header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
EDITORIAL4

Rekonstruksi Kementerian Luar Negeri

TIDAK bisa dimungkiri, dalam lima tahun terakhir kebijakan Kementerian Luar Negeri RI dengan prinsip “one thousand friends and zero enemy”, telah banyak menimbulkan kebingungan, baik di kalangan internal korps diplomatik Indonesia maupun negara sahabat. Mungkin akibat prinsip zero enemy, berbagai pelanggaran serius sejumlah negara tidak ditanggapi dengan tepat, meski sudah menyinggung martabat dan harga diri bangsa Indonesia.

Misalnya kasus penyadapan telepon presiden dan para pejabat tinggi Indonesia oleh dinas intelijen Australia. Begitu pula kasus pembangunan mercu suar oleh Malaysia,  kasus-kasus Tenaga Kerja Indonesia di Timur Tengah, Singapura, dan sebagainya, yang menjadikan kita sulit berbangga diri sebagai suatu bangsa.

 

Kini, pemerintah Presiden Joko Widodo telah menunjuk Retno LP Marsudi sebagai Menteri Luar Negeri. Ia menorehkan sejarah baru sebagai perempuan pertama Indonesia yang menjadi Menteri Luar Negeri. Bahkan, di kalangan negara anggota ASEAN, dia merupakan satu-satunya perempuan yang menjadi menteri luar negeri. Sebagai diplomat senior yang berpengalaman dalam kancah diplomasi RI, kemampuannya tidak perlu diragukan lagi. Gaya kepemimpinannya saat menjabat Dirjen Amerika–Eropa ataupun sebagai Duta Besar RI untuk Belanda sangat mengesankan. 

 

Kementerian Luar Negeri kini mewarisi sistem dan sumber daya yang sudah tertata rapi sejak Departemen berubah menjadi Kementerian, pada pasca-reformasi. Hanya saja tantangan yang dihadapi Menteri Luar Negeri saat ini sangat tidak ringan. Secara internal, dia harus menuntaskan reformasi birokrasi Kemenlu yang terhenti sejak lima tahun terakhir serta membangkitkan kembali semangat kerja Korps Diplomatik Republik Indonesia. Namun, secara menyeluruh adalah bagaimana Retno Marsudi mampu melakukan rekonstruksi politik luar negeri RI untuk mengimplementasikan visi Presiden Joko Widodo agar politik luar negeri yang lebih berperan aktif dan berwibawa di kawasan regional ASEAN maupun internasional serta kerjasama di bidang ekonomi dan perdagangan. Para diplomat RI sebagai ujung tombak Kemenlu dituntut mampu mempromosikan Indonesia ke manca-negara di berbagai bidang,  termasuk kebudayaan, dan yang terpenting ikut menjadikan RI sebagai poros maritim dunia.

 

Tidak mudah melakukan rekonstruksi arah politik luar negeri Indonesia secara internalPertama, mayoritas diplomat RI perlu meningkatkan pemahaman ekonomi, termasuk memahami dunia bisnis di negara tuan-rumahKeduadiperlukan kreativitas untuk memimpin KBRI serta kemampuan dan kapasitas untuk mengubah berbagai hambatan birokrasi. Walaupun demikian, dengan kerja keras dan kemampuan mendengarkan saran serta nasihat para diplomat senior dan berbagai pihak, upaya mentransformasi dan merekonstruksi Kantor Kementerian Luar Negeri di bawah menteri yang baru sangat mungkin berhasil. 

 

Modal utama kepemimpinan Retno Marsudi adalah fleksibilitaskeluwesan, dan siap bekerja sama dengan banyak pihak, serta dukungan semangat baru yang tumbuh di kalangan warga Pejambon (Kantor Kementerian Luar Negeri)Tak kalah pentingnya adalah tanggapan anggota parlemen dan politikus, sekalipun dari partai oposisi, yang menyambut baik kehadirannya sebagai orang nomor satu di Kementerian Luar Negeri. Modal dukungan positif itulah yang harus dioptimalkan Retno Marsudi untuk meningkatkan kinerja Kementerian Luar Negeri yang kini dipimpinnya agar visi pemerintahan Joko Widodo terwujud. 

Write a comment...
awesome comments!
Djoko Susilo

Mulai menulis di blog, untuk menuangkan pemikiran-pemikiran pribadi saya sekedar melawan lupa dan berbagi cerita sekaligus mencatat jejak langkah kaki saya di ranah dunia maya. Blog ini juga saya maksudkan sebagai wahana untuk mendokumentasikan tulisan-tulisan saya sebelumnya yang tersebar di berbagai media.

Untuk berdiskusi atau sekedar meninggalkan jejak, silahkan tinggalkan komentar, pertanyaan dan saran di tulisan-tulisan saya tersebut. Komentar juga merupakan tempat untuk menyatakan ketidaksetujuan terhadap tulisan saya, sekaligus tempat hak jawab terhadap ketidaksetujuan tersebut.

Latest from Djoko Susilo

1 comment

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Galeri Editorial