header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
EDITORIAL4

Kerja Keras Menuju Indonesia Baru

PRESIDEN terpilih, Joko Widodo, telah mengumumkan dan melantik kabinetnya pada 27 Oktober 2014. Kabinet ini diberi nama “Kabinet Kerja” sesuai harapan Presiden agar para menteri bekerja sekuat tenaga meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memenuhi kepercayaan masyarakat yang sangat tinggi. Ekspektasi masyarakat memang sangat besar terhadap Presiden Joko Widodo beserta kabinetnya. Hal ini disadari sepenuhnya oleh Presiden, sehingga beliau menekankan agar para menteri bekerja sama dan bekerja cepat menghilangkan ego sektoral dan berbagai hambatan birokrasi.

Ekspektasi masyarakat yang begitu besar bisa menjadi beban bagi Presiden beserta kabinet barunya. Hal ini wajar, masyarakat memang sudah lama merindukan terciptanya Indonesia yang lebih maju, lebih berkeadilan, dan lebih sejahtera. Presiden beserta kabinet baru mewarisi berbagai persoalan yang belum sempat diselesaikan pemerintahan sebelumnya, seperti masih besarnya tingkat ketimpangan ekonomi antar-wilayah dan lemahnya kinerja sektor perdagangan dan industri yang berakibat pada lemahnya proses penciptaan lapangan kerja baru.

Kinerja sektor perdagangan dan industri memang banyak disorot oleh masyarakat akademisi dan investor. Indonesia menghadapi penurunan ekspor akibat melemahnya harga komoditas ekspor unggulan, seperti crude palm oil (CPO), batubara, dan barang mineral lainnya. Penurunan ekspor juga disebabkan oleh adanya larangan ekspor barang-barang mineral. Di sisi lain, impor barang modal dan bahan baku masih relatif tinggi, sehingga menyebabkan terjadinya defisit perdagangan barang. Belum lagi sektor perdagangan jasa yang sejak dulu selalu mengalami defisit. Sektor industri manufaktur kita masih belum memiliki daya saing untuk meningkatkan pangsa ekspor. Akibatnya, kita selalu tergantung pada ekspor produk hasil sumber daya alam. Semua itu merupakan tantangan serius bagi menteri perdagangan dan perindustrian serta seluruh anggota kabinet lainnya. Kabinet baru harus dapat bekerja sama secara efektif menghilangkan ekonomi biaya tinggi, membangun infrastruktur, dan mengurangi hambatan-hambatan birokrasi.

Indonesia sedang menghadapi tantangan besar dalam menarik kepercayaan investor. Waktu yang tersedia sangat sempit karena pada akhir 2015 Indonesia sudah harus berhadapan dengan kerja sama masyarakat ekonomi ASEAN (AEC). Dalam kerja sama itu, Indonesia harus mampu meningkatkan efisiensi serta daya saing ekonomi agar dapat meraup manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Indonesia juga harus mampu menjaga stabilitas ekonomi, politik, dan keamanan. Stabilitas ekonomi, politik, dan keamanan akan menjadi kunci bagi masuknya investasi dan berkembangnya usaha-usaha produktif yang dapat menciptakan lapangan kerja baru.

Presiden beserta para menterinya harus mulai menyusun strategi berikut langkah aksi bagaimana mewujudkan berbagai janji selama masa kampanye. Bagaimana, misalnya, membangun poros maritim, ekonomi maritim, serta ketahanan pangan dan energi. Janji-janji tersebut memang terdengar indah, tetapi tidak mudah direalisasikan tanpa strategi dan program aksi yang jelas. Presiden dan kabinet akan diuji kemampuan dan kapasitasnya dalam memenuhi dan mewujudkan berbagai janji yang telah diucapkan. Memang tidak mudah, apalagi ruang fiskal yang tersedia sangat sempit. Tidak seluruh program yang diinginkan dapat dilaksanakan dalam waktu dekat. Karena itu ,Presiden beserta para menteri perlu menentukan program prioritas serta sumber-sumber pembiayaan yang paling rasional.

Tugas berat menanti Presiden Joko Widodo dan kabinetnya. Kita menunggu dan berharap mereka mampu menyusun program-program pembangunan yang tepat serta melaksanakannya dengan efektif. Keberhasilan mereka juga akan tergantung pada dukungan seluruh rakyat Indonesia. Konflik politik tidak perlu diperpanjang. Kita harus memulai lembaran baru untuk membangun Indonesia baru, Indonesia yang Hebat!

Write a comment...
awesome comments!

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Galeri Editorial