header0
Knowledge Resources | Strategic Solutions
EDITORIAL4

Oposisi

EFORIA sudah selesai. Pemerintahan baru segera terbentuk. Maka, slogan segera diganti program. Reputasi pemerintah ada pada prestasinya, yaitu kerja cepat dan kerja benar. Ideologi akan didera oleh metodologi. Headline akan dikejar oleh deadline. Artinya, politik tak lagi ada di jalanan. Kebijakan pemerintah akan ditagih sesuai janji kampanye. Di situ program pemerintah akan diuji konsistensi ideologisnya oleh para pendukung populisnya. Tetapi yang lebih berat sesungguhnya adalah ujian pihak oposisi terhadap kapasitas politik dan kapabilitas teknokratik pemerintahan baru ini. Di situ metodologi memerintah diuji.

Pada tingkat itu, legitimasi tak dapat lagi disuplai oleh hiruk pikuk politik relawan, karena tak mungkin kelas menengah kota akan terus menjadi babysitter bagi pemerintah yang sudah mampu berjalan. Lobi dan kecerdikan manuver adalah satu-satunya peralatan untuk menghindari halangan oposisi.

Tetapi juga di situ pragmatisme sangat mudah mengarahkan demokrasi ke dalam ruang transaksi oligarki. Potensi inilah yang justeru harus dicegah, pertama-tama oleh para pendukung pemerintahan baru, bila fondasi etik demokrasi memang sungguh-sungguh dimaksudkan menjadi nilai utama perjuangan politik.

Tetapi lagi-lagi, kehendak semacam itu sangat mengandaikan adanya kekuasaan otonom presiden baru. Yaitu bahwa ia mampu berjarak secara etik dari lingkungan politik yang membesarkannya. Ini soal yang menjadi taruhan publik hari-hari ini.

Ekspektasi sangat tinggi, tapi realitas tak sepenuhnya cerah. Oposisi dapat ditransaksikan. Tetapi kebutuhan hidup riil mayarakat tak dapat ditunda. Ketersediaan enerji dan stabilitas harga pangan adalah penentu kedamaian sosial yang sesungguhnya. Dalam psikologi politik itu kita memandang pemerintahan baru ini ke depan: apakah prinsip ideologi awal tentang kerakyatan dan kemandirian bangsa dapat teguh berhadapan dengan kekuasaan kartel dan mafia ekonomi?

Kabinet segera bekerja. Ketegangan politik sedikit mencair setelah Joko Widodo bertemu dengan kubu oposisi. Tetapi pertemuan dengan Aburizal Bakrie dan Prabowo Subianto itu tentu terlalu sederhana untuk dibaca sebagai rekonsiliasi politik. Bahkan mungkin yang terbaca adalah strategi politik cerdik kubu oposisi untuk memperlihatkan kedewasaan dan kematangan politiknya. Dan nampaknya publik memberi pujian terhadap langkah politik kubu oposisi itu. Bila demikian, ada tambahan legitimasi lagi pada pihak oposisi.

Nampaknya, politik memang akan mulai dengan fakta bahwa kekuasaan oposisi telah terbentuk melalui Pemilu, dan akan berlanjut melalui keahlian mengolah pragmatisme. Artinya, politik tidak akan tumbuh dalam imperatif etis.

Memang, demokrasi juga adalah public goods. Tapi kini ia tidak gratis. Kekuasaan telah menjadi barang mahal. Bisnis diinvestasikan di situ. Dan keserakahan selalu menuntut lebih. ***

Write a comment...
awesome comments!
Rocky Gerung

Rocky Gerung dilahirkan di Manado, Sulawesi Utara, 20 Januari 1959. Menempuh studi dan memperoleh gelar Sarjana Sastra dari Universitas Indonesia. Staf pengajar di Departemen Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI) ini aktif menulis di pelbagai media massa. Menjadi fellow pada Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) sejak 2006 dan turut mendirikan SETARA Institute (2007), sebuah perkumpulan yang didedikasikan bagi pencapaian cita-cita di mana setiap orang diperlakukan setara dengan menghormati keberagaman, mengutamakan solidaritas, dan bertujuan memuliakan manusia. Dia juga aktif mendorong pemikiran etis di Solidaritas Masyarakat Indonesia untuk Keadilan (SMI Keadilan).

Latest from Rocky Gerung

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

Galeri Editorial