header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
EDITORIAL4

Menemukan Pahlawan

DALAM dengung kata revolusi yang dihadirkan kembali oleh Presiden Joko Widodo bagaimanakah Hari Pahlawan yang lahir dalam semangat revolusi setengah abad silam lebih itu harus dimaknai?

Ketika Soekarno memulai perayaan Hari Pahlawan pada 10 November 1949, dia bukan sekadar mengajak mengenang serbuan Sekutu yang sedemikian gencar dan perlawanan perkasa yang diperlihatkan arek Suroboyo. Soekarno memang bersemangat menandai 10 November sebagai awal Perang Kemerdekaan sekaligus menyebutnya Great Patriotic War; dia lebih ingin melihatnya sebagai saat-saat entusiasme rakyat akan kemerdekaan sedang berada pada tingkat idealisme tertinggi.

Rasanya sejarawan Taufik Abdullah benar bahwa 10 November adalah ajakan Soekarno menukik lebih ke dalam sejarah Republik Indonesia yang diproklamasikannya bersama Hatta atas nama bangsa Indonesia itu bukan sekadar klaim sepihak mereka sebagai elite. Proklamasi kemerdekaan tidak bisa dianggap kejadian yang hanya menyangkut kaum terpelajar dan mereka yang terkemuka saja. Berbagai tindakan rakyat Surabaya pada 10 November adalah pernyataan keras bahwa proklamasi kemerdekaan sesungguhnya mewakili aspirasi bangsa. Tak ayal disebutlah saat itu sebagai “masa revolusi.”

Namun, revolusi yang harus dilihat bukan saat segala aturan normal dijadikan tidak berlaku, melainkan lebih pada suasana yang memperlihatkan keterlibatan politik massa yang luas dan intens. Itulah suasana revolusi yang disebut Hannah Arendt sebagai semangat baru dan semangat dari bermulanya sesuatu yang baru. Sebab itu, antara Proklamasi sebagai peristiwa di kalangan elite dan Peristiwa 10 November sebagai peristiwa yang melibatkan massa adalah saat paling menentukan dalam sejarah nasionalisme serta proses pembentukan bangsa.

Begitulah nasionalisme Indonesia akhirnya harus dipahami bukan sebagaimana yang kini sering dikisahkan seakan-akan hanyalah sejarah negatif, yakni melawan kolonialisme. Kolonialisme itu sendiri melulu diartikan kekuatan asing. Padahal, nasionalisme sejatinya adalah proyek yang positif, yaitu bagaimana bersama-sama belajar menggembleng menjadi manusia baru, yaitu manusia Indonesia.Manusia Indonesia yang dibayangkan kaum pergerakan itu adalah manusia yang berdiri tegak, tidak bungkuk dan tidak menginjak, terbuka, dinamis, mandiri, bernyali, bermartabat, dan berperikemanusiaan. Manusia Indonesia inilah yang tersalin di Surabaya dan disusul banyak tempat lain di Indonesia setelah 10 November 1945.

Dalam konteks inilah peristiwa 10 November bukanlah melulu saat penting dalam sejarah militer, tetapi saat penting nasionalisme bangsa yang diimajinasikan elite minoritas mewujud dan dianggap perwujudan dari kekuasaan yang berasal dari rakyat sendiri; saat visi yang dirumuskan kalangan terpelajar mendapat dukungan massa. Tatkala cita-cita nasionalisme tentang membentuk manusia Indonesia bisa tersalin dalam pola perilaku yang bahkan menuntut—kata Soekarno—“jiwa besar yang berani menelan kesulitan-kesulitan, jiwa besar yang rela memberikan jiwa raga tidak separuh-separuh untuk suatu harapan besar.”

Khususnya, mengingat Peristiwa 10 November sebagai Hari Pahlawan—ketika kata “revolusi” kini dihadirkan kembali ke tengah masyarakat—seharusnya bukan sekadar aktivitas mengenang pantheon atau tokoh-tokoh nasional terpilih dengan aneka upacara pemujaan. Seraya mendengungkan kembali pesan revolusi manusia-manusia Indonesia pertama setengah abad silam itu untuk terus-menerus membentuk tanpa henti manusia Indonesia sebagai kerja yang harus dilanjutkan dan tak boleh berhenti. Menjadi manusia Indonesia bukanlah sesuatu yang alamiah, tetapi diciptakan dan menuntut tekad, solidaritas, serta kerelaan berkorban.

Hanya dengan manusia Indonesia seperti itulah cita-cita revolusi Indonesia yang sekaligus juga idealitas Pancasila, yakni masyarakat adil makmur, akan tercapai. Sebab itu, jika kata revolusi yang kini didengung-dengungkan hendak menemukan arti historisnya harus diarahkan pada kerja yang disebut Soekarno tak boleh bosan, harus ulet, pantang putus asa, jangan kurang tabah, jangan kurang rajin dalam mencipta karya cipta besar, yaitu manusia Indonesia.

Demikianlah merayakan 10 November jadi lebih bermakna, sebab bukan aktivitas pasif mengelus-elus pujaaan lama, tetapi aktif meredefinisi dan merevisi dengan agenda dan makna baru nasionalisme serta revolusi sebagai kerja menciptakan manusia-manusia Indonesia sesuai cita-cita pahlawan dulu yang akan jadi pahlawan hidup kini yang menyalakan lilin harapan di tengah keredupan nurani keadilan zaman pasca-nasionalisme.***

Write a comment...
awesome comments!
JJ Rizal

JJ Rizal dilahirkan di Jakarta pada 1975. Menyelesaikan kuliah (1998) di Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dengan skripsi berjudul “Sitor Situmorang: Biografi Politik 1956-1967.” Dia mendirikan Penerbit Komunitas Bambu (Kobam) yang secara khusus menggarap buku-buku ilmu pengetahuan budaya dan humaniora. Selain editor buku, dia juga menyusun sejumlah tulisan sejarah di berbagai media massa terkemuka. Dia menjadi kolomnis sejarah Batavia-Betawi-Jakarta di sebuah majalah internasional berpusat di Belanda, MOESSON Het Indisch Maandblad (2001-2006). Pada 2009, dia mendapat Anugerah Budaya Gubernur DKI Jakarta. Tulisannya tentang Junghuhn di National Geographic Indonesia terpilih sebagai “The Best International 2010” oleh National Geographic International Magazine menyisihkan ratusan artikel dari 36 majalah National Geographic di luar Amerika. Pada 2011, dia memperoleh Jakarta Book Awards dari Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Jakarta karena dinilai telah “share knowledge and change lives through books.” Beberapa karyanya telah dibukukan, antara lain, Politik Kota Kita (2006); Onze Ong: Onghokham dalam Kenangan (2007); Sejarah yang Memihak: Mengenang Sartono Kartodirdjo (2008); dan Raden Saleh: Anak Belanda, Mooi Indie dan Nasionalisme. Karya puisinya dibukukan dalam Pura-pura dalam Perahu (1998). Dia juga menjadi tim penulis buku muatan lokal DKI Jakarta Ragam Budaya Betawi (2001) dan kelompok kerja pengkajian muatan lokal DKI Jakarta yang dibentuk Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB, 2003). Dia pun pernah membuat film pendek Tayang Weta Un Lalan: Perjalanan Sejarawan Adrian B Lapian (2009) dan Memuja Rare Angon: Sekilas Tradisi Layangan Bali (2010). Kini, selain kolomnis di majalah Djakarta!, narasumber tetap untuk acara rutin di sebuah stasiun radio di Jakarta, juga menduduki jabatan Direktur Kelompok Penerbit Kobam (KPK).

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Galeri Editorial