronik ke Ende. Naskah drama tersebut diperbanyak untuk menjadi bahan pelatihan dan kelak dimainkan oleh grup teater Universitas Flores.

Inilah riset untuk penulisan tokoh Bung Karno yang menyeret penulis ke dalam bidang sampingan, seperti musik dan drama. Membaca naskah-naskah lama tentang pengadilan Bung Karno di Bandung, drama-drama Bung Karno, dan mendengar lagu yang diajar Bung Karno di Ende benar-benar menenggelamkan penulis ke dalam dunia Soekarno sedemikian rupa sampai terjadi hal-hal berikut ini.

Pada suatu waktu Bung Karno datang ke suatu pertemuan kecil. Bung Karno agak gemuk, botak dari depan sampai ke tengah batok kepalanya, namun, berambut gondrong sebahu di belakang kepala. Bung Karno berkata dengan suara lantang: “Sejak sekarang semua urusan Ende diserahkan kepada Daniel!” Penulis lantas menggandeng tangan kanannya dan mengajak berjalan, serta berkata: “Bung...! Ini pasar! Kalau Bung mau berpidato inilah tempatnya.” Tiba-tiba Soekarno menghilang, penulis sadar, bangun dari tidur, dan ternyata jam menunjukkan pukul 06:00 pagi Sabtu bulan April 2013. Obsesi untuk menyiapkan edisi Soekarno terbawa-bawa ke dalam mimpi!

Ketika Prisma terbit, inilah nomor masif hampir setebal 300 halaman yang memecahkan rekor sepanjang waktu sejak jurnal ini diterbitkan kali pertama pada 1971. Berbagai masalah praktis menumpuk. Pertama, Yayasan Ende Flores membeli 500 eksemplar untuk dibagi-bagi dalam seminar yang diselenggarakan oleh Universitas Flores, 31 Mei 2013, sehari menjelang upacara kenegaraan hari lahir Pancasila, 1 Juni 2013.Kedua, karena Prisma terbit dua minggu menjelang satu Juni, masalah logistik mencuat ke permukaan. Bagaimana mengirim Prisma setebal itu dalam jumlah besar dan harus tepat tiba sebelum perayaan kelahiran Pancasila?

Beberapa alternatif dipertimbangkan. Pertimbangan utama dikirim dengan pos udara. Setelah dikonsultasikan ke pihak maskapai penerbangan Garuda, ongkos kirim ekspres untuk Prismasetebal itu mencapai Rp 15 juta. Sangat mahal. Selain mahal, ketepatan waktu tidak terjamin; kemungkinan tertinggal di Denpasar atau Kupang sangat tinggi. Akhirnya diputuskan Awan Dewangga dan Wawan Christiawan dari divisi  pemasaran dan distribusi Prisma mengawalnya sendiri ke Ende melalui jalan darat. Mereka membawa 40 paket yang ditempuh dalam waktu lima hari. Sungguh suatu rekor diciptakan karena sejak lahirnya tahun 1971 belum pernah hal ini dilakukan. Pengalaman tersebut direkam dalam beberapa foto di bawah ini (lihat, galeri foto).

Semua rencana yang diatur berjalan lancar. Dua hari sebelum perayaan kenegaraan tanggal 30 Mei 2013, malam tonil/drama “Kelimutu” dipentaskan di Universitas Flores yang memberikan penulis pengalaman pertama sambil membayangkan bagaimana drama tersebut untuk kali pertama dipentaskan di Ende hampir 80 tahun silam. Keesokan harinya, 31 Mei, sebelum diselenggarakan seminar dengan topik “Makna Soekarno bagi Ende dan Ende bagi Soekarno” dinyanyikan lagu Io Vivat, yang sudah diaransemen ulang menjadi polifonik, oleh paduan suara Universitas Flores, yang menggema begitu indahnya. Pada hari perayaan puncak, lagu tersebut dimadahkan lagi oleh koor 500 siswa SMA Negeri I, Ende. What a day!

***


Dua catatan penutup perlu diberikan untuk merangkum semua pengalaman di atas. Pertama, adalahimpactfulness dari nomor seperti edisi Soekarno. Kesimpulan ini diambil berdasarkan rentetan reaksi, pribadi dan publik, yang besar dan kecil, terhadap edisi itu. Sesudah rangkaian acara di Universitas Flores, perayaan hari kelahiran Pancasila yang melibatkan MPR-RI, Kantor Wakil Presiden RI, kantor Pemda NTT, seminar tentang edisi Soekarno diselenggarakan di Universitas Airlangga, Surabaya. Dalam hubungan itu Pemda Jawa Timur membeli 200 eksemplar Prisma untuk dibagi-bagi pada seminar yang sengaja diselenggarakan di aula Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, di ruang klasik dengan arsitektur gothik, tempat Presiden Soekarno menandatangani akte pendirian Universitas Airlangga puluhan tahun silam. Kehadiran para rektor dari universitas lain di dalam ruang seminar yang penuh meluber sungguh memberikan semangat yang tinggi kepada para editor, dan siapa pun dari kami yang memelihara Prisma. Tentu saja itulah euforia sesaat yang perlu mendapat apresiasi. Ketika Penerbit Buku Kompas menerbitkan Prisma edisi Soekarno dalam bentuk buku setebal 400 halaman dan mendapatreview yang brilian, maka sesuatu yang lain lagi tampil ke depan.

