header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions

Sampiran, Isi, dan Sisi-sisi Kehidupan Menurut Pantun

JOHN GAWA, penyair asal Flores, pengajar bahasa Indonesia di Darwin, Australia, menerbitkan buku Kebijakan dalam 1001 PantunWisdom in 1001 Pantun (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2004). Buku setebal 275 halaman itu memuat sebuah eksperimen pantun baru dwibahasa Inggris-Indonesia. Itu lebih merupakan usaha untuk menyelamatkan pantun. Namun, yang bisa dibaca di dalam buku ini adalah diciptakannya pantun-pantun baru berdasarkan kehidupan modern di sekeliling kita.


Karena itu diciptakan sampiran pantun dari kehidupan nyata modern, demikian pula isi pantun. Sebuah contoh bisa diberikan tentang hari peringatan“Peristiwa 911,”ketika Menara Kembar World Trade Center, New York City, Amerika Serikat, runtuh setelah diterjang dua pesawat terbang pada 2001:

Amerika adi kuasa Rakyat
makmur negeri sentosa 
11 September hari Selasa 
Diam membisu seribu bahasa. (hal. 48)

Atau usaha menerjemahkan pantun ke dalam bahasa Inggris sebagai berikut:

Jack fruits have plenty of sap
We eat them too, regardless
Timorese girl have a lot of demands
Eager men will marry them still. (hal. 233)

Tulisan di bawah ini adalah semacam pengantar/komentar yang diterbitkan dalam buku tersebut (hal. 27-34). Pengantar itu diterbitkan kembali sekadar usaha untuk merangsang kembali kegairahan diskusi tentang “harta-karun” yang disebut pantun—yang kolot tapi modern; tua, namun merangsang berbagai pikiran baru; kuno, akan tetapi menghidupkan kegirangan bangsa ini sepanjang masa, sampai dengan hari ini. [DD

1

Dalam rangka kerjasama penelitian tentang “kelas menengah” dengan Universiti Kebangsaan Malaysia, penulis bersama beberapa staf Litbang Kompas berada di Kuala Lumpur beberapa tahun silam. Di tengah ngobrol ngalor-ngidul tak berketentuan sambil makan malam, tiba-tiba dari mulut seorang kolega perempuan Malaysia tercetus pantun. Seolah-olah tidak mau kalah, penulis melantunkan sebuah pantun balasan yang segera dibalas lagi oleh seorang kawan dari Malaysia untuk mengarah pada balas-membalas dalam rangkaian panjang pantun-berpantun.

Penulis langsung mengatakan menyerah. Kalau berbalas pantun dengan kawan-kawan dari Malaysia, orang Indonesia pasti kalah. Malaysia jauh lebih terampil dan unggul berpantun dibandingkan dengan rekan-rekannya di Indonesia, karena dalam pergaulan modern berpantun memberikan kesan antik, berasal dari zaman entah kapan, dan karena itu boleh dikatakan pantun sudah mati.

2

Namun, ini pun agak berlebih-lebihan. Kalau seseorang dengan teliti mendengar radio swasta, sekurang-kurangnya beberapa radio di Jakarta, selalu ada mata acara lomba berpantun, terutama pantun jenaka dan pantun cinta, dan selalu dalam perpaduan dengan musik dangdut.

Yang kita hadapi dalam buku ini adalah sesuatu yang sangat berbeda. Menciptakan ratusan pantun baru berdasarkan suatu refleksi pada abad ke-21 di Indonesia adalah kerja yang hampir tidak masuk akal kebanyakan orang Indonesia, suatu kegiatan melawan arus. Kalau pun berpantun maka dari kegiatan semacam itu yang mungkin diharapkan para pembaca adalah mengumpulkan pantun-pantun tua dalam suatu koleksi. Akan tetapi, menciptakan pantun-pantun baru secara kreatif dalam hubungan dengan berbagai jenis pengalaman kehidupan seperti yang dilakukan John Gawa dalam bentuk buku, seperti yang ada di hadapan para peminat pantun, boleh dibilang tidak ada. Hampir tidak terbayangkan bagaimana menciptakan ratusan pantun tersebut.

Sedemikian tidak percayanya seseorang membaca judul buku ini, sehingga pertanyaan yang muncul adalah pertanyaan ingkar seperti seberapa tidak relevannya dan bukan “seberapa relevan” pantun bagi kehidupan sosial dan politik Indonesia modern. Namun, yang terjadi adalah kebalikannya karena dalam proses membaca dan menikmati buku ini para pembaca akan terpukau pada kemampuan penciptanya.

