header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
EDITORIAL4

Realisme ala Joko Widodo

TIDAK dapat dimungkiri, Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla pasti mengalami kesulitan memilih orang yang akan menjadi menteri dan membantu mereka selama lima tahun ke depan. Pengumuman yang berlangsung pada hari Minggu, 26 Oktober 2014, sekaligus memberikan nama terhadap kabinet yang baru yaitu Kabinet Kerja. Jutaan telinga dan mata yang mendengar dan melihat pun banyak mendiskusikan komposisi kabinet itu. Perlahan namun pasti Kabinet Kerja akan berubah menjadi kerja kabinet.

Bagi Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, kerja bukanlah hal yang menakutkan. Bahkan, mereka dapat dikatakan sebagai orang-orang yang sangat giat bekerja, sehingga tidak salah jika falsafah hidupnya adalah “saya bekerja, maka saya ada.” Dengan perspektif seperti itu, Joko Widodo jelas ingin menunjukkan bahwa alam dunia mereka berbeda dengan alam pemerintahan sebelumnya, karena mereka sangat memahami ada persoalan riil yang sedang dihadapi bangsa Indonesia. Ada kesan bahwa untuk menjawab tantangan riil, maka diperlukan juga instrumen yang riil. Untuk itulah kata “kerja” seperti menjadi sangat bermakna bagi Joko Widodo. Bagi masyarakat Indonesia yang terbiasa memiliki waktu kerja yang lama dengan tingkat upah yang rendah, pertemuan antara presiden dengan orientasi yang riil dengan persoalan bangsa yang riil tentu bukan hal yang setiap saat dapat ditemui, sehingga ini menjadi peristiwa besar yang luar biasa.

Di tengah kebanyakan orang yang sulit membedakan antara ilusi dan riil, presiden yang sering turun ke jalan dan masuk ke dalam got dan comberan seolah berani menerima tantangan yang sebenarnya, yang selama ini menjadi momok bagi para pemimpin tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia. Kita tentu juga mengharapkan agar kabinet yang sekarang adalah kabinet yang juga berani masuk selokan dan bahkan tempat sampah. Mungkin itulah wujud Trisakti masa kini. Tentu sangatlah berbeda “menjadi Bung Karno” masa kini dan “menjadi” Bung Karno saat itu, karena tantangan yang ada tentu berbeda dan bisa jadi jauh lebih sukar.

Setelah persoalan eksistensi politik beres, ada dua tantangan riil dalam ekonomi yang harus dijawab oleh Joko Widodo dan pemerintahannya, yaitu de-industrialisasi dan finansialisasi. Meskipun Indonesia telah mengalami pergantian rezim pemerintahan, tetapi tetap belum berhasil menggapai proses industrialisasi. Akibatnya, pola produksi sektoral tidak efisien, tingkat inovasi rendah dan dominasi tenaga kerja non-ahli.

Proses de-industrialisasi tersebut tidak berjalan sendirian karena disertai oleh proses finansialisasi, yaitu dominasi sektor keuangan dan turunannya dalam perekonomian. Akibatnya, tingkat keuntungan terus merosot terutama pada periode liberalisasi. Sebaliknya, tingkat keuntungan negara maju justru semakin naik pada periode finansial sebelum krisis tahun 2005-2009 di Amerika Serikat dan di Eropa. Selain itu, harga-harga melambung tinggi di Indonesia menjadi tidak terkontrol disertai oleh eksploitasi dan penyelundupan sumber daya alam.

Joko Widodo beserta kabinet kerjanya tentu diharapkan bekerja maksimal menghadapi problem struktural tersebut. Persoalannya adalah apakah kapital-kapital fiktif tetap akan menjadi motor penggerak kerja Kabinet Kerja ini dengan tujuan-tujuan fiktif seperti tingkat pertumbuhan yang tidak memberikan keuntungan apa pun bagi bangsa Indonesia? Jika tidak, proses yang sedang berlangsung tetap tidak mudah karena negara-negara maju telah menyadari kekeliruan yang ada dan juga mulai menuju pada re-industrialisasi, sehingga persaingan tentu akan semakin tajam. Bon courage, Pak Jokowi!!

Write a comment...
awesome comments!
Fachru N Bakarudin

Menyelesaikan pendidikan S1 di Departemen Filsafat Universitas Indonesia dan Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, S2 di Université Paris 10 Nanterre dan Ph.D di Maison des Sciences Economiques, Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne dengan judul disertasi “Proses Pembangunan dan Industrialisasi di Indonesia dan Perbandingannya dengan Cina dan India Periode 1945-2013”. Meraih penghargaan sebagai best dissertation dari AFIDES (Association Franco-Indonésien pour les Dévéloppement des Sciences) tahun 2013.

Pernah bekerja sebagai ekonom untuk kawasan Asia di OECD Development Centre, Paris, Prancis. Makalah diterima dan Narasumber dalam berbagai konferensi dan seminar internasional seperti African Program for Rethinking Development Economics, 55Bandung55 Conference, International Initiatives for Promoting Political Economy, International Input-Output Associations Conference, Energy Economics International Conference dan Indonesian Conference on Economic Development.

Buku yang sudah dipublikasikan: Pendekatan Ekonomi Heterodox. Publikasi internasional yang sudah diterbitkan: “Changement Politique Economique Institutionnel en Indonésie Période 1945-2013” (Marché et Organisation). Beberapa karya ilmiah yang akan dipublikasikan: “Profit Rate Analysis in Indonesia, China and India,” “Growth Regime Analysis in Indonesia, China and India,” “Liberalization and Its Impact on Structural Changes in Indonesia, China and India,” “Connectivity Analysis in Indonesia, China and India,” “Industrialization and Energy Savings Behaviour,” dan “Industrialization and Emissions Increase in Indonesia, China and India.”

1 comment

  • Toety Arriany
    Toety Arriany Jumat, 31 Oktober 2014 10:39 Comment Link

    Tepat banget, selama ini banyak hasil fiktif yg dimunculkan seolah olah "berhasil hebat" semoga para "penggila kerja" mampu memberikan perubahan nyata. Tunjukkan hasil nyata bukan kamoflase. Rakyat Indonesia menanti realitas, bukan janji. Bravo selamat bertugas

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Galeri Editorial