Semua itu mengangkat ke permukaan bahwa yang sangat penting bagi Prisma sebagai sebuah jurnal, yang mengalami kematian panjang selama sepuluh tahun, adalah apa yang disebut sebagai impactfulness.Ketika diputuskan untuk menjadi jurnal dengan 4 kali terbit setahun, disadari sejak awal bahwa daya-tampak, visibility, di pasar menjadi amat sangat terbatas. Demikian pula halnya dengan tiras rata-rata sebanyak 2.500 eksemplar daya jangkau kepada publik Indonesia. Namun, di tengah keterbatasan ituPrisma harus menjadi impactful, membawa dampak dalam berbagai arti: dampak intelektual, akademik, politik, kultural, dan sosial pada umumnya. Jauh melebihi edisi “Kelas Menengah”, “ Bisnis dan Politik”, edisi Soekarno secara meyakinkan membuktikan hal itu.

Kedua, catatan ringan ini tiba-tiba menjadi “serius” karena kehadiran unsur-unsur “tak berguna” yang ditemukan dalam proses penelitian, namun memberikan persoalan epistemologis yang dahsyat ketika semuanya dipungut menjadi data yang dipakai penulis untuk meneliti Soekarno di Ende. Ada beberapa temuan “tidak berguna” yang dipakai sebagai data untuk menilik Soekarno di Ende. Pertama, adalah “catatan liar” di dinding pelindung pohon sukun tempat Soekarno bersemadi dalam penemuan Pancasila yang mengatakan bahwa Soekarno bukan orang Jawa. Kedua, kesaksian tentang Soekarno yang mendapat gelar insinyur dan doktor di Tiongkok. Soekarno tidak pernah keluar negeri sebelum menjadi presiden. Ketiga, Soekarno guru besar ITB zaman Belanda, yang pasti tidak benar. Keempat, Soekarno doktor tamatan Belanda--sama sekali di luar kenyataan. Kelima, lagu Latin berjudul “Yofefa yofefa nasarara sanita”--semuanya semata-mata akibat sonic deception atau sonic misrepresentation alias tipuan bunyi akibat salah dengar yang alang kepalang.

Dokumen-dokumen di atas itu melanggar semua kebenaran, kalau kebenaran dilihat secara lurus, karena semuanya bisa dibantah mentah-mentah sejauh berhubungan dengan kepalsuannya. Dalam historiografi positif semuanya ditolak dan dimasukkan ke dalam kategori palsu, dan karena itu tidak valid serta tidak historis, dan seharusnya dikeluarkan dari analisis. 

Namun, sebaliknya yang terjadi. Peneliti ini menyimpannya dengan cermat dan menghormati semua itu sebagai sesuatu yang sangat penting, yaitu sebagai text; dan karena itulah teks, mereka seharusnya memiliki suatu context yang pada gilirannya membatasi sejarah sebagaimana dipahami (the limit of history atau lebih tepat the limit of historiography). Karena itu, suatu putaran perspektif harus dilakukan dengan asumsi bahwa semuanya bukan sekadar suatu historiografi, akan tetapi harus bergerak keluar dengan menjadikannya meta-historiografi dalam arti mempertanyakan apa itu kebenaran historis dan apa yang memungkinkan kebenaran historis itu. Dengan demikian, yang dikerjakan adalah sebuah proses dekonstruksi terhadap sejarah dalam hubungan dengan Soekarno.

Dekonstruksi itu berlangsung kira-kira sebagai berikut. Apa yang memungkinkan “catatan liar” pemuda itu menganggap Soekarno “bukan orang Jawa”, tapi orang “pulau Kolo?” Yang terjadi di sana adalah Soekarno historis menjadi suatu interface antara “orang dalam”, Soekarno orang Jawa, dan “orang luar”, Soekarno orang pulau Kolo. Pulau Jawa adalah suatu kenyataan politik kekuasaan kolonial yang memungkinkan pembuangan Soekarno ke Ende, sedangkan pulau Kolo adalah suatu kenyataan mitis, di luar kekuasaan kolonial dengan Jawa sebagai representasi. Soekarno dibuang, namun diselamatkan oleh suatu kekuasaan yang jauh lebih tinggi, yaitu kekuatan mitis kota Djogo yang berada di pulau mitis lain, yaitu Pulau Ende.

Bila ditempatkan dalam perspektif itu, tidak penting lagi hierarki Jawa sebagai pusat dan Pulau Ende sebagai periferi. Seluruh hierarki itu didestruksikan, dibinasakan, dihancurkan, dan yang tinggal hanya Soekarno, yang menjadi hinge, yaitu engsel pintu yang menutup dan membuka pintu bolak-balik, yang bisa keluar dan sekaligus masuk lagi: keluar dari “orang Jawa” menjadi “orang pulau Kolo” pulau Ende, dan sebaliknya keluar dari “orang mitis” dan masuk lagi menjadi “orang Jawa historis” yang dibuang ke Ende. Dengan demikian, Soekarno menjadi mirip dewa Romawi, Ianus, yang bermuka dua--muka historis sekaligus juga muka mitis. Bahwa dia orang Jawa atau bukan sudah tidak penting lagi karena yang ada adalah Soekarno historico-mitikal.***


Daniel Dhakidae Jakarta, 5 Februari 2014

Write a comment...
awesome comments!

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.