header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
EDITORIAL4

Annus Horribilissimus

WILAYAH Asia Tenggara pada 2014 menjadi pusat perhatian dunia. Perhatian terutama diberikan karena berita duka yang berasal dari wilayah ini; kecelakaan demi kecelakaan pesawat terbang. Pada bulan Maret, dunia dikejutkan oleh menghilangnya dari “muka bumi” sebuah pesawat perusahaan Malaysia dengan tujuan Beijing dengan korban 239 orang; delapan puluh persen adalah orang Tiongkok. Pada bulan Juli, pesawat perusahaan Malaysia yang bertolak dari Schiphol, Belanda, ditembak oleh pemberontak di Ukraina; 298 penumpang tewas. Sebagian besar, 193 penumpang, adalah orang Belanda.

Kesedihan belum pudar. Pada akhir Desember 2014, AirAsia suatu maskapai penerbangan dari Malaysia dengan berbagai anak usaha di beberapa negara, termasuk Indonesia, lagi-lagi menarik perhatian dunia, ketika 162 orang—hampir semuanya orang Indonesia, tewas di dasar laut. Tiga perusahaan penerbangan Malaysia menelan korban tiga bangsa—Tiongkok, Belanda, dan Indonesia.

Hampir tidak salah mengatakan bahwa 2014 adalah annus horribilissimus, tahun paling mengerikan, paling hitam bagi dunia pada umumnya dan Asia Tenggara khususnya, terutama bagi bangsa ini. Tragedi demi tragedi berlangsung dengan perjalanan berpesawat terbang persis pada saat Indonesia mengenang sepuluh tahun tragedi terbesar, bencana tsunami Aceh; semuanya susun-menyusun di atas bahu bangsa ini.

Ada bercabang-cabang soal yang mengemuka dengan peristiwa-peristiwa tragis berat semacam itu. Pertama, menunjukkan betapa tak berdayanya manusia berhadapan dengan semua itu. Dengan korban manusia sebanyak itu reaksi spontan sebelum banyak berpikir adalah: Ya ... Allah! Oh ...God!

Pada dasarnya semua itu adalah kecelakaan buatan manusia dalam arti teknologi yang tidak mampu meramal keadaan cuaca di depan; komunikasi yang gagal antara pilot dan penjaga di bumi, dan lain-lain. Namun, karena begitu besarnya, hanya ada dua tempat ke mana manusia mengadu, yaitu Alam dan Allah ataupun sebaliknya.

Di depan kedua-duanya dalam peristiwa semacam itu, manusia tidak berdaya—kehidupan tak bisa dipulihkan kembali; kehidupan hanya menjadi arus yang silih-berganti dari satu kelompok ke kelompok lain yang satu lewat dan yang lain muncul—terus-menerus tak terhingga hingga planet ini hancur atau dihancurkan oleh maha-bintang lain yang juga mengalami kematian.

Hanya setelah mengambil jarak, beberapa pertimbangan teknis selalu bisa dikemukakan secara post factum, seperti keamanan pesawat tidak terjamin; salah paham dalam komunikasi antara pilot dan penjaga/pemantau teknologi di darat, dan bermacam lagi yang lain.

Ada beberapa sikap yang bisa diambil di sini. Pertama, menganggapnya sebagai tragedi semata-mata. Tragedi tidak pernah bisa dipahami dalam sejarah manusia, kapan pun. Sejarah tidak pernah mengajar kepada kita bagaimana menyelesaikan tragedi, karena dalam tragedi ada beberapa unsur di luar akal. Itu pun ucapan yang penuh kontradiksi karena masyarakat rasional tidak percaya pada tragedi. Untuk paham ini tragedi adalah “kegagalan” mencapai tujuan yang ditentukan.

Kedua, aspek etis suatu tragedi. Dalam berpikir rasional, kecelakaan adalah kegagalan dalam segala arti. Karena itu, hampir tidak dibicarakan di sana etika kecuali etos kerja seperti ketidaktelitian; kegagalan memberikan informasi yang tepat tentang cuaca, perubahan jam terbang demi mengejar target berapa jumlah penumpang yang harus diterbangkan et cetera agar biayabisa diatasi demi laba. Di sana tidak dibicarakan tentang manusia, akan tetapi penumpang.

Aspek etis hanya dibicarakan ketika melihat tragedi sebagai truth about human spirit (Terry Eagleton), kebenaran tentang jiwa manusia. Di mana letak jiwa manusia dalam tragedi AirAsia? Ada beraneka macam. Beberapa di antaranya adalah kegigihan pilot yang berusaha mati-matian menghadang kebengisan alam di depan matanya; pilot yang harus menyelamatkan 160 nyawa, di luar dirinya dan ko-pilot, seorang Perancis; kepanikan penumpang tentang dirinya sendiri, dan kepanikan tentang siapa yang harus menjaga siapa —keberanian seorang ibu untuk memilih menjaga anaknya dan bukan dirinya. Semua kepanikan itu harus diubah menjadi ketenangan agar tidak menjadi kepanikan baru— yang akhirnya menuju ketenangan abadi, kematian.

Hanya dengan melihat seperti itu, tragedi menciptakan lahan baru bagi manusia dan kemanusiaan. Lahan baru tersebut bukan dengan menebarkan berita dari menit ke menit, akan tetapi sesuatu yang disebut sebagai metanoiamengeluarkan diri manusia itu dari dirinya sendiri, memahami diri dan masyarakatnya, serta membuat langkah sama sekali baru, yang dalam hal ini mengubah paham manajemen transportasi bahwa mereka yang berada di dalam pesawat terbang, kapal laut, kereta api, dan bus kota, bukan penumpang, akan tetapi manusia.***

Write a comment...
awesome comments!
Daniel Dhakidae

Daniel Dhakidae meraih gelar PhD (1991) di bidang pemerintahan dari Department of Government, Cornell University, Ithaca, New York, Amerika Serikat, dengan disertasi bertajuk “The State, the Rise of Capital, and the Fall of Political Journalism, Political Economy of Indonesian News Industry.”
Disertasi tersebut mendapat penghargaan the Lauriston Sharp Prize dari Southeast Asian Program Cornell University, karena telah “memberikan sumbangan luar biasa bagi perkembangan ilmu.” Meraih gelar Sarjana Ilmu Administrasi Negara dari Fakultas Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada (1975) dan Master of Arts bidang Ilmu Politik dari Cornell University (1987).
Selain menjadi Kepala Penelitian Pengembangan (Litbang) Kompas sejak 1994 sampai 2006, juga berkiprah sebagai redaktur majalah Prisma (1976); Ketua Dewan Redaksi Prisma (1979-1984); dan Wakil Direktur Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan, Ekonomi dan Sosial (LP3ES, 1982-1984). Pria kelahiran Toto-Wolowae, Ngada, Flores, 22 Agustus 1945, yang tercatat sebagai salah seorang pendiri Yayasan Tifa dan pernah duduk di Dewan Pengarah yayasan ini kemudian “menghidupkan” kembali jurnal pemikiran sosial ekonomi Prisma dan duduk sebagai Pemimpin Redaksi (sejak 2009) merangkap Pemimpin Umum (sejak 2011).
Banyak buku pernah ditulisnya antara lain Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru (2003) dan bersama Vedi Renandi Hadiz menyunting buku bertajuk Social Science and Power in Indonesia (2005).

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Galeri Editorial