Pertanyaan di atas tentu saja pertanyaan elitis bila kehidupan desa-desa di Indonesia diambil sebagai bahan pertimbangan. Kenyataan di sana agak berbeda. Hampir tidak ada perundingan resmi di desa di mana pantun tidak dilantunkan bukan saja dalam bahasa Indonesia, akan tetapi dalam bahasa daerah masing-masing—untuk tidak menyebut daerah seperti Minangkabau dan daerah lain di Sumatera; suatu perundingan peminangan senantiasa berlangsung dengan pantun yang memegang peran penting.

Namun, bukan hanya di sana. Bilamana diperhatikan kehidupan sosial-politik Indonesia modern, pada saat-saat genting pantun sering muncul dan mengambil peran penting. Contoh terbaik adalah kegentingan politik tingkat tinggi yang berlangsung di Surabaya ketika berlangsung kongres luar biasa Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada 1993.

3

Tiga contoh berikut ini bisa menggambarkan suasana. Ketika menyampaikan pandangan yang mewakili organisasi cabang dan ketika mengemukakan keinginan serta pilihan tentang siapa ketua umum PDI, salah seorang wakil dari Kota Madya Pekanbaru menuturkannya dengan pantun sebagai berikut:

Ujungpandang kota bestari 
Banyak wisatawan luarnegeri 
Surabaya tempat KLB PDI 
Mbak Megawati pemersatu PDI

Seorang juru bicara dari Batamberpantun dan memberikan dukungan:

Batam kota industri
Singapura di depan mata
Jika ingin mendapat idola hati
Maka Mbak Mega-lah pilihannya

Ada pula yang mengundang para peserta kongres menyanyikan lagu "Surabaya”, gubahan Dara Puspita, yang dimodifikasi menjadi pantun untuk kongres:

Surabaya, oh...Surabaya, di tahun empat lima
Berjuang untuk membela nyawa;
Surabaya, oh...Surabaya di tahun sembilan tiga
Berjuang untuk Mbak Mega.

(Dilaporkan dengan sangat rinci oleh Detik, 8-14 Desember 1993).

Pantun-pantun di atas tidak dapat dipahami dan tidak bisa dilepas dari konteks sosial-politik pada periode akhir Orde Baru yang mengitari Kongres PDI di Surabaya tahun 1993. Dalam periode ini, Orde Baru menjadi ganas dan beringas. Sentralisasi makin meningkat; kekuasaan menjadi milik pribadi. Toleransi terhadap alternatif ditekan ke titik nol. Daerah harus patuh kepada pusat. Dalam konteks inilah tiga pantun di atas harus dibaca.

Pantun pertama hanya bisa dipahami kalau diingat perpecahan dan usaha memecah-belah yang disponsori Orde Baru terhadap PDI yang tidak ingin memilih Megawati sebagai ketua partai. Dengan berbagai komplikasi politik yang terjadi,Kongres PDI sesungguhnya di Medan tidak diakui, dan harus diselenggarakan suatu kongres baru di Surabaya, yang disebut sebagai kongres luar biasa, KLB. Persidangan-persidangan macet, sedangkan izin kongres sangat terbatas pada hari dan harus diselesaikan pada jam yang telah ditentukan. Melewati jam 00:00 pada hari terakhir dengan acara tunggal memilih ketua umum maka izin dianggap batal, dan kongres dianggap gagal karena tidak memenuhi batas jam terakhir. Ketegangan sangat tinggi karena panitia penyelenggara, disebut care taker, yang seharusnya memimpin sidang tidak mau menjalankan sidang.

Maka jam-jam menunggu oleh para anggota kongres diisi dengan pantun-pantun politik yang diciptakan di tempat untuk beberapa keperluan berikut ini. Pertama, untuk melepaskan ketegangan menunggu apakah sidang akan diselenggarakan atau tidak dan apa gerangan hasilnya nanti. Kedua, menghidupkan semangat di kalangan peserta kongres, yang mulai lelah dan bosan, akan tujuan kongres sambil menempatkan sang calon, Megawati, dalam posisi sentral. Ketiga, mempermainkan keadaan yang sedemikian tegang menjadi pertunjukan keahlian dan keterampilan berpantun.

4

Dalam pantun selalu ada dua dimensi, yaitu pertama yang disebut sampiran. Konvensi mengatakan bahwa tidak ada yang sungguh-sungguh dengan sampiran. Sampiran semata-mata diciptakan sebagai pengantar menuju isi yang sebenarnya dalam dua larik berikutnya. Bila kita berpedoman pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, hal yang sama ditegaskan tentang sampiran sebagai berikut: “Paruh pertama pada pantun, yaitu baris kesatu dan kedua berupa kalimat-kalimat yang biasanya hanya merupakan persediaan bunyi kata untuk disamakan dengan bunyi kata pada isi pantun (biasanya kalimat-kalimat pada sampiran tak ada hubungan makna dengan kalimat-kalimat pada bagian isi).”

Bila tiga pantun yang diambil di atas bisa menjadi pegangan, maka sampiran tidak semata-mata tanpa isi dan tak ada hubungan makna dengan kalimat-kalimat pada bagian isi. Bila diperhatikan pantun-pantun di atas,maka dengan sangat sengaja nama kota menjadi sampiran. Pertanyaannya, apakah semua itu serba kebetulan atau sekadar menciptakan ritme yang akan disusul dengan ritme serupa di dalam isi yang menjadi tujuan sesungguhnya berpantun? Pemeriksaan yang sungguh-sungguh mengatakan sebaliknya; dalam sampiran ada isi dan ada hubungan makna. Pemilihan nama kota-kota dimaksudkan untuk lebih menjadi penegasan betapa kota tempat cabang-cabang partai di provinsi memegang peran sangat besar dalam kongres tersebut. Intensitas makna itu menjadi semakin tinggi lagi karena cabang-cabang di kota provinsi bukan sekadar datang untuk memenuhi dan menghadiri sidang, tetapi mereka datang untuk menghadiri sidang dengan “kepastian” mendukung seorang calon lain dan bukan sebagaimana sudah didikte oleh Kodam di tempat asal masing-masing. Pantun menjadi perlawanan politik dalam arti sesungguhnya!

5

Dalam arti itu, yang terjadi di Surabaya sungguh sangat mengejutkan. Semua perjanjian dengan pemimpin militer daerah dan pemerintah setempat dilanggar. Semula mereka berjanji tidak akan memilih Megawati dan karena itu diberi imbalan berupa “bekal” untuk berangkat ke Surabaya. Di Surabaya pula semua janji tersebut diingkari. Mereka berbelok dan mengambil risiko untuk memilih Megawati. Tumpuan PDI berada di daerah untuk memenangkan kongres luar biasa karena itu pujian kepada daerah seperti Ujungpandang kota bestari dan mengatakan sesuatu tentang potensi daerah seperti Batam kota industri dan terutama lagi Surabaya kota pejuang sebagai sampiran pantun ketiga semakin menegaskan betapa kota dipilih bukan secara kebetulan. Sampiran menjadi tidak semata-mata sampiran, namun juga mungkin menjadi isi sesungguhnya pantun tersebut. Semua kian meningkat ketika pantun ketiga dimasukkan dengan sekali lagi nama kota perjuangan Surabaya menjadi sampiran yang kini menjadi kota kongres. Di sini hilang batas antara sampiran dan isi; sampiran adalah isi dan isi adalah sampiran sebagaimana akan dikemukakan di bawah.

Larik isi yang mengatakan Mbak Megawati pemersatu PDI adalah ungkapan politik sesungguhnya; demikian pula larik Maka Mbak Mega-lah pilihannya lebih mencerminkan tekad politik untuk memilih dengan daerah sebagai basis. Di tengah ketegangan pantun mempermainkan sesuatu yang sungguh-sungguh, yaitu isi, Megawati calon ketua umum, dengan sesuatu yang main-main, sampiran, di mana yang main-main pun menjadi sangat sungguh-sungguh.

Dengan pembatalan kongres karena jam sudah menunjukkan pukul 00:00, maka seluruh isi kongres juga menjadi batal ketika Megawati sebagai pemersatu tidak jadi diformalkan, dan “Megalah pilihannya” tidak bisa ditentukan karena pemilihan ketua umum tidak jadi diselenggarakan. Yang terjadi adalah transformasi politik yang luar biasa ketika kongres luarbiasa tidak lain dari pantun kehidupan dalam bentuk besar. KLB jadi pantun, Surabaya jadi pantun. Ada semacam metastasis di sana dan pantunlah yang memungkinkannya ketika Surabaya dan KLB kehilangan “isi” dan oleh kekuasaan politik ditransformasikan mejadi “sampiran.”

Malah bukan saja isi pantun menjadi sampiran akan tetapi seluruh kongres luar biasa Surabaya menjadi sampiran dan hanya menjadi pengantar kepada “kongres” lain lagi yang sebenarnya bukan kongres—karena apa yang lebih “luar biasa” dari suatu kongres luar biasa?—akan tetapi suatu bentuk pertemuan yang dibuat-buat sebagai pengganti kongres untuk mengesahkan apa yang menjadi trend politik pada kongres Surabaya. Megawati terpilih saat itu.

6

Buku yang memuat 1001 pantun—benar-benar jumlahnya seribu satu pantun—ini seolah-olah mengingatkan kembali masyarakat negeri ini bahwa terbuka begitu banyak kemungkinan dalam hidup. Pantun hidup dalam ketidakpastian hidup. Yang sering dianggap “sampiran” sangat boleh jadi adalah “isi” sesungguhnya suatu kehidupan, sedangkan yang dianggap “isi” kehidupan jangan-jangan semata-mata menjadi “sampiran.” “Isi” dan “sampiran” bertukar tempat dan menjadi relatif, sampiran menjadi relasional terhadap isi yang mewakili hidup; demikian pun isi menjadi relasional terhadap unsur hidup yang lain lagi.

Kalau semuanya relatif, apa yang menentukan mutu suatu kehidupan? Kesejatian, die Eigentlichkeit, kata Martin Heidegger, yaitu ketika Aku mengambil alih keputusan untuk menjadi keputusanku sendiri untuk mengolah kehidupan sebagai penyair, petani, wartawan, dosen, dan profesional lainnya. Tindakan ini tidak lain muncul dari anggapan bahwa sebagian besar sisi kehidupan adalah “sampiran” yang harus diberikan isi oleh sang “Aku” dalam pergaulan dengan orang lain, yaitu “Aku-Aku” yang lain. Kehidupan itu hanya “sampiran” sampai saat sang Aku sendiri memutuskan bahwa bagian hidup itu menjadi bagian-Aku—oleh Heidegger disebut jemeinig atau Jemeinigkeit. Semakin tinggi kepemilikan Aku dalam keputusan eksistensial semakin sejati kehidupan sang Aku.

Theodor Wiesengrund Adorno, seorang tokoh utama Frankfurter Schule, aliran filsafat kritis yang berbasis di Frankfurt, menggugat paham kesejatian dalam hidup dengan menyepelekannya bahwa konsep itu sewenang-wenang, lebih menjadi jargon daripada substansi dengan ejekan dalam satu buku khusus yang diterbitkan dengan judul Jargon der Eigentlichkeit. Sewenang-wenang karena kesejatian sang Aku tidak mungkin dengan sendirinya diperoleh tanpa mengingkari kesejatian orang lain. Kesejatian yang semata-mata dirumuskan karena hubungan Aku dan Kau melepaskan dirinya dari proses sejarah karena Aku bukan sekadar aku, tetapi seseorang yang sudah berada dalam struktur sosial-ekonomi sebagai kapitalis, borjuis, atau pekerja, dan lain-lain.

Perkembangan kapitalisme industri berjalan sedemikian rupa, sehingga hanya menghasilkan penindasan dan perampasan kebebasan serta dominasi seseorang terhadap orang lain. Dengan itu hidup menjadi massal dalam penindasan. Dalam hubungan itu kesejatian hanya menjadi propaganda murahan dan memutuskan manusia dari kesejarahan. Atau, kalau boleh memakai bahasa pantun, tanpa menganggap dan memanfaatkan orang lain sebagai “sampiran” sulit sang “Aku” mengukir “isi” menjadi “Aku” sejati.

7

Bukan tempatnya di sini memecahkan soal besar tentang “kesejatian” sang Aku dan kepalsuan Aku “sampiran” karena dalam hidup sesungguhnya “isi” dan “sampiran” dengan mudah bertukar tempat. Namun, semuanya ini hanya mengatakan bahwa konsep binarium “sampiran” dan “isi” mungkin sudah saatnya mengalami perubahan makna demi “keadilan” terhadap sampiran. Namun, terjadi atau tidak terjadi perubahan, pantun merangsang pemeriksaan sesuatu yang jauh dari yang dimaksudkan oleh pantun itu sendiri—persandingan antara sampiran dan isi. Pantun mungkin tidak menolak Heidegger yang semata-mata mementingkan kesejatian isi sambil meremehkan sampiran. Pantun juga tidak mentah-mentah menerima Adorno yang mengejek kesejatian isi dan menganggapnya semata-mata “sampiran” sampai penindasan dihentikan, dan dominasi atas sesama manusia dimusnahkan dari kehidupan untuk mencapai manusia yang sudah mengalami emansipasi.

Pantun menampilkan dimensi hidup kolektif agraria yang sangat berbeda justru karena kehadiran “sampiran” yang merelativisasi persoalan menjadi main-main, yaitu bermain-main dalam kesungguhan dan bersungguh-sungguh dalam permainan. Hanya di sana antara main-main dan bersungguh-sungguh kepribadian dapat ditemukan dan dipupuk. Hanya dengan itu hidup mengalami emansipasi dan, siapa tahu, menuju kesejatian tanpa harus menindas.

Pantun sudah mati, hidup pantun!***

Write a comment...
awesome comments!
More in this category: Utomo Sahabatku »

